Tanggal 15 Agustus 1997 Miguel de Icaza
dan Federico Mena Quintero mengumumkan pengembangan software bebas yang
sekarang dikenal sebagai lingkungan desktop GNOME menulis: "We want to
develop a free and complete set of user friendly applications and
desktop tools, similar to CDE and KDE but based entirely on free software." sebagaimana telah dikutip di situs http://www.happybirthdaygnome.org/,
Proyek pengembangan GNOME dilansir agar tersedia CDE yang lebih baik dan
bebas, sebagai alternatif terhadap KDE yang saat itu sudah eksis, namun
menggunakan Qt widget toolkit yang ternyata belum dibebaskan. Untuk
memenuhi kriteria yang diinginkan, GNOME memilih GTK+ toolkit sebagai
basis pengembanganya yang menganut lisensi GNU Lesser Public License
(LGPL), sebuah lisensi software bebas yang memberi peluang untuk
dikombinasikan dengan lisensi jenis lainnya termasuk proprietari. GNOME
sendiri mengadopsi LGPL untuk pustakanya (libraries), sementara untuk
aplikasinya menerapkan lisensi GNU General Public License (GPL). GTK+ tersedia pada saat itu dikembangkan khusus untuk proyek Gimp yang sedang mengembangkan software pengelola grafis dengan nama yang sama.
Sekitar
dua tahun dibutuhkan sampai versi stabil perdana GNOME 1.0 berhasil dirilis pada
tanggal 3 Maret 1999. Versi ini, seperti juga pada versi-versi
berikutnya GNOME 1.2 dan GNOME 1.4 ternyata banyak mengandung kekliruan
yang menimbulkan banyak masalah. Pada masa yang sulit bagi proyek GNOME
saat itu, banyak penggunanya meninggalkan desktop GNOME dan nyaris
disingkirkan dari koleksi software dari sejumlah distribusi Linux yang
beredar saat itu.
Dibawah bayangan kekuasaan KDE dengan pembebasan
lisensi pustaka Qt untuk Linux sejak tahun 2000, proyek GNOME yang
berada di akhir versi 1.x baru berhasil merampungkan beberapa komponen
seperti pengelola berkas Nautilus yang pada saat itu juga berfungsi
sebagai peramban web, dan pengelola window Sawfish.
Kopdar (kopi darat) berupa pertemuan GUADEC
berlangsung untuk kali pertama di Paris pada tahun 2000 dan berhasil
mengajak sekitar 70 kontributor proyek GNOME berkumpul untuk mengenal
lebih dekat satu dan lainnya. Setelah itu, ajang acara GUADEC menjadi
sebuah tradisi yang setiap tahunnya digelar di berbagai kota di Eropa
dan diorganisir oleh relawan setempat.
Pada tanggal 27 Juni 2002
diluncurkan versi GNOME 2.0 yang memanfaatkan GTK+ 2 yang memiliki
sistem konfigurasi baru terpadu. Diantara pembaruan yang dibawa adalah
fitur Anti-aliasing, perbaikan dramatis untuk antarmuka grafis GUI,
seperti juga fitur Internasionalisasi. Pengembangnya telah memberikan
perhatian khusus terhadap peningkatan API yang memberi kemudahan pada
adaptasi aplikasi mereka. Kecuali itu, banyak bagian desktop yang
disederhanakan sehingga pemeliharaan menjadi lebih mudah. Introduksi Human Interface Guidelines (HIG) memungkinkan adanya antarmuka pengguna lebih konsisten dan dapat diprediksi.
Generasi
GNOME 2.x yang berlangsung selama 9 tahun berhasil menelurkan 16 kali
rilis yang berakhir pada bulan September 2010 dengan menerbitkan versi
terakhir Gnome 2.32 sebagai penutup era GNOME 2 yang penggemarnya tidak
sedikit. Rilis berikutnya adalah all new GNOME 3.0 yang diluncurkan pada
bulan April 2011.
Pergantian generasi ternyata tidak semulus yang
dibayangkan para pengembangnya. Sudah sejak dini sebelum resmi
diluncurkan, keberadaan GNOME 3.0 telah banyak menuai kritik dari para
pengguna desktop GNOME. Pengembang yang tidak rela meninggalkan GNOME 2
mengambil inisiatif guna melestarikan pemeliharaan dan pengembangannya
dibawah proyek bernama MATE, sementara pengembang Linux Mint mengawali
fork untuk Gnome-shell dengan proyek baru bernama Cinnamon. Kedua proyek
berupaya mempertahankan tata cara untuk melestarikan kebiasaan para
pengguna GNOME 2.
Terlepas dari situasi kontroversial yang terjadi antara generasi 2 dan
3, semuanya menyadari bahwa proyek sumber terbuka GNOME pada
kenyataannya telah mampu bertahan, berkembang dan sukses selama 15 tahun
terakhir.
