Sebagai artikel utama, Majalah InfoLINUX edisi 09/2012 memaparkan secara menarik cara mengembangkan bisnis di ranah internet atau online. Sebagai contoh, dipilih aplikasi Shopware Community yang dapat digunakan untuk membantu memasarkan produk-produk secara daring (online). Kolom Editorial mengangkat topik serupa dan mengajak Anda untuk berani berbisnis memanfaatkan Open Source Software (OSS) yang disebutkan mulai dilirik oleh baik perusahaan-perusahaan besar maupun kecil untuk meraup keuntungan signifikan.
Salah satu contoh adlah kisah sukses yang dimuat di kolom Profil InfoLINUX bulan September: "WGS, Sukses Bisnis Pengembangan Software dengan Linux."
Kolom Berita Aktual mewartakan tentang: "RED HAT Mulai Pasarkan RHEV", "Biznet Luncurkan Biznet Technovillage", dan "Serunya Acara INAICTA 2012" dan "Fitur-Fitur Baru Ubuntu 12.10".
Di rubrik Opini, Bapak Budi Harardjo mengeluhkan soal: "Software House, Hidup Segan Mati Tak Mau", sedangkan Bapak Michael S. Sunggiardi mengkaitkan: "Komputasi Awan dan Bisnis ISP", sementara Bapak I Made Wiryana menulis tentang: "SmartTV Berbasis Android".
Setelah pembahasan surat surat Anda, rubrik Tes & Review membandingkan produk produk "Free E-Commerce".
Dua distro Linux yang mendapatkan perhatian khusus di bulan September adalah: Bodhi Linux 2.0 dan OS4 12.5. Sementara untuk software Game terpilih: AssaultCube 1.1.0.4 dan Mega Mario 1.7 untuk dibedah kali ini.
Ulasan publikasi open source membahas tiga buku: Hacking Exposed 7, Linux Bible dan Wordpress & Nginx.
Sebagai Software Pilihan diulas aplikasi-aplikasi: eGroupWare 1.8.004, Mozilla Firefox 14.0.1, PDFCube 0.0.5, Yoda Soccer 0.77, StoreMan 2.00, Ubuntu Builder 2.1.1, GnomishGray Jul 21 2012, Skype 4.0.0.8, Phoronix Test Suite 4.0.0, Lince 1.3, VLC 2.0.3, HandBrake 0.9.8 dan Quamachi 0.6.1.
Kegiatan dari lingkungan Komunitas mengulas tentang acara: "KPLI Malang Jadi Tuan Rumah ILC 2012", dan "KPLI Padang Seminar Linux di Kab Dharmasraya".
Untuk melengkapi rubrik Praktik Instan dibahas "Wireshark: Analisis Jaringan Anda". Di rubrik Net Admin ditulis bagaimana: "Mudahnya Instalasi LAMP di Fedora 17", disamping mengaktualisasi "Daftar Warnet Berbasis Linux di Indonesia".
Topik yang menjadi pilihan untuk rubrik Tutorial bulan ini membahas tentang: "Revelation: Amankan Password", "Membangun Host Virtualisasi Di Atas Server Apple XServe 3.1", "Membuat Widget Halaman Utama Android", dan "Membuat Aplikasi Modular".
Sebagai materi bahasan untuk Workshop tersedia tulisan tentang: " Nitro Task Management", "Membuat Jam Dinding", "Handouts PDF LibreOffice Impress", "Format Penomoran Berbeda", "Penggunaan Particles dan Physics", dan "Menjadi “Dokter Disk” dengan Parted Magic"
Kisah dibalik artikel-artikel tersebut dapat disimak disitus: http://infolinux.web.id.
Minggu, 30 September 2012
Sabtu, 29 September 2012
Slackware 14.0 Telah Rilis
Patrick Volkerding mengumumkan terbitnya salah satu distribusi Linux tertua yang masih aktif sampai saat ini. Slackware 14.0 yang baru dirilis mengemas versi Kernel 3.2.29 berikut lingkungan desktop Xfce 4.10 dan KDE SC 4.8.5.
Sekitar tujuh belas bulan diperlukan untuk mengembangkan Slackware 14 yang merupakan peningkatan dari versi 13.37 sebelumnya, atau nyaris tiga tahun setelah keberadaan versi Slackware 13.0. Pimpro Patrick Volkerding yang sejak awal mengawal perjalanan Slackware mengakui bahwa waktu pengembangan versi ini relatif panjang, dan dengan demikian banyak hal yang terjadi seputar pengembangan Linux seperti Kernel Linux yang telah ditingkatkan ke versi 3.x, ketersediaan versi X.org X11R7.7 dan Firefox yang berkali-kali telah ditingkatkan dan kin telah mencapai versi 15.
Paket-paket software lain yang disertakan termasuk Clang, yaitu kompailer C/C++ berbasis LLVM, tanpa melupakan penyertaan kompailer GCC. Menurut Patrick Volkerding, semua komponen-komponen tersebut telah diuji coba secara intensif sebagai bagian dari dukungan jangka panjang yang ditawarkan distro Slackware yang memiliki tradisi berorientasi pada motto: 'simplicity, stability, and security'. Versi tertua Slackware yang saat ini masih mendapatkan dukungan perbaikan keamanan adalah versi Slackware 12.1.
