Proyek pilot akses Internet 1GBps dengan tarif sekitar Rp. 240 ribu/bulan telah usai, mengawali ambisi pemerintah dengan target menyediakan sambungan Internet 1GBps sampai dengan akhir 2012 untuk setiap keluarga di Korea Selatan.
Menurut pemberitaan yang dimuat di New York Times disebutkan bahwa program ujicoba yang telah usai melibatkan 5.000 keluarga penduduk di lima kota merupakan tahapan dari rencana sejak lama pemerintah Korea Selatan menyediakan sambungan Internet pita lebar secara masal.
"Banyak wong Korea adalah pengguna sejak dini", kata Choi Gwang-gi, penanggung jawab untuk proyek yang dicanangkan sebagai persiapan untuk menyambut kedatangan layanan masa depan seperti 3D-TV, IP-TV, HD-Multimedia, Games Daring dan Konferensi Video, Ultra-High-Definition TV dan Cloud Computing .
Proyek 1 GBps untuk seluruh Ummat adalah salah satu dari banyak proyek infrastruktur pita lebar berjalan yang dilansir pemerintah Korea Selatan. Investasi untuk membangun infrastruktur serat optik di Korea Selatan misalnya menurut Komisi Komunikasi Korea (KCC) empat tahun kedepan tidak kurang dari 217 Triliun Rupiah. Untuk itu pemerintah Korea Selatan mensubsidi sekitar 8.8 Triliun Rupiah.
Memang sudah diakui bahwa warga Korea Selatan didunia paling ngebut soal Internetan dan paling depan dalam pemerataan koneksi. Statistik tahun 2010 menujukkan bahwa kecepatan unduh rata-rata warga Korea Selatan mencapai 33,5 MBps, dan unggah 17 MBit/s dengan kuota 100 persen keluarga yang tersambung. Hal itu menempatkan Korea sebagai jawara di dunia maya, bahkan jauh diatas pemegang posisi nomor 2 (Hongkong) dan nomor 3 (Jepang). Data mengenai Broadband Quality Study 2010 dapat disimak dari laporan yang diterbitkan oleh Universitas Oxford bersama pemasok infrastruktur Cisco dan laporan tentang Status Internet 2010 yang diterbitkan Akamai.
Tampilkan postingan dengan label Broadband. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Broadband. Tampilkan semua postingan
Selasa, 22 Februari 2011
Rabu, 22 September 2010
PBB Dambakan Internet Jalurlebar Untuk Separuh Umat Manusia
Andaikan harapan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi realita, maka pada tahun 2015 separuh umat manusia akan memiliki akses terhadap Internet Jalurlebar. Sebagaimana diharapkan sekretaris jendral International Telecommunication Union (ITU) Hamadoun Touré di New York minggu lalu, diserukan agar pemerintah-pemerintah negara di seluruh dunia menempatkan masalah ini paling atas dalam agendanya. "Pemimpin-pemimpin dunia telah sepakat bahwa masadepan akan dibangun diatas Jalurlebar", kata politisi berasal dari Mali tersebut.
Target yang diinginkan rata-rata 50 persen itu bahkan belum dicapai negara-negara maju pada saat ini. Berdasarkan data dari organisasi telekomunikasi dunia, baru sekitar 30 persen penduduk negara-negara maju yang memiliki akses Internet menggunakan Jalurlebar, sementra di negara-negara "baru jadi" hanya satu dari sepuluh penduduknya dan di negara-negara yang sedang berkembang hanya sekitar satu dari seratus. Memang belum ada kesepakatan ambang kecepatan kapan Internet boleh disebutkan sebagai Jalurlebar, namun menurut Touré, perlu diingatkan bahwa biaya Internet untuk pengguna di negara-negara maju merupakan sebagian kecil dari penghasilan mereka (dibawah 1%) sedangkan di negara berkembang seperti di Ethiopia, Malawi atau Niger berlipat melampaui UMR.
ITU menprediksikan untuk tahun ini penambahan sekitar 900 juta sambungan Jalurlebar diseluruh dunia. Diramalkan bahwa sebagai sarana koneksi masadepan nantinya adalah jaringan bergerak (mobile) pita lebar. Dalam rapat komisi Jalurlebar ITU, Touré mengatakan bahwasanya akses terhadap jaringan Jalurlebar sampai tahun 2015 adalah bagian dari hak asasi manusia dan Internet merupakan alat yang paling baik untuk mencapai target dari Millennium Development Goals.
Dalam kesempatan terpisah Sir Tim Berners-Lee, penemu sistem Internet Hypertext-Systems WWW di ajang acara Nokia World di London satu minggu sebelumnya, menekankan keharusan untuk setiap Insan Dunia memiliki akses terhadap Internet. Disebutkan, bahwa sampai saat ini baru seperlima dari penghuni dunia yang memilikinya dan sisanya perlu disambungkan agar bisa mengakses layanan publik seperti layanan kesehatan dan lainnya.
Target yang diinginkan rata-rata 50 persen itu bahkan belum dicapai negara-negara maju pada saat ini. Berdasarkan data dari organisasi telekomunikasi dunia, baru sekitar 30 persen penduduk negara-negara maju yang memiliki akses Internet menggunakan Jalurlebar, sementra di negara-negara "baru jadi" hanya satu dari sepuluh penduduknya dan di negara-negara yang sedang berkembang hanya sekitar satu dari seratus. Memang belum ada kesepakatan ambang kecepatan kapan Internet boleh disebutkan sebagai Jalurlebar, namun menurut Touré, perlu diingatkan bahwa biaya Internet untuk pengguna di negara-negara maju merupakan sebagian kecil dari penghasilan mereka (dibawah 1%) sedangkan di negara berkembang seperti di Ethiopia, Malawi atau Niger berlipat melampaui UMR.
ITU menprediksikan untuk tahun ini penambahan sekitar 900 juta sambungan Jalurlebar diseluruh dunia. Diramalkan bahwa sebagai sarana koneksi masadepan nantinya adalah jaringan bergerak (mobile) pita lebar. Dalam rapat komisi Jalurlebar ITU, Touré mengatakan bahwasanya akses terhadap jaringan Jalurlebar sampai tahun 2015 adalah bagian dari hak asasi manusia dan Internet merupakan alat yang paling baik untuk mencapai target dari Millennium Development Goals.
Dalam kesempatan terpisah Sir Tim Berners-Lee, penemu sistem Internet Hypertext-Systems WWW di ajang acara Nokia World di London satu minggu sebelumnya, menekankan keharusan untuk setiap Insan Dunia memiliki akses terhadap Internet. Disebutkan, bahwa sampai saat ini baru seperlima dari penghuni dunia yang memilikinya dan sisanya perlu disambungkan agar bisa mengakses layanan publik seperti layanan kesehatan dan lainnya.
Langganan:
Postingan (Atom)

