Sebuah konsorsium yang terdiri dari perusahan-perusahan AX Business Solution AG, NightLabs Consulting GmbH dan Pusat Riset Informatika Karlsruhe [Forschungszentrum Informatik Karlsruhe (FZI)] bergabung dalam sebuah proyek Cumulus4j. Proyek ini ingin menunjukkan bagaimana mengamankan data perusahan di Internet dan sedang mengembangkan software yang memungkinkan perusahan untuk menempatkan data perusahan yang peka dengan relatif aman di infrastruktur awan.
Untuk itu Cumulus4j meng-enkripsi data perusahan yang kemudian dibagi menjadi banyak bagian untuk masing-masing disimpan di tempat yang berbeda di infrastruktur awan. Cara demikian tidak hanya akan menyulitkan hacker dari luar, bahkan sysadmin penyedia layanan awan-pun dengan otoritasnya tidak bisa memanfaatkan potongan-potongan data yang tersimpan secara acak. Sebaliknya, hanya pemilik data yang memiliki otoritas diberikan hak kendali dan kunci terhadap data yang dititipkannya di perusahan penyedia layanan awan.
Cumulus4j yang ditulis dalam bahasa Java, saat ini tersedia sebagai Plug-in untuk DataNucleus, yaitu sebuah platform Open Source untuk pengelolaan data yang sebelumnya telah dikenal sebagai Java Persistent Objects (JPOX). Penyedia layanan awan dapat mengintegrasikannya di software Cloud mereka via Java Data Objects (JDO) atau melalui Java Persistence API (JPA).
Jadi, antara program aplikasi dan sistem penyimpanan data disisipkan lapisan yang memroses enkripsi dan dekripsi. Sebelum data disimpan di basis data, secara otomatis Cumulus4j akan melakukan enkripsi kemudian mendistribusikannya. Sebaliknya program ini akan men-dekripsi data "on the fly" bilamana aplikasi membutuhkannya. Pengembangnya mengklaim bahwa Cumulus4j dapat bekerjasama dengan banyak jenis basis data seperti MySQL, Googles BigTable, Hadoop HBase dan MongoDB.
Proyek sumber terbuka yang disponsori oleh pemerintah Jerman (Kementrian Pendidikan dan Riset BMBF) ini, menjanjikan ketersedian Cumulus4j pada bulan Januari 2012 sebagai sebuah software bebas dengan lisensi AGPL.
Tampilkan postingan dengan label Cloud. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cloud. Tampilkan semua postingan
Kamis, 15 Desember 2011
Kamis, 21 Juli 2011
Oracle Rilis VirtualBox 4.1
Oracle telah merilis software virtualisasi VirtualBox 4.1 yang mengandung banyak peningkatan seperti cloning atau menggandakan mesin virtual disamping sejumlah fitur baru eksperimental.
Seperti tertera di catatan Changelog, tersedia fitur-fitur GUI yang memudahkan penggandaan mesin virtual, sebuah Wizard untuk membuat dan menyalin drive virtual dan juga sebuah driver grafis untuk mesin tamu Windows (taraf eksperimental), dukungan untuk efek Aero dari Windows 7 dan dukungan lebih luas terhadap Direct3D. Juga masih dalam taraf eksperimental adalah mekanisme baru untuk memungkinkan "Hot Plugging" pada harddisk SATA yang dapat diakses via command line VirtualBox (VBoxManage).
VirtualBox adalah mesin virtual untuk Desktop maupun Server yang dapat menyediakan PC virtual, baik 32-bit atau 64-bit. Untuk sistem host 64-bit dari mesin virtual VirtualBox 4.1 telah mampu memanfaatkan RAM sampai dengan 1 TByte. Di sistem host untuk Linux telah diimplementasikan fitur PCI-Passthrough yang saat ini masih dalam status ujicoba.
Virtualbox 4.1 telah menyediakan paket binari untuk dipasang di sejumlah aneka distribusi Linux popular, disamping untuk sistem operasi lainnya seperti Mac OS X, Solaris, MS Windows. Demikian juga telah disiapkan kode sumbernya berikut sebuah SDK (Software Development Kit) dan dokumentasi yang diperlukan.
Seperti tertera di catatan Changelog, tersedia fitur-fitur GUI yang memudahkan penggandaan mesin virtual, sebuah Wizard untuk membuat dan menyalin drive virtual dan juga sebuah driver grafis untuk mesin tamu Windows (taraf eksperimental), dukungan untuk efek Aero dari Windows 7 dan dukungan lebih luas terhadap Direct3D. Juga masih dalam taraf eksperimental adalah mekanisme baru untuk memungkinkan "Hot Plugging" pada harddisk SATA yang dapat diakses via command line VirtualBox (VBoxManage).
VirtualBox adalah mesin virtual untuk Desktop maupun Server yang dapat menyediakan PC virtual, baik 32-bit atau 64-bit. Untuk sistem host 64-bit dari mesin virtual VirtualBox 4.1 telah mampu memanfaatkan RAM sampai dengan 1 TByte. Di sistem host untuk Linux telah diimplementasikan fitur PCI-Passthrough yang saat ini masih dalam status ujicoba.