Bila dibandingkan dengan versi Slackware 13.37, maka segudang pembaruan dan peningkatan telah dilakukan untuk versi Slackware 14.0. Diantaranya termasuk desktop Xfce 4.10, KDE SC 4.8.5 dan suit office Calligra 2.4.3. Peningkatan lainnya adalah pada paket-paket X.org 7.7, X-Server 1.12.3, glibc 2.15, Bash 4.2.24, Gimp 2.8.2, Firefox 15.0.1 (dan sebagai opsi juga Google Chrome), Thunderbird 15.0.1 dan SeaMonkey 2.12.1. Dengan alasan politik lisensi Oracle yang kurang mendukung, Slackware telah menyingkirkan JDK 6 dan mulai versi ini tidak lagi menyediakan lingkungan pengembangan Java yang dibundel bersama penerbitan distro ini.
Mendukung para pengguna yang mengembangkan software, Slackware telah menyertakan kompailer GCC 4.7.1, bahasa pemrograman Perl 5.16.1, PHP 5.4.7, Python 2.7.3, Ruby 1.9.3-p194, disamping Subversion 1.7.6, Git 1.7.12.1, MySQL 5.5.25a dan Apache 2.4.3. Software lainnya seperti Samba 3.6.8, CUPS 1.5.4, vsftpd 3.0.2 dan BIND 9.9.1 P3 juga merupakan bagian dari Slackware versi ini. Semua paket software tersebut dapat dikelola menggunakan perkakas pemaketan Slackpkg yang disediakan dalam versi terbaru. Daftar pembaruan selengkapnya dapat ditelusuri di dokumen Changelog yang diterbitkan untuk versi Slackware ini.
Distro yang masih tegar ini merupakan distro yang minimalis yang menyediakan sekitar 1150 paket software. Desktop Gnome yang cukup popular resminya tidak didukung langsung oleh proyek dibawah pimpinan Patrick Volkerding, namun bagi yang ingin menggunakan Gnome tersedia solusinya pada proyek Gnome-Slackbuild. Slackware memiliki komunikas pendukung, pengguna dan pengembira yang cukup luas termasuk sejumlah penyedia paket software tidak resmi seperti slackbuilds.org.
Kecuali menggunakan tools seperti slapt-get, update atau instalasi Slackware dapat dilakukan menggunakan media CD/DVD yang resmi dirilis. Seperti di hampir semua distro, proyek Slackware telah menerbitkan media untuk versi Slackware 14.0 berupa 6 CD dan/atau 1 DVD untuk masing-masing platform Intel (AMD) dengan arsitektur 32 dan 64 bit, sementara koleksi kode sumbernya (source code) dikemas terpisah dalam satu media DVD. Prosesor lain yang didukung Slackware 14.0 adalah ARM, yang telah menambahkan dukungan untuk dua platform baru yaitu TrimSlice Pro (NVidia Tegra CPU) dan Raspberry Pi. Keterangan lebih rinci dapat disimak disitus khusus http://www.armedslack.org.
Sekitar tujuh belas bulan diperlukan untuk mengembangkan Slackware 14 yang merupakan peningkatan dari versi 13.37 sebelumnya, atau nyaris tiga tahun setelah keberadaan versi Slackware 13.0. Pimpro Patrick Volkerding yang sejak awal mengawal perjalanan Slackware mengakui bahwa waktu pengembangan versi ini relatif panjang, dan dengan demikian banyak hal yang terjadi seputar pengembangan Linux seperti Kernel Linux yang telah ditingkatkan ke versi 3.x, ketersediaan versi X.org X11R7.7 dan Firefox yang berkali-kali telah ditingkatkan dan kin telah mencapai versi 15.
Paket-paket software lain yang disertakan termasuk Clang, yaitu kompailer C/C++ berbasis LLVM, tanpa melupakan penyertaan kompailer GCC. Menurut Patrick Volkerding, semua komponen-komponen tersebut telah diuji coba secara intensif sebagai bagian dari dukungan jangka panjang yang ditawarkan distro Slackware yang memiliki tradisi berorientasi pada motto: 'simplicity, stability, and security'. Versi tertua Slackware yang saat ini masih mendapatkan dukungan perbaikan keamanan adalah versi Slackware 12.1.
Bila dibandingkan dengan versi Slackware 13.37, maka segudang pembaruan dan peningkatan telah dilakukan untuk versi Slackware 14.0. Diantaranya termasuk desktop Xfce 4.10, KDE SC 4.8.5 dan suit office Calligra 2.4.3. Peningkatan lainnya adalah pada paket-paket X.org 7.7, X-Server 1.12.3, glibc 2.15, Bash 4.2.24, Gimp 2.8.2, Firefox 15.0.1 (dan sebagai opsi juga Google Chrome), Thunderbird 15.0.1 dan SeaMonkey 2.12.1. Dengan alasan politik lisensi Oracle yang kurang mendukung, Slackware telah menyingkirkan JDK 6 dan mulai versi ini tidak lagi menyediakan lingkungan pengembangan Java yang dibundel bersama penerbitan distro ini.
Mendukung para pengguna yang mengembangkan software, Slackware telah menyertakan kompailer GCC 4.7.1, bahasa pemrograman Perl 5.16.1, PHP 5.4.7, Python 2.7.3, Ruby 1.9.3-p194, disamping Subversion 1.7.6, Git 1.7.12.1, MySQL 5.5.25a dan Apache 2.4.3. Software lainnya seperti Samba 3.6.8, CUPS 1.5.4, vsftpd 3.0.2 dan BIND 9.9.1 P3 juga merupakan bagian dari Slackware versi ini. Semua paket software tersebut dapat dikelola menggunakan perkakas pemaketan Slackpkg yang disediakan dalam versi terbaru. Daftar pembaruan selengkapnya dapat ditelusuri di dokumen Changelog yang diterbitkan untuk versi Slackware ini.
Distro yang masih tegar ini merupakan distro yang minimalis yang menyediakan sekitar 1150 paket software. Desktop Gnome yang cukup popular resminya tidak didukung langsung oleh proyek dibawah pimpinan Patrick Volkerding, namun bagi yang ingin menggunakan Gnome tersedia solusinya pada proyek Gnome-Slackbuild. Slackware memiliki komunikas pendukung, pengguna dan pengembira yang cukup luas termasuk sejumlah penyedia paket software tidak resmi seperti slackbuilds.org.
Kecuali menggunakan tools seperti slapt-get, update atau instalasi Slackware dapat dilakukan menggunakan media CD/DVD yang resmi dirilis. Seperti di hampir semua distro, proyek Slackware telah menerbitkan media untuk versi Slackware 14.0 berupa 6 CD dan/atau 1 DVD untuk masing-masing platform Intel (AMD) dengan arsitektur 32 dan 64 bit, sementara koleksi kode sumbernya (source code) dikemas terpisah dalam satu media DVD. Prosesor lain yang didukung Slackware 14.0 adalah ARM, yang telah menambahkan dukungan untuk dua platform baru yaitu TrimSlice Pro (NVidia Tegra CPU) dan Raspberry Pi. Keterangan lebih rinci dapat disimak disitus khusus http://www.armedslack.org.
Sabtu, 15 September 2012
25 Tahun Sistem Jendela X11
Tanggal 15 September dua puluh lima tahun yang lampau, diletakkan fondasi dari konsep sebuah sistem jendela yang kemudian menjadi basis
sistem X11 dan sampai hari ini masih tetap berlaku.
Sistem yang juga dikenal sebagai X-Windows (atau X11 atau X) itu, tidak lain dari sebuah sistem grafis dan "windowing" yang awalnya dicanangkan untuk sistem operasi UNIX dan sistem-operasi-mirip-UNIX lainnya termasuk Linux dan Mac OS X. X-Windows dikembangkan di Massachusetts Institute of Technology (MIT) sejak tahun 1984. Pada tanggal 15 September 1987 tim yang dipimpin Robert Scheifler dan Jim Gettys dari MIT meluncurkan versi perdana dari X11.
Sejatinya, X11 adalah sebuah penjelmaan berilut peningkatan untuk protokol X yang digunakan untuk mendefinisikan Sistem Jendela X (X Window System). Ketika diluncurkan, secara sepintas terlihat seolah sistem X ini hanya merupakan penyempurnaan dari sistem X10 sebelumnya, namun sebenarnya ia telah dibekali banyak perubahan yang cukup mendasar. Salah satu karakter terpanting X11 adalah: bahwa sistem jendela ini telah bebas dari ketentuan konfigurasi perangkat keras.
Perjalanan pembuatan penampilan komputer "Bitmap-Displays" sebenarnya telah dimulai sejak dasawarsa 1970an, sejalan dengan pengembangan Xerox PARC yang telah menampung banyak idea baru. Diantara beberapa sistem yang dikembangkan saat itu adalah termasuk sistem jendela W yang dijalankan di sistem operasi V yang sekarang nyaris dilupakan. Sebagai lanjutan dan pengganti dari sistem W yang dirintis MIT sejak 1984, kemudian dikembangkan sistem jendela X bersama perusahan IBM dan DEC dibawah proyek Athena, yang dari namanya merupakan huruf terusan huruf W dari urutan alphabet.
Setelah penerbitan versi perdana X dengan kode X1, tidak lama kemudian disusul beberapa versi berikutnya, termasuk versi X6 yang dirilis pada tahun 1985 membawa sejumlah fungsionalitas baru dan X9 juga merupakan versi pertama yang mengadopsi lisensi MIT. Pada tahun yang sama masih sempat merilis versi X10 yang disusul dengan 4 kali pembaruan sampai dengan versi X10R4 yang berkelanjutan selama dua tahun berikutnya.
Setelah peluncuran X11 dua puluh lima tahun yang lalu, versi X11 tetap bertahan sampai hari ini dan selama ini secara berkala mendapatkan banyak perbaikan dan peningkatan yang jumlahnya tak terhitung lagi. X11 mampu bertahan berkat kinerja dan ketanguhannya, terutama kemampuannya senantiasa mengimbangi perkembangan hardware yang luar biasa pesatnya dalam kurun waktu yang sama.