Virtualbox 4.1 telah menyediakan paket binari untuk dipasang di sejumlah aneka distribusi Linux popular, disamping untuk sistem operasi lainnya seperti Mac OS X, Solaris, MS Windows. Demikian juga telah disiapkan kode sumbernya berikut sebuah SDK (Software Development Kit) dan dokumentasi yang diperlukan.
Tentang VirtualBox: Mulanya VirtualBox merupakan paket software x86 untuk virtualisasi sistem operasi yang dikembangkan oleh sebuah perusahan Jerman innotek. Setelah diakuisisi Sun Microsystems, VirtualBox kemudian menjadi bagian dari Sun xVM virtualization platform. VirtualBox dapat di instalasi di sistem operasi eksisting sebagai host (tuan rumah) untuk banyak sistem operasi virtual sebagai sistem tamu yang ditambahkan, termasuk aplikasi-aplikasi terkait. Sebagai sistem tuan rumah (host OS) VirtualBox telah mendukung banyak jenis sistem operasi termasuk: Linux, Mac OS X, OS/2 Warp, Windows XP, Vista, Windows 7 dan Solaris. Sementara sebagai sistem operasi tamu juga mendukung sistem-sistem operasi DragonFlyBSD, FreeBSD, Linux, OpenBSD, OS/2 Warp, Windows dan Solaris. Sejak Sun diakuisisi Oracle Corporation di bulan Januari 2010, produk software ini diganti namanya menjadi Oracle VM VirtualBox. Mulai Virtualbox versi 4 yang dirilis di bulan Desember 2010, porsi utama "core package" dari VirtualBox yang berfitur penuh ini tetap berlisensi bebas dibawah naungan GNU General Public License version 2 (GPLv2). Beberapa fitur tidak termasuk merupakan komponen proprietari, dirilis sebagai "proprietary Personal Use and Evaluation License (PUEL)," yang memperbolehkan pemanfaatan tanpa biaya khusus untuk keperluan pribadi, edukasi dan evaluasi.
Jumat, 07 Januari 2011
Menghitung Keuntungan Ekonomi Cloud Computing
Pemindahan layanan TI ke jaringan di awan sebagai "Cloud Computing", walaupun sebelumnya dihantui risiko keamanan dan privasi, namun menurut studi yang dilakukan Centre for Economics and Business Research (Cebr) yang disponsori oleh EMC, sangat jelas menyebutkan keuntungan baik Mikro maupun Makro Ekonomi berarti.
Hasil studi komprehensif setebal 89 halaman telah diumumkan satu bulan lalu dan baru saja dipublikasi mencakup penelitian yang dilakukan di sejumlah negara EMEA termasuk Perancis, Jerman, Italia, Spanyol dan Inggris (UK). Dari lima negara yang telah mengadopsi komputasi awan, menurut perhitungan peneliti yang berkedudukan di London itu, akan menghasilkan penghematan untuk layanan TI lebih dari 763 miliar Euro dalam kurun waktu antara 2010 sampai 2015, sama dengan sekitar 1.57% dari total GDP lima negara bersangkutan secara akumulatif. EMC yang sebagian dari omzetnya berasal dari komputasi awan, menambahkan bahwa disamping penghematan kuantitatif juga terjadi pengembangan model bisnis baru.
Disamping menghitung keuntungan dari perspektif ekonomi mikro bagi perusahan, peneliti pasar Cebr juga menilik dampaknya terhadap ekonomi makro akibat dari penghematan anggaran TI cukup potensial di perusahan yang mengadopsi Cloud Computing.
Sebagai contoh adalah penghematan yang memangkas pengeluaran untuk hardware, pegawai dan enerji yang cukup berarti diperhitungkan Cebr mencapai sekitar 31 sampai 79 persen bila menggunakan "Public Cloud" yang banyak ditawarkan sebagai sebuah layanan menggunakan infrastruktur yang diakses via Internet. Dari berbagai aspek, secara keseluruhan komputasi awan memberi keuntungan ekonomi sebesar 24,2 persen untuk "Public Cloud", sementara untuk "Private Cloud" disebutkan 37,4 persen yaitu dengan memindahkan layanan TI ke lingkungan Intranet. Solusi hybrid yang menggabungkan kedua jenis awan disebutkan memberi penghematan sebesar 38,4 persen.
Peneliti Cebr meramalkan adanya penambahan peluang kerja baru, dengan angka sebagai contoh untuk negara Jerman saja sekitar 789.000 sebagai akibat dari pendirian 39.000 perusahan baru yang bergerak dibidang Cloud Computing sampai tahun 2015.
Secara terpisah di ajang acara annual UK-China Internet Forum ketiga, Menteri Komunikasi Inggris Ed Vaizey menggarisbawahi keuntungan Cloud computing yang secara dramitis memangkas biaya perusahan mengatakan antara lain, "access to networked resources provided by Cloud enables companies to enter markets without having to meet capital costs of building their own computer infrastructure."
Hasil studi komprehensif setebal 89 halaman telah diumumkan satu bulan lalu dan baru saja dipublikasi mencakup penelitian yang dilakukan di sejumlah negara EMEA termasuk Perancis, Jerman, Italia, Spanyol dan Inggris (UK). Dari lima negara yang telah mengadopsi komputasi awan, menurut perhitungan peneliti yang berkedudukan di London itu, akan menghasilkan penghematan untuk layanan TI lebih dari 763 miliar Euro dalam kurun waktu antara 2010 sampai 2015, sama dengan sekitar 1.57% dari total GDP lima negara bersangkutan secara akumulatif. EMC yang sebagian dari omzetnya berasal dari komputasi awan, menambahkan bahwa disamping penghematan kuantitatif juga terjadi pengembangan model bisnis baru.
Disamping menghitung keuntungan dari perspektif ekonomi mikro bagi perusahan, peneliti pasar Cebr juga menilik dampaknya terhadap ekonomi makro akibat dari penghematan anggaran TI cukup potensial di perusahan yang mengadopsi Cloud Computing.
Sebagai contoh adalah penghematan yang memangkas pengeluaran untuk hardware, pegawai dan enerji yang cukup berarti diperhitungkan Cebr mencapai sekitar 31 sampai 79 persen bila menggunakan "Public Cloud" yang banyak ditawarkan sebagai sebuah layanan menggunakan infrastruktur yang diakses via Internet. Dari berbagai aspek, secara keseluruhan komputasi awan memberi keuntungan ekonomi sebesar 24,2 persen untuk "Public Cloud", sementara untuk "Private Cloud" disebutkan 37,4 persen yaitu dengan memindahkan layanan TI ke lingkungan Intranet. Solusi hybrid yang menggabungkan kedua jenis awan disebutkan memberi penghematan sebesar 38,4 persen.
Peneliti Cebr meramalkan adanya penambahan peluang kerja baru, dengan angka sebagai contoh untuk negara Jerman saja sekitar 789.000 sebagai akibat dari pendirian 39.000 perusahan baru yang bergerak dibidang Cloud Computing sampai tahun 2015.
Secara terpisah di ajang acara annual UK-China Internet Forum ketiga, Menteri Komunikasi Inggris Ed Vaizey menggarisbawahi keuntungan Cloud computing yang secara dramitis memangkas biaya perusahan mengatakan antara lain, "access to networked resources provided by Cloud enables companies to enter markets without having to meet capital costs of building their own computer infrastructure."
Senin, 06 Desember 2010
Awan Ubuntu Masuk Jendela Windows
Layanan penyimpanan data di awan Ubuntu One dari Canonical akan melayani pengguna Windows. Versi awal software klien untuk Windows yang tersedia, pertama-tama hanya mendukung fitur pertukaran berkas antar platform Windows dan Ubuntu.Versi beta dari Windows-Client untuk mengakses Ubuntu-Cloud akan dikembangkan dengan penambahan fitur seperti untuk mensinkronisasikan Contacts dan Bookmarks. Pengguna yang memiliki akun atau akses untuk Ubuntu One dapat mendaftar diri sebagai Betatester.
Canonical telah memulai layanan Cloud Service-nya sejak tahun 2009 lalu sebagai Ubuntu One dan awalnya hanya untuk pengguna sistem operasi Ubuntu mulai versi Ubuntu 9.04. Versi layanan paling kecil disediakan bebas biaya dengan kapasitas penyimpanan sampai dengan 2 GByte spasi daring. Dengan layanan Ubuntu One, klien yang telah terpasang di desktop Ubuntu bisa melakukan pertukaran berkas termasuk sinkronisasi Bookmarks dan Alamat. Ubuntu menggunakan sistem basis data CouchDB untuk menyimpan data pengguna di awan. Kecuali untuk Linux juga telah tersedia klien-klien untuk Android dan Apple's iPhone dan iPad yang menawarkan peningkatan ke layanan lebih luas dan berbayar.
Peningkatan paket penyimpanan di awan per 20 GByte dikenakan biaya 2,99 Dollar per bulan atau 29,99 Dollar per tahun. Kecuali itu tersedia layanan Ubuntu-One-Mobile yang antara lain menyediakan layanan streaming musik yang dibeli dari perangkat Android atau Apple dengan biaya langganan sebesar 3,99 Dollar per bulan atau 39,99 Dollar per tahun.
Software klien untuk pengguna Windows bisa dijalankan mulai versi Windows XP dengan SP3 keatas dan mensyaratkan .Net-Framework versi 4 dengan Windows-Installer versi 4.5.
Jumat, 26 November 2010
ownCloud 1.1 Tambahkan Sistem Plugin
Sebagai bagian dari proyek KDE telah rilis versi ownCloud 1.1 yang menyertakan fitur baru untuk mengelola user dan sebuah sistem Plugin.
ownCloud adalah sebuah layanan di awan (Cloud Services) yang diimplementasikan pemrograman PHP. Menggunakan ownCloud pengguna dapat membangun di hardware miliknya sebuah penyimpanan dokumen atau berkas secara daring (online) yang dapat diakses dari mana saja melalui koneksi internet handelt via WebDAV. Version 1.1 mendukung basis data PostgreSQL dalam tahapan ujicoba, namun secara standar digunakan MySQL.
Sistem Plugin yang baru di versi ownCloud 1.1 ini memberikan peluang kepada pengembang untuk membuat dan memasang Plugin seperti misalnya Plugins untuk galeria foto, server koleksi musik atau Podcast Catcher.