Rahasia kemampuan X11 duduga berkat konsep modularitas yang dimilikinya, yang memungkinkan banyak pengembang serentak melakukan perbaikan dan peningkatan di masing-masing modul, tanpa mengganti modul disekitarnya.
Sebagian besar pengembangan Sistem Jendela X dilaksanakan oleh konsorsium X (X Consortium) yang dibiayai oleh industri pembuat sistem komputer Unix. Untuk memindahkan atau portasi ke sistem operasi bebas seperti Linux dan BSD didirikan proyek XFree86, yang secara bertahap melakukan pemindahan, dan sejak X11R6.4 sepenuhnya bertanggung jawab atas pengembangan sistem X ini.
Pengembangan dibawah proyek XFree86 berlangsung sampai dengan tahun 2003 ketika terganggu atas kesalah pahaman sejumlah pengembangnya yang melakukan perubahan atas lisensi bebas yang dianutnya. Hal ini kemudian menuai perpecahan dengan pembentukan institusi baru bernama X.org yang meneruskan tradisi kebebasan. Proyek X.org sampai saat ini tetap aktif disokong oleh relawan pengembang, sementara pengembangan proyek XFree86 lambat laun menyurut dan akhirnya tidak aktif lagi.
Sekilas tentang Sistem Jendela X:
Sistem Jendela X (X Window Systems) terdiri dari modul dan protokol guna membangun sebuah Antarmuka pengguna grafis atau APG (Graphical User Interface atau GUI). Hal itu termasuk penampilan jendela grafis pada monitor, seperti juga memroses interaksi pengguna dengan tetikus dan papan ketik. X tidak mementukan antamuka khusus dan untuk itu digunakan program dari klien. Dengan demikian, sistem lingkungan yang dibangun menggunakan X sebagai basis dapat memiliki penampilan yang satu dengan lainnya sangat berbeda. Dengan bantuan lingkungan desktop atau 'Desktop Environments' seperti misalnya KDE, GNOME, Xfce dan banyak lainnya, dapat dibangun desktop moderen yang ditenagai menggunakan Sistem Jendela X.
Sistem yang juga dikenal sebagai X-Windows (atau X11 atau X) itu, tidak lain dari sebuah sistem grafis dan "windowing" yang awalnya dicanangkan untuk sistem operasi UNIX dan sistem-operasi-mirip-UNIX lainnya termasuk Linux dan Mac OS X. X-Windows dikembangkan di Massachusetts Institute of Technology (MIT) sejak tahun 1984. Pada tanggal 15 September 1987 tim yang dipimpin Robert Scheifler dan Jim Gettys dari MIT meluncurkan versi perdana dari X11.
Sejatinya, X11 adalah sebuah penjelmaan berilut peningkatan untuk protokol X yang digunakan untuk mendefinisikan Sistem Jendela X (X Window System). Ketika diluncurkan, secara sepintas terlihat seolah sistem X ini hanya merupakan penyempurnaan dari sistem X10 sebelumnya, namun sebenarnya ia telah dibekali banyak perubahan yang cukup mendasar. Salah satu karakter terpanting X11 adalah: bahwa sistem jendela ini telah bebas dari ketentuan konfigurasi perangkat keras.
Perjalanan pembuatan penampilan komputer "Bitmap-Displays" sebenarnya telah dimulai sejak dasawarsa 1970an, sejalan dengan pengembangan Xerox PARC yang telah menampung banyak idea baru. Diantara beberapa sistem yang dikembangkan saat itu adalah termasuk sistem jendela W yang dijalankan di sistem operasi V yang sekarang nyaris dilupakan. Sebagai lanjutan dan pengganti dari sistem W yang dirintis MIT sejak 1984, kemudian dikembangkan sistem jendela X bersama perusahan IBM dan DEC dibawah proyek Athena, yang dari namanya merupakan huruf terusan huruf W dari urutan alphabet.
Setelah penerbitan versi perdana X dengan kode X1, tidak lama kemudian disusul beberapa versi berikutnya, termasuk versi X6 yang dirilis pada tahun 1985 membawa sejumlah fungsionalitas baru dan X9 juga merupakan versi pertama yang mengadopsi lisensi MIT. Pada tahun yang sama masih sempat merilis versi X10 yang disusul dengan 4 kali pembaruan sampai dengan versi X10R4 yang berkelanjutan selama dua tahun berikutnya.
Setelah peluncuran X11 dua puluh lima tahun yang lalu, versi X11 tetap bertahan sampai hari ini dan selama ini secara berkala mendapatkan banyak perbaikan dan peningkatan yang jumlahnya tak terhitung lagi. X11 mampu bertahan berkat kinerja dan ketanguhannya, terutama kemampuannya senantiasa mengimbangi perkembangan hardware yang luar biasa pesatnya dalam kurun waktu yang sama.
Rahasia kemampuan X11 duduga berkat konsep modularitas yang dimilikinya, yang memungkinkan banyak pengembang serentak melakukan perbaikan dan peningkatan di masing-masing modul, tanpa mengganti modul disekitarnya.