Untuk sistem Linux dapat dimanfaatkan KDE KIO-Slave yang menggabungkan peyimpanan data daring (Online Storage) dengan sistem lokal menggunakan FUSE, sementara Lalulintas data diamankan menggunakan SSL. ownCloud mendukung standar Open Collaboration Services API dan dengan demikian pengguna secara otomatis mengetahui aktfitas ownCloud misalnya bila kapasitas penyimpanan terlampaui atau perubahan ijin akses untuk dokumen yang dilakukan oleh pengguna lainnya.
Inisiatif proyek ownCloud berawal dari ajang acara di Camp KDE'10 saat pengembang Frank Karlitschek berbicara tentang Open Source Cloud. Menurut Karlitschek "The cloud is the future," karena itu aplikasi deskop nantinya lambat lain akan berkurang. Walaupun saat ini telah tersedia banyak layanan di awan, kebutuhan akan penyimpanan data daring di hardware pribadi tetap memiliki peluang dan banyak dibutuhkan.
Versi perdana ownCloud dirilis pada bulan Juni lalu. Sebagai target pengembangan selanjutnya, tim pengembang ownCloud ingin menambahkan fitur lainya seperti sistem pengelola versions dan sinkronisasi dengan klien, disamping fitur yang memungkinkan sharing penggunaan berkas yang disimpan. ownCloud adalah software open source bernaung dibawah lisensi bebas GNU Affero General Public License v3. Software ownCloud 1.1 dapat diunduh dari arsip TAR dalam format bz2 atau via repositori Git.
ownCloud adalah sebuah layanan di awan (Cloud Services) yang diimplementasikan pemrograman PHP. Menggunakan ownCloud pengguna dapat membangun di hardware miliknya sebuah penyimpanan dokumen atau berkas secara daring (online) yang dapat diakses dari mana saja melalui koneksi internet handelt via WebDAV. Version 1.1 mendukung basis data PostgreSQL dalam tahapan ujicoba, namun secara standar digunakan MySQL.
Sistem Plugin yang baru di versi ownCloud 1.1 ini memberikan peluang kepada pengembang untuk membuat dan memasang Plugin seperti misalnya Plugins untuk galeria foto, server koleksi musik atau Podcast Catcher.
Untuk sistem Linux dapat dimanfaatkan KDE KIO-Slave yang menggabungkan peyimpanan data daring (Online Storage) dengan sistem lokal menggunakan FUSE, sementara Lalulintas data diamankan menggunakan SSL. ownCloud mendukung standar Open Collaboration Services API dan dengan demikian pengguna secara otomatis mengetahui aktfitas ownCloud misalnya bila kapasitas penyimpanan terlampaui atau perubahan ijin akses untuk dokumen yang dilakukan oleh pengguna lainnya.
Inisiatif proyek ownCloud berawal dari ajang acara di Camp KDE'10 saat pengembang Frank Karlitschek berbicara tentang Open Source Cloud. Menurut Karlitschek "The cloud is the future," karena itu aplikasi deskop nantinya lambat lain akan berkurang. Walaupun saat ini telah tersedia banyak layanan di awan, kebutuhan akan penyimpanan data daring di hardware pribadi tetap memiliki peluang dan banyak dibutuhkan.
Versi perdana ownCloud dirilis pada bulan Juni lalu. Sebagai target pengembangan selanjutnya, tim pengembang ownCloud ingin menambahkan fitur lainya seperti sistem pengelola versions dan sinkronisasi dengan klien, disamping fitur yang memungkinkan sharing penggunaan berkas yang disimpan. ownCloud adalah software open source bernaung dibawah lisensi bebas GNU Affero General Public License v3. Software ownCloud 1.1 dapat diunduh dari arsip TAR dalam format bz2 atau via repositori Git.
Kamis, 07 Oktober 2010
OpenStack: Framework Awan Terbuka Untuk Ubuntu
Untuk rilis Ubuntu mendatang, saat ini telah disiapkan framework awan OpenStack yaitu sebuah proyek open source yang didirikan oleh komunitas dan didukung oleh banyak vendor termasuk oleh instansi luar angkasa Nasa dan perusahan hosting Rackspace.
Disamping solusi Eucalyptus yang telah didukung Ubuntu sejak lama, rencananya akan mengintegrasikan Cloud Framework Openstack mulai tahun 2011 bersamaan rilis versi 11.04 atau 11.10. Eucalyptus yang digunakan Ubuntu sampai saat ini, kernelnya telah dibebaskan dan tersedia menganut lisensi GPLv3. Namun komponen pengeloaannya masih belum bebas (proprietari), termasuk komponen vSphere atau ESX dari VMware yang disokongnya.
Dilain pihak, Platform Openstack merupakan solusi awan yang komplit dan sepenuhnya open source dan disokong oleh banyak vendor-vendor termasuk AMD, Dell dan Intel. Institusi Nasa mengendalikan teknologi ini untuk platform awan mereka yang telah dikenal sebagai Nebula Cloud Platform. Baik Rackspace maupun Nasa telah berjanji akan mengimplementasikan Openstack dilingkungan Cloud Platform masing-masing.
Sebagai komponen infrastruktur untuk Openstack terhitung penyimpanan obyek terdistribusi Openstack Object Storage yang dibuat berdasarkan Rackspace Cloud Files. Sistem OpenStack memanfaatkan server standar yang tersambung dan bekerja bahu-membahu secara Cluster agar memori dalam skala besar yang tersedia redundan menjadi handal.
Sebagai komponen kedua digunakan Openstack Compute yang ketersediaanya dijadwalkan pada bulan Oktober 2010. Software utama yang ditulis menggunakan bahasa pemrograman Python itu dibangun berdasarkan teknologi Nebula Cloud besutan Nasa yang akan mengelola tugas untuk komputer-komputer dalam jumlah yang besar. Untuk merealisasikan semua itu, OpenStack didukung oleh beberapa framework lain seperti Tornado dan Twisted.
Disamping solusi Eucalyptus yang telah didukung Ubuntu sejak lama, rencananya akan mengintegrasikan Cloud Framework Openstack mulai tahun 2011 bersamaan rilis versi 11.04 atau 11.10. Eucalyptus yang digunakan Ubuntu sampai saat ini, kernelnya telah dibebaskan dan tersedia menganut lisensi GPLv3. Namun komponen pengeloaannya masih belum bebas (proprietari), termasuk komponen vSphere atau ESX dari VMware yang disokongnya.
Dilain pihak, Platform Openstack merupakan solusi awan yang komplit dan sepenuhnya open source dan disokong oleh banyak vendor-vendor termasuk AMD, Dell dan Intel. Institusi Nasa mengendalikan teknologi ini untuk platform awan mereka yang telah dikenal sebagai Nebula Cloud Platform. Baik Rackspace maupun Nasa telah berjanji akan mengimplementasikan Openstack dilingkungan Cloud Platform masing-masing.
Sebagai komponen infrastruktur untuk Openstack terhitung penyimpanan obyek terdistribusi Openstack Object Storage yang dibuat berdasarkan Rackspace Cloud Files. Sistem OpenStack memanfaatkan server standar yang tersambung dan bekerja bahu-membahu secara Cluster agar memori dalam skala besar yang tersedia redundan menjadi handal.
Sebagai komponen kedua digunakan Openstack Compute yang ketersediaanya dijadwalkan pada bulan Oktober 2010. Software utama yang ditulis menggunakan bahasa pemrograman Python itu dibangun berdasarkan teknologi Nebula Cloud besutan Nasa yang akan mengelola tugas untuk komputer-komputer dalam jumlah yang besar. Untuk merealisasikan semua itu, OpenStack didukung oleh beberapa framework lain seperti Tornado dan Twisted.
Rabu, 06 Oktober 2010
Ballmer Akan Bawa Microsoft Sepenuhnya Ke Awan
Bos Microsoft Steve Ballmer akan membawa perusahan yang dipimpinnya seutuhnya ke awan dalam beberapa tahun kedepan. "Sejak beberapa tahun lalu kami melakukan investasi lebih dari satu miliar dollar setiap tahunnya untuk komputasi awan dan dimasa mendatang kami akan sepenuhnya konsentrasi di awan", tulis Ballmer sebagai kontributor tamu di majalah ekonomi "Euro am Sonntag". Mulai tahun 2012 diperkirakan lebih dari 90 persen pengembang Microsoft akan bekerja untuk aplikasi dan teknologi komputasi awan (Cloud Computing).
Dengan komputasi awan berarti perangkat keras dan perangkat lunak beralih ke Internet. Dengan demikian teknologi informasi, mulai dari platform pengembangan sampai dengan aplikasinya disediakan oleh pusat data secara desentral dan diakses via Internet. Menurut Ballmer, komputasi awan adalah sebuah inovasi TI terpenting sejak beberapa generasi terakhir. Ballmer dijadwalkan pada hari ini (rabu, 6-10-2010) untuk berbicara sebagai narasumber di International Cloud Computing Conference di Köln (Jerman).
Latar belakang upaya tersebut adalah model bisnis klasik Microsoft yang kian hari kian tertekan. Penjualan software secara fisik dalam bentuk DVD disebutkan menurun karena pengguna mulai menggandrungi software yang dijalankan melalui Internet yang lebih murah dan hal yang sama telah memaksa industri software berpikir untuk melakukan perubahan.
Berdasarkan keterangan yang ditulis Ballmer, pelanggan yang memilih komputasi awan akan merasakan perbaikan signifikan. Perusahan bisa dengan cepat dan tanpa investasi mendapatkan akses terhadap software dan perangkat produktifitas terbaru. Dengan kata lain, produk dan layanan baru bisa diatur, dikembangkan dan diterapkan secara efisien dan lebih mampu bersaing. Menggunakan komputasi awan, perusahan juga akan lebih hemat menggunakan enerji. Baca selebihnya ...
Disisi lain, pengembang Open Source telah menyadari trend pergeseran menuju awan. Salah satu pengembang Fedora, Mike McGrath yang merasakan dilema ini dan menulis tentang menurunnya peran desktop dimasa mendatang dengan berpalingnya pengguna menuju awan. Karena itu McGrath menyarankan kepada komunitas pengembang untuk mengantisipasi trend tersebut agar pengembangan berorientasi web menggunakan HTML5.
Dengan komputasi awan berarti perangkat keras dan perangkat lunak beralih ke Internet. Dengan demikian teknologi informasi, mulai dari platform pengembangan sampai dengan aplikasinya disediakan oleh pusat data secara desentral dan diakses via Internet. Menurut Ballmer, komputasi awan adalah sebuah inovasi TI terpenting sejak beberapa generasi terakhir. Ballmer dijadwalkan pada hari ini (rabu, 6-10-2010) untuk berbicara sebagai narasumber di International Cloud Computing Conference di Köln (Jerman).