Sebagian besar pengembangan Sistem Jendela X dilaksanakan oleh konsorsium X (X Consortium) yang dibiayai oleh industri pembuat sistem komputer Unix. Untuk memindahkan atau portasi ke sistem operasi bebas seperti Linux dan BSD didirikan proyek XFree86, yang secara bertahap melakukan pemindahan, dan sejak X11R6.4 sepenuhnya bertanggung jawab atas pengembangan sistem X ini.
Pengembangan dibawah proyek XFree86 berlangsung sampai dengan tahun 2003 ketika terganggu atas kesalah pahaman sejumlah pengembangnya yang melakukan perubahan atas lisensi bebas yang dianutnya. Hal ini kemudian menuai perpecahan dengan pembentukan institusi baru bernama X.org yang meneruskan tradisi kebebasan. Proyek X.org sampai saat ini tetap aktif disokong oleh relawan pengembang, sementara pengembangan proyek XFree86 lambat laun menyurut dan akhirnya tidak aktif lagi.
Sekilas tentang Sistem Jendela X:
Sistem Jendela X (X Window Systems) terdiri dari modul dan protokol guna membangun sebuah Antarmuka pengguna grafis atau APG (Graphical User Interface atau GUI). Hal itu termasuk penampilan jendela grafis pada monitor, seperti juga memroses interaksi pengguna dengan tetikus dan papan ketik. X tidak mementukan antamuka khusus dan untuk itu digunakan program dari klien. Dengan demikian, sistem lingkungan yang dibangun menggunakan X sebagai basis dapat memiliki penampilan yang satu dengan lainnya sangat berbeda. Dengan bantuan lingkungan desktop atau 'Desktop Environments' seperti misalnya KDE, GNOME, Xfce dan banyak lainnya, dapat dibangun desktop moderen yang ditenagai menggunakan Sistem Jendela X.
Jumat, 07 September 2012
openSUSE 12.2 Kemas Linux 3.4 dan GRUB 2.0
openSUSE 12.2 telah tersedia, dibangun diatas versi Kernel Linux 3.4, glibc 2.15, Systemd 44, Gnome 3.4.2, KDE SC
4.8.4 dan Xfce 4.10. Berbekal komponen-komponen yang telah dioptimalkan
tersebut, openSUSE 12.2 diklaim bisa menjalankan proses start lebih
cepat dan lebih mudah digunakan. Jadwal peluncuran openSUSE 12.2 yang
terlambat sekitar dua bulan dan diluncurkan tanggal 5 September 2012
lalu, menurut pengembangnya mendapat pengujian lebih lama dan
menghasilkan produk yang lebih sempurna dan lebih stabil.
Walaupun banyak perbaikan telah dilakukan, versi Opensuse 12.2 tidak terlalu banyak membawa pembaruan maupun penambahan fitur baru dibandingkan dengan versi 12.1 sebelumnya. Pembaruan terpenting pada versi ini adalah peralihan menggunakan Grub 2 dan Plymouth disamping aktualisasi untuk semua peket software yang disertakan.
Pergantian Bootloaders dari Grub Legacy ke Grub 2 juga merupakan persiapan atas peluang nantinya bisa memenuhi standar UEFI. Walaupun demikian, belum dijamin apakah standar 'Secure Boot' yang akhir-akhir ini banyak dipersoalkan itu, bisa digunakan untuk versi 12.2.
Dibandingkan dengan distribusi Linux Ubuntu dan Fedora yang telah lama memanfaatkan Grub 2 berbasis teks dengan latar belakang satu warna, maka openSUSE menampilkannya lebih cantik dengan tema Grub yang khas. Modul Bootloader di YaST juga sekaligus telah diselaraskan dengan Grub 2. Untuk penampilan saat Systemstarts digunakan Plymouth yang meragakan dengan animasi.
Tim pengembang openSUSE juga melakukan modifikasi Gnome Shell pada versi Gnome 3.4 yang disertakan bersama versi kali ini. Sebagai contoh disebutkan bahwa pengguna bisa melakukan penyetelan pada koneksi WLAN tanpa perlu otorisasi sebagai administrator. Disamping aktivasi untuk opsi Tap-to-Click dan mematikan Touchpad saat menulis di papan ketik. Berkat pustaka grafis Mesa 8.0 berikut driver Llvmpipe bawaannya, maka Gnome-Shell juga bisa dimanfaatkan menggunakan hardware (kartu grafis) yang tidak memiliki kemampuan akselerasi 3D. Dalam modus ini, tugas kalkulasi untuk membuat efek 3D diambil alih oleh CPU.
Pada versi desktop KDE, tim pengembang openSUSE lebih mengutamakan stabilitas ketimbang aktualitas. Walaupun versi KDE SC 4.9 telah tersedia satu bulan sebelum peluncuran openSUSE 12.2, pengembangnya memilih penyertaan versi KDE SC 4.8.4. Versi ini memanfaatkan QtQuick berikut semua bagian dari bahasa pemrograman Qt Meta Object Language (disingkat QML). Komponen Plasma dari pustaka QML menyediakan API di KDE SC 4.8, yang digunakan untuk menyediakan obyek-obyek window yang acapkali diperlukan seperti untuk membuat tombol, slider, atau bar gulir (buttons, sliders, scroll bars) di sebuah aplikasi.