Latar belakang upaya tersebut adalah model bisnis klasik Microsoft yang kian hari kian tertekan. Penjualan software secara fisik dalam bentuk DVD disebutkan menurun karena pengguna mulai menggandrungi software yang dijalankan melalui Internet yang lebih murah dan hal yang sama telah memaksa industri software berpikir untuk melakukan perubahan.
Berdasarkan keterangan yang ditulis Ballmer, pelanggan yang memilih komputasi awan akan merasakan perbaikan signifikan. Perusahan bisa dengan cepat dan tanpa investasi mendapatkan akses terhadap software dan perangkat produktifitas terbaru. Dengan kata lain, produk dan layanan baru bisa diatur, dikembangkan dan diterapkan secara efisien dan lebih mampu bersaing. Menggunakan komputasi awan, perusahan juga akan lebih hemat menggunakan enerji. Baca selebihnya ...
Disisi lain, pengembang Open Source telah menyadari trend pergeseran menuju awan. Salah satu pengembang Fedora, Mike McGrath yang merasakan dilema ini dan menulis tentang menurunnya peran desktop dimasa mendatang dengan berpalingnya pengguna menuju awan. Karena itu McGrath menyarankan kepada komunitas pengembang untuk mengantisipasi trend tersebut agar pengembangan berorientasi web menggunakan HTML5.
Rabu, 22 September 2010
PBB Dambakan Internet Jalurlebar Untuk Separuh Umat Manusia
Andaikan harapan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi realita, maka pada tahun 2015 separuh umat manusia akan memiliki akses terhadap Internet Jalurlebar. Sebagaimana diharapkan sekretaris jendral International Telecommunication Union (ITU) Hamadoun Touré di New York minggu lalu, diserukan agar pemerintah-pemerintah negara di seluruh dunia menempatkan masalah ini paling atas dalam agendanya. "Pemimpin-pemimpin dunia telah sepakat bahwa masadepan akan dibangun diatas Jalurlebar", kata politisi berasal dari Mali tersebut.
Target yang diinginkan rata-rata 50 persen itu bahkan belum dicapai negara-negara maju pada saat ini. Berdasarkan data dari organisasi telekomunikasi dunia, baru sekitar 30 persen penduduk negara-negara maju yang memiliki akses Internet menggunakan Jalurlebar, sementra di negara-negara "baru jadi" hanya satu dari sepuluh penduduknya dan di negara-negara yang sedang berkembang hanya sekitar satu dari seratus. Memang belum ada kesepakatan ambang kecepatan kapan Internet boleh disebutkan sebagai Jalurlebar, namun menurut Touré, perlu diingatkan bahwa biaya Internet untuk pengguna di negara-negara maju merupakan sebagian kecil dari penghasilan mereka (dibawah 1%) sedangkan di negara berkembang seperti di Ethiopia, Malawi atau Niger berlipat melampaui UMR.
ITU menprediksikan untuk tahun ini penambahan sekitar 900 juta sambungan Jalurlebar diseluruh dunia. Diramalkan bahwa sebagai sarana koneksi masadepan nantinya adalah jaringan bergerak (mobile) pita lebar. Dalam rapat komisi Jalurlebar ITU, Touré mengatakan bahwasanya akses terhadap jaringan Jalurlebar sampai tahun 2015 adalah bagian dari hak asasi manusia dan Internet merupakan alat yang paling baik untuk mencapai target dari Millennium Development Goals.
Dalam kesempatan terpisah Sir Tim Berners-Lee, penemu sistem Internet Hypertext-Systems WWW di ajang acara Nokia World di London satu minggu sebelumnya, menekankan keharusan untuk setiap Insan Dunia memiliki akses terhadap Internet. Disebutkan, bahwa sampai saat ini baru seperlima dari penghuni dunia yang memilikinya dan sisanya perlu disambungkan agar bisa mengakses layanan publik seperti layanan kesehatan dan lainnya.
Target yang diinginkan rata-rata 50 persen itu bahkan belum dicapai negara-negara maju pada saat ini. Berdasarkan data dari organisasi telekomunikasi dunia, baru sekitar 30 persen penduduk negara-negara maju yang memiliki akses Internet menggunakan Jalurlebar, sementra di negara-negara "baru jadi" hanya satu dari sepuluh penduduknya dan di negara-negara yang sedang berkembang hanya sekitar satu dari seratus. Memang belum ada kesepakatan ambang kecepatan kapan Internet boleh disebutkan sebagai Jalurlebar, namun menurut Touré, perlu diingatkan bahwa biaya Internet untuk pengguna di negara-negara maju merupakan sebagian kecil dari penghasilan mereka (dibawah 1%) sedangkan di negara berkembang seperti di Ethiopia, Malawi atau Niger berlipat melampaui UMR.
ITU menprediksikan untuk tahun ini penambahan sekitar 900 juta sambungan Jalurlebar diseluruh dunia. Diramalkan bahwa sebagai sarana koneksi masadepan nantinya adalah jaringan bergerak (mobile) pita lebar. Dalam rapat komisi Jalurlebar ITU, Touré mengatakan bahwasanya akses terhadap jaringan Jalurlebar sampai tahun 2015 adalah bagian dari hak asasi manusia dan Internet merupakan alat yang paling baik untuk mencapai target dari Millennium Development Goals.
Dalam kesempatan terpisah Sir Tim Berners-Lee, penemu sistem Internet Hypertext-Systems WWW di ajang acara Nokia World di London satu minggu sebelumnya, menekankan keharusan untuk setiap Insan Dunia memiliki akses terhadap Internet. Disebutkan, bahwa sampai saat ini baru seperlima dari penghuni dunia yang memilikinya dan sisanya perlu disambungkan agar bisa mengakses layanan publik seperti layanan kesehatan dan lainnya.
Senin, 30 Agustus 2010
Kernel Platform Awan Eucalyptus 2.0 Dibebaskan
Sekitar dua bulan setelah peluncuran versi komersil Eucalyptus Enterprise, kini tersedia Eucalyptus versi bebas untuk software awan yang telah di-open-source-kan dan kompatibel dengan Amazon EC2.
Eucalyptus 2.0 yang juga merupakan inti atau kernel dari versi Enterprise diklaim lebih baik dalam hal skalabilitas dan lebih gampang digunakan dibandingkan versi sebelumnya. Perbaikan ini juga disebutkan telah menjawab alasan yang sebelumnya disebutkan kenapa NASA tidak memilih Eucalyptus dan sebagai alternatif bersama Rackspace telah menggalang inisiatif OpenStack.
Eucalyptus dapat digunakan untuk mengimplementasikan awan pribadi maupun hibrida (private & hybride Clouds) yang skalabel. Lingkungan awan tersedia sebagai Infrastructure as as Service (IaaS), dengan kata lain berarti bahwa pengguna dapat menginstalasi Software-Stack diatas sebuah Cluster virtual.
Eucalyptus 2.0 langsung sudah mendukung iSCSI untuk Amazon Elastic Block Store (Amazon EBS), sebagai pengelola versi untuk Amazon Simple Storage Service (Amazon S3) dan menyokong Virtio untuk hipervisor KVM.
Versi Eucalyptus Open Source yang dibebaskan dengan lisensi GPL mengandung API yang kompatibel dengan AWS dan saat ini mendukung hipervisor Xen dan KVM. Autenfikasi pengguna diamankan menggunakan saluran yang disandi via SSH.
Disamping kode sumbernya, vendor Eucalyptus Systems saat ini telah menyediakan paket binari yang siap pakai untuk sistem operasi CentOS 5, Debian Squeeze, OpenSUSE 11.2 dan Fedora 12. Eucalyptus edisi Enterprise yang ditawarkan mengandung fitur yang mendukung ekstra hipervisor dan sistem billing untuk menghitung kinerja, pengelola kuota dan beberapa fitur lainnya.
Eucalyptus 2.0 yang juga merupakan inti atau kernel dari versi Enterprise diklaim lebih baik dalam hal skalabilitas dan lebih gampang digunakan dibandingkan versi sebelumnya. Perbaikan ini juga disebutkan telah menjawab alasan yang sebelumnya disebutkan kenapa NASA tidak memilih Eucalyptus dan sebagai alternatif bersama Rackspace telah menggalang inisiatif OpenStack.
Eucalyptus dapat digunakan untuk mengimplementasikan awan pribadi maupun hibrida (private & hybride Clouds) yang skalabel. Lingkungan awan tersedia sebagai Infrastructure as as Service (IaaS), dengan kata lain berarti bahwa pengguna dapat menginstalasi Software-Stack diatas sebuah Cluster virtual.
Eucalyptus 2.0 langsung sudah mendukung iSCSI untuk Amazon Elastic Block Store (Amazon EBS), sebagai pengelola versi untuk Amazon Simple Storage Service (Amazon S3) dan menyokong Virtio untuk hipervisor KVM.
Versi Eucalyptus Open Source yang dibebaskan dengan lisensi GPL mengandung API yang kompatibel dengan AWS dan saat ini mendukung hipervisor Xen dan KVM. Autenfikasi pengguna diamankan menggunakan saluran yang disandi via SSH.
Disamping kode sumbernya, vendor Eucalyptus Systems saat ini telah menyediakan paket binari yang siap pakai untuk sistem operasi CentOS 5, Debian Squeeze, OpenSUSE 11.2 dan Fedora 12. Eucalyptus edisi Enterprise yang ditawarkan mengandung fitur yang mendukung ekstra hipervisor dan sistem billing untuk menghitung kinerja, pengelola kuota dan beberapa fitur lainnya.
Kamis, 26 Agustus 2010
Red Hat Ungkapkan PaaS
Vendor open source skala perusahan terbesar Red Hat ingin memposisikan perusahaannya sebagai penyedia platform awan yang lengkap.