Disamping KDE SC 4.8, tersedia untuk fan KDE nostalgia versi khusus KDE 3.5.10 yang telah disesuaikan. Juga disertakan bersama openSUSE 12.2 adalah lingkungan desktop Xfce 4.10 yang tampilannya telah diperbaiki, disamping desktop LXDE yang telah ditingkatkan.
openSUSE 12.2 ditenagai menggunakan versi Kernel Linux 3.4 yang sejak versi openSUSE telah mendukung sistem berkas Btrfs dengan semua perbaikannya. Bila terjadi kesalahan pada sistem berkas kini mampu menampilkan pesan error sekaligus beralih ke modus read-only. Distribusi ini dibangun menggunakan kompailer GCC 4.7.1 yang mendukung standar C++11 dan C11, dan diklaim mampu meningkatkan kinerja openSUSE 12.2. Untuk versi Java juga telah dilakukan peningkatan dari versi 6 ke OpenJDK 7.
Bagi para pengembang disediakan perangkat Qt 4.8.1, seperti juga Glibc 2.15 yang telah dioptimalkan untuk arsitektur 64-Bit. Juga bahasa pemrograman Go 1.0.2 dari Google tersedia untuk distribusi ini.
Suit office yang dibundel bersama openSUSE 12.2 adalah Libreoffice 3.5.4 yang juga menyertakan Calligra-Suite 2.4.2 sebagai alternatif dan merupakan peket office besutan proyek KDE yang untuk kali pertama menggunakan nama barunya. Bersama media instalasi tersedia Firefox dan Thunderbird versi 14, sementara di lumbung repositorinya telah tersedia versi 15. Sebagai pengelola gambar tersedia versi Gimp 2.8 yang telah memiliki fitur jendela tunggal dan untuk memutar musik tersedia Musikplayer Tomahawk dan Pragha.
Agar OpenSuse 12.2 berjalan dengan baik, dipersyaratkan perangkat keras dengan prosesor minimal Pentium 4, dengan kecepatan minimal 2,4 GHZ atau yang lebih baru atau lebih tinggi. Memori kerja (RAM) disarankan tidak kurang dari 1 GByte. Spasi harddisk yang disarankan adalah minimal 5 GByte.
Media utama openSUSE 12.2 yang diterbitkan termasuk:
Walaupun banyak perbaikan telah dilakukan, versi Opensuse 12.2 tidak terlalu banyak membawa pembaruan maupun penambahan fitur baru dibandingkan dengan versi 12.1 sebelumnya. Pembaruan terpenting pada versi ini adalah peralihan menggunakan Grub 2 dan Plymouth disamping aktualisasi untuk semua peket software yang disertakan.
Pergantian Bootloaders dari Grub Legacy ke Grub 2 juga merupakan persiapan atas peluang nantinya bisa memenuhi standar UEFI. Walaupun demikian, belum dijamin apakah standar 'Secure Boot' yang akhir-akhir ini banyak dipersoalkan itu, bisa digunakan untuk versi 12.2.
Dibandingkan dengan distribusi Linux Ubuntu dan Fedora yang telah lama memanfaatkan Grub 2 berbasis teks dengan latar belakang satu warna, maka openSUSE menampilkannya lebih cantik dengan tema Grub yang khas. Modul Bootloader di YaST juga sekaligus telah diselaraskan dengan Grub 2. Untuk penampilan saat Systemstarts digunakan Plymouth yang meragakan dengan animasi.
Tim pengembang openSUSE juga melakukan modifikasi Gnome Shell pada versi Gnome 3.4 yang disertakan bersama versi kali ini. Sebagai contoh disebutkan bahwa pengguna bisa melakukan penyetelan pada koneksi WLAN tanpa perlu otorisasi sebagai administrator. Disamping aktivasi untuk opsi Tap-to-Click dan mematikan Touchpad saat menulis di papan ketik. Berkat pustaka grafis Mesa 8.0 berikut driver Llvmpipe bawaannya, maka Gnome-Shell juga bisa dimanfaatkan menggunakan hardware (kartu grafis) yang tidak memiliki kemampuan akselerasi 3D. Dalam modus ini, tugas kalkulasi untuk membuat efek 3D diambil alih oleh CPU.
Pada versi desktop KDE, tim pengembang openSUSE lebih mengutamakan stabilitas ketimbang aktualitas. Walaupun versi KDE SC 4.9 telah tersedia satu bulan sebelum peluncuran openSUSE 12.2, pengembangnya memilih penyertaan versi KDE SC 4.8.4. Versi ini memanfaatkan QtQuick berikut semua bagian dari bahasa pemrograman Qt Meta Object Language (disingkat QML). Komponen Plasma dari pustaka QML menyediakan API di KDE SC 4.8, yang digunakan untuk menyediakan obyek-obyek window yang acapkali diperlukan seperti untuk membuat tombol, slider, atau bar gulir (buttons, sliders, scroll bars) di sebuah aplikasi.
Disamping KDE SC 4.8, tersedia untuk fan KDE nostalgia versi khusus KDE 3.5.10 yang telah disesuaikan. Juga disertakan bersama openSUSE 12.2 adalah lingkungan desktop Xfce 4.10 yang tampilannya telah diperbaiki, disamping desktop LXDE yang telah ditingkatkan.
openSUSE 12.2 ditenagai menggunakan versi Kernel Linux 3.4 yang sejak versi openSUSE telah mendukung sistem berkas Btrfs dengan semua perbaikannya. Bila terjadi kesalahan pada sistem berkas kini mampu menampilkan pesan error sekaligus beralih ke modus read-only. Distribusi ini dibangun menggunakan kompailer GCC 4.7.1 yang mendukung standar C++11 dan C11, dan diklaim mampu meningkatkan kinerja openSUSE 12.2. Untuk versi Java juga telah dilakukan peningkatan dari versi 6 ke OpenJDK 7.
Bagi para pengembang disediakan perangkat Qt 4.8.1, seperti juga Glibc 2.15 yang telah dioptimalkan untuk arsitektur 64-Bit. Juga bahasa pemrograman Go 1.0.2 dari Google tersedia untuk distribusi ini.
Suit office yang dibundel bersama openSUSE 12.2 adalah Libreoffice 3.5.4 yang juga menyertakan Calligra-Suite 2.4.2 sebagai alternatif dan merupakan peket office besutan proyek KDE yang untuk kali pertama menggunakan nama barunya. Bersama media instalasi tersedia Firefox dan Thunderbird versi 14, sementara di lumbung repositorinya telah tersedia versi 15. Sebagai pengelola gambar tersedia versi Gimp 2.8 yang telah memiliki fitur jendela tunggal dan untuk memutar musik tersedia Musikplayer Tomahawk dan Pragha.
Agar OpenSuse 12.2 berjalan dengan baik, dipersyaratkan perangkat keras dengan prosesor minimal Pentium 4, dengan kecepatan minimal 2,4 GHZ atau yang lebih baru atau lebih tinggi. Memori kerja (RAM) disarankan tidak kurang dari 1 GByte. Spasi harddisk yang disarankan adalah minimal 5 GByte.
Media utama openSUSE 12.2 yang diterbitkan termasuk:
- sku-00.112.122.01 - openSUSE-12.2-KDE-LiveCD-i686
- sku-00.112.122.02 - openSUSE-12.2-GNOME-LiveCD-i686
- sku-00.112.122.11 - openSUSE-12.2-KDE-LiveCD-x86_64
- sku-00.112.122.12 - openSUSE-12.2-GNOME-LiveCD-x86_64
- sku-00.112.122.32 - openSUSE-12.2-Addon-NonOss-BiArch-i586-x86_64
- sku-00.112.122.51 - openSUSE-12.2-DVD-i586
- sku-00.112.122.61 - openSUSE-12.2-DVD-x86_64
- sku-00.112.122.52 - openSUSE-12.2-Addon-Lang-i586
- sku-00.112.122.62 - openSUSE-12.2-Addon-Lang-x86_64
Selasa, 04 September 2012
Ajang Acara Red Hat Forum 2012 di Jakarta
Bermitra dengan vendor HP dan Symantec, Red Hat menggelar forum diskusi
dan informasi seputar komputasi awan. Ajang acara yang berlangsung hari
Selasa minggu ini di Hotel Shangrilla menyampaikan informasi bagi yang
merencanakan migrasi infrastruktur TI dan aplikasi mereka ke awan
(Cloud), sementara tetap mengamankan investasi yang ada.
Topik utama yang dibahas di forum Red Hat ini mengungkapkan upaya peningkatan nilai bisnis di era baru TI dengan strategi yang mengadopsi awan hibrida (hybrid clouds) disamping memberdayakan platform, virtualisasi, Middleware dan storage.
Ajang acara Red Hat Forum 2012 di Jakarta diawali dengan sambutan oleh Mr. Dirk-Peter van Leeuwen, Vice President and General Manager, Red Hat Asia-Pacific, yang mengatisipasi kecenderungan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang membaik. Untuk itu, Mr. van Leeuwen menjanjikan dukungan dan komitmen pihak Red Hat sepenuhnya terhadap pasar dan pelanggan di Indonesia.
Acara dilanjutkan dengan Keynote yang pada dasarnya mengajak peserta membangun awan hibrida: 'Build Your Open Hybrid Cloud Today' dibawakan oleh Mr. Damien Wong - General Manager, Red Hat ASEAN.
Red Hat meyakini bahwa komputasi awan (Cloud computing) bukanlah sebuah revolusi melainkan evolusi dan perusahan dapat menentukan kapan saja memulai perjalannya menuju ke awan. Untuk itu Red Hat senantiasa akan menyediakan solusi yang cocok untuk masing-masing pelanggannya.