Dalam sebuah Webcast yang digelar kemarin, Paul Cormier, Executive Vice President sekaligus President Products and Technologies di Red Hat mengatakan: "Hanya Microsoft dan kami (Red Hat) yang sesungguhnya mampu menawarkan solusi Cloud yang lengkap." Komponen untuk teknologi awan banyak ditawarkan oleh vendor lainnya, namun hanya kami berdua yang bisa menawarkan solusi dan mengintgrasikan sesuai dengan kebutuhan pelanggan sebagai sebuah Platform-as-a-Service (PaaS). Pada kesempatan yang sama Red Hat mempromosikan strategi PaaS dengan slogan "Build Any Way, Deploy Anywhere"
Untuk itu Red Hat menerapkan standar dan antarmuka yang netral dan memanfaat pengalamannya yang panjang di lingkungan Open Source. Platform yang digunakan diberi nama Red Hat Cloud Foundations merupakan hasil dari kerjasama dalam membangun sebuah lingkungan awan pribadi (private clouds) terbesar untuk perusahan animasi Dreamworks. Baca selebihnya ....
Dalam sebuah Webcast yang digelar kemarin, Paul Cormier, Executive Vice President sekaligus President Products and Technologies di Red Hat mengatakan: "Hanya Microsoft dan kami (Red Hat) yang sesungguhnya mampu menawarkan solusi Cloud yang lengkap." Komponen untuk teknologi awan banyak ditawarkan oleh vendor lainnya, namun hanya kami berdua yang bisa menawarkan solusi dan mengintgrasikan sesuai dengan kebutuhan pelanggan sebagai sebuah Platform-as-a-Service (PaaS). Pada kesempatan yang sama Red Hat mempromosikan strategi PaaS dengan slogan "Build Any Way, Deploy Anywhere"
Untuk itu Red Hat menerapkan standar dan antarmuka yang netral dan memanfaat pengalamannya yang panjang di lingkungan Open Source. Platform yang digunakan diberi nama Red Hat Cloud Foundations merupakan hasil dari kerjasama dalam membangun sebuah lingkungan awan pribadi (private clouds) terbesar untuk perusahan animasi Dreamworks. Baca selebihnya ....
Rabu, 25 Agustus 2010
Vyatta 6.1 Dengan Sertifikasi Untuk IPv6
Versi baru solusi software untuk router/firewall berdasarkan Debian GNU/Linux Vyatta 6.1 dengan fitur utama sertifikasi IPv6 dan tools baru untuk solusi cloud telah rilis.
Vyatta 6.1 telah meraih sertifikasi berlogo IPv6 Ready yang menunjukkan telah mengimplementasikan IPv6 core routing protocols. Vyatta mengklaim sebagai OS Jaringan Virtual berbasis software pertama yang telah menerima sertifikasi IPv6 Phase 2 Ready.
Untuk perusahan dan penyedia cloud, Vyatta menyediakan fitur "Layer 2 cloud bridging" yang memungkinkan penggabungan jaringan terpisah secara fisik untuk berkomunikasi dengan aman via Internet seolah berada di satu jaringan Ethernet. Fitur ini akan memudahkan migrasi aplikasi dari server terpisah antar pusat data.
Peningkatan Vyatta Versi 6.1 termasuk:
Vyatta 6.1 telah meraih sertifikasi berlogo IPv6 Ready yang menunjukkan telah mengimplementasikan IPv6 core routing protocols. Vyatta mengklaim sebagai OS Jaringan Virtual berbasis software pertama yang telah menerima sertifikasi IPv6 Phase 2 Ready.
Untuk perusahan dan penyedia cloud, Vyatta menyediakan fitur "Layer 2 cloud bridging" yang memungkinkan penggabungan jaringan terpisah secara fisik untuk berkomunikasi dengan aman via Internet seolah berada di satu jaringan Ethernet. Fitur ini akan memudahkan migrasi aplikasi dari server terpisah antar pusat data.
Peningkatan Vyatta Versi 6.1 termasuk:
- Vyatta Core 6.1 Layer 2 Bridging / Cloud Bridging
- Stateful Firewall/NAT Failover
- LLDP - Link Layer Discovery Protocol
- QoS Input Interfaces
- Port Mirroring and Redirection
- BGP Hop Count Security
- DHCPv6
- IPv6 BGP
- IPv6 SNMP
- GTSM BGP
- dan perbaikan lebih dari 120 kekliruan.
Jumat, 23 Juli 2010
Peppermint OS Ice Ganti Firefox Dengan Chromium
Dengan menerbitkan edisi Peppermint OS Ice, tim pengembang Peppermint-OS telah menambahkan satu varian lagi dari sebuah distribusi ringan yang terutama ditargetkan untuk penggunaan daring di awan (cloud). Sebagai aplikasi peramban digunakan browser Chromium, yaitu versi bebas Chrome besutan Google sebagai pengganti Mozilla Firefox.
Untuk penerapan di Peppermint OS Ice pengembangnya Kendall Weaver telah melakukan penyesuaian pada browser buatan Google ini di fitur Site Specific Browser (SSB) dan membersihkan menu dan batang status. Situs dibuka langsung di masing-masing jendela tersendiri seolah menjalankan sebuah aplikasi. Baca selebihnya ...
Untuk penerapan di Peppermint OS Ice pengembangnya Kendall Weaver telah melakukan penyesuaian pada browser buatan Google ini di fitur Site Specific Browser (SSB) dan membersihkan menu dan batang status. Situs dibuka langsung di masing-masing jendela tersendiri seolah menjalankan sebuah aplikasi. Baca selebihnya ...
Langganan:
Postingan (Atom)