Mr. Damien mengutip peringatan yang pernah (2010) disampaikan oleh CEO Red Hat: James Whitehurst yang menyebutkan bahwa sebuah arsitektur Cloud harus menjamin aplikasi-aplikasi dapat dipindahkan kemana saja setiap saat, atau bila tidak maka ia bisa menjadi biang dari semua ketergantungan (the mother of all lock-ins). Agar hal tersebut dapat dihindarkan maka, - Red Hat yang mengaku sejak awal tetap berkomitmen terhadap Open Source, - telah menetapkan pilihannya untuk mengadopsi konsep hibrida sebagai sebuah 'Open Hybrid Cloud', dan mengajak pelanggannya berangkat ke awan sambil memberdayakan investasi infrastruktur TI yang ada.
Sekali lagi Mr. Damien Wong tampil sebagai moderator dalam acara 'Red Hat Forum Panel Discussion' yang bertemakan: 'Accelerate Business Results With Hybrid Cloud', menghadirkan prinsipal Mr. Erik Van Der Wurff - HP Principal Consultant Data Center Transformation and Cloud, APJ Region dan Mr. Michael Sladin - Director, Global Strategic Partners (Asia Pacific & Japan) Symantec Corporation berikut dua klien yang mewakili perusahan Plaza Indonesia dan Telkomsel.
Akhir dari sesi pertama diisi dengan acara 'The Quest For The Cloud' yang dibawakan oleh kedua prinsipal Mr. Erik Van Der Wurff dari HP dan Mr. Michael Sladin dari Symantec yang secara komprehensif menjelaskan produk mereka yang menjadi bagian dari dukungan untuk komputasi awan.
Setelah rehat, acara dibagi menjadi dua sesi yang masing-masing membahas 'Building An Intelligent and Integrated Enterprise with Red Hat', sementara sesi kedua membahas dua topik yaitu 'Mission Critical Server Redefined: The UNIX Killer' dibawakan oleh wakil dari Fujitsu dan 'Getting the Best Out of Red Hat Enterprise Linux in Your Cloud Environment'.
Topik utama yang dibahas di forum Red Hat ini mengungkapkan upaya peningkatan nilai bisnis di era baru TI dengan strategi yang mengadopsi awan hibrida (hybrid clouds) disamping memberdayakan platform, virtualisasi, Middleware dan storage.
Ajang acara Red Hat Forum 2012 di Jakarta diawali dengan sambutan oleh Mr. Dirk-Peter van Leeuwen, Vice President and General Manager, Red Hat Asia-Pacific, yang mengatisipasi kecenderungan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang membaik. Untuk itu, Mr. van Leeuwen menjanjikan dukungan dan komitmen pihak Red Hat sepenuhnya terhadap pasar dan pelanggan di Indonesia.
Acara dilanjutkan dengan Keynote yang pada dasarnya mengajak peserta membangun awan hibrida: 'Build Your Open Hybrid Cloud Today' dibawakan oleh Mr. Damien Wong - General Manager, Red Hat ASEAN.
Red Hat meyakini bahwa komputasi awan (Cloud computing) bukanlah sebuah revolusi melainkan evolusi dan perusahan dapat menentukan kapan saja memulai perjalannya menuju ke awan. Untuk itu Red Hat senantiasa akan menyediakan solusi yang cocok untuk masing-masing pelanggannya.
Mr. Damien mengutip peringatan yang pernah (2010) disampaikan oleh CEO Red Hat: James Whitehurst yang menyebutkan bahwa sebuah arsitektur Cloud harus menjamin aplikasi-aplikasi dapat dipindahkan kemana saja setiap saat, atau bila tidak maka ia bisa menjadi biang dari semua ketergantungan (the mother of all lock-ins). Agar hal tersebut dapat dihindarkan maka, - Red Hat yang mengaku sejak awal tetap berkomitmen terhadap Open Source, - telah menetapkan pilihannya untuk mengadopsi konsep hibrida sebagai sebuah 'Open Hybrid Cloud', dan mengajak pelanggannya berangkat ke awan sambil memberdayakan investasi infrastruktur TI yang ada.
Sekali lagi Mr. Damien Wong tampil sebagai moderator dalam acara 'Red Hat Forum Panel Discussion' yang bertemakan: 'Accelerate Business Results With Hybrid Cloud', menghadirkan prinsipal Mr. Erik Van Der Wurff - HP Principal Consultant Data Center Transformation and Cloud, APJ Region dan Mr. Michael Sladin - Director, Global Strategic Partners (Asia Pacific & Japan) Symantec Corporation berikut dua klien yang mewakili perusahan Plaza Indonesia dan Telkomsel.
Akhir dari sesi pertama diisi dengan acara 'The Quest For The Cloud' yang dibawakan oleh kedua prinsipal Mr. Erik Van Der Wurff dari HP dan Mr. Michael Sladin dari Symantec yang secara komprehensif menjelaskan produk mereka yang menjadi bagian dari dukungan untuk komputasi awan.
Setelah rehat, acara dibagi menjadi dua sesi yang masing-masing membahas 'Building An Intelligent and Integrated Enterprise with Red Hat', sementara sesi kedua membahas dua topik yaitu 'Mission Critical Server Redefined: The UNIX Killer' dibawakan oleh wakil dari Fujitsu dan 'Getting the Best Out of Red Hat Enterprise Linux in Your Cloud Environment'.
Langganan:
Postingan (Atom)