.
Tampilkan postingan dengan label Gnome. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gnome. Tampilkan semua postingan
Rabu, 15 Agustus 2012
Sabtu, 19 November 2011
Meningkat: Partisipasi Perempuan Pada Proyek Open Source
Terhitung sejak enam tahun terakhir rata-rata satu pengembang perempuan yang bekerja untuk proyek Gnome yang terdaftar di ajang acara Googles Summer of Code (GSoC), namun pada tahun ini jumlah peserta telah meningkat menjadi tujuh pemrogram perempuan terdaftar di GSoC. Hal itu bisa saja terjadi, karena menurut dugaan proyek Gnome, semuanya berkat program khusus "Gnome Outreach Program for Women" yang dilansir di bulan Oktober lalu. Program magang yang khusus ditargetkan untuk kaum hawa itu, didukung penasihat-penasihat (Mentor) yang khusus disediakan untuk memuluskan kontribusi pertama para pengembang perempuan di salah satu proyek komunitas.
Sejatinya, bimbingan dari tim proyek telah dimulai sejak pendaftaran para calon peserta. Peserta telah menerima pengarahan langsung tangan pertama dari proyek tentang langkah-langkah dan teknologi yang harus disiapkan masing-masing peserta. Kecuali itu, peserta juga dijelaskan betapa indahnya bagai seseorang yang bisa memberikan sebuah kontribusi pada proyek software bebas. Dan nantinya bila saatnya magang dimulai, peserta telah berbekal dengan pengetahuan dan semangat yang dibutuhkan untuk menyokong proyek Gnome.
Para pembimbing atau penasehat (mentor) yang akan mendampingi para ibu atau gadis pemrogram tahun ini menulis sangat terkesan akan kinerja yang ditunjukkan para peserta. Peserta Nohemi Fernandez misalnya telah mengimplementasikan papan ketik layar berfungsi penuh untuk Gnome Shell, yang juga dapat digunakan pada tablet. Raluca Elena Podiuc membuat program yang memungkinkan membuat Avatar di Empathy menggunakan Webcam. Sementara Srishti Sethi menciptakan aktifitas yang dapat membantu anak-anak belajar tulisan Braille melalui software pendidikan GCompris.
Sejajar dengan penyertaan perempuan di GGSoC, terdapat delapan peserta perempuan lainnya di proyek Gnome yang magang atau Praktek Kerja Lapangan (PKL) dalam rangka "Gnome Outreach Program for Women". Lima diantaranya akan menggeluti bidang dokumentasi dan membangun helpdesk berorientasi tema untuk basis desktop, dan aplikasi-aplikasi Accerciser, Vinagre, Brasero, Cheese seperti juga pada Gnome System Monitor. Disamping untuk dokumentasi Accerciser, Aline Duarte Bessa mengambil alih pekerjaaan lain yaitu daftar kesalahan untuk mendapatkan umpan balik pada semua kesalahan untuk kemudian diperbaiki. Disamping itu, ia juga membantu pembuatan dokumentasi pada proyek pengembangan Assistive Technology Service Provider Interface (AT-SPI).
Meg Ford bekerja dalam melengkapi "High Contrast und High Contrast Inverse Themes" untuk Gnome, dengan membuat 81 Ikon baru dan memperbaiki 241 eksisting. Sementara itu, Yu Liansu menciptakan Gnome Visual Identity Portfolio yang komprehensif dengan karya seni orisinil, Poster, Brosurn, Presentasi dan konsep untuk Web.
Para peserta magang perempuan kali ini datang dari berbagai belahan bumi termasuk Amerika Utara dan Selatan, Eropa, Afrika dan Australia untuk memulai aktifitasnya pada tanggal 12 Dezember 2011 sampai dengan 12 Maret 2012 di bidang teknologi Gnome, Dokumentasi, Marketing dan Lokalisasi. Semuanya akan bekerja ditempatnya masing-masing dan merekam hasil kerjanya melalui Blog di Planet Gnome. Berkat sponsor dari Collabora, Google, Mozilla, Red Hat dan Gnome Foundation, diharapkan proyek Gnome dapat menampung 12 PKL perempuan pada program yang sama jadwal berikutnya.
Program "Gnome Outreach Program for Women" diorganisasi oleh dewan direksi Gnome termasuk Marina Zhurakhinskaya, Karen Sandler, dan Rosanna Yuen. Sementara kebanyakan pekerjaan diselesaikan oleh para mentor, peserta magang dapat memahami proses kerja sebuah proyek. Peserta diberikan tunjangan untuk 3 bulan magang masing-masing sebesar 5.000 Dolar Amerika yang kali ini dibiayai oleh Gnome Foundation dan Google ( masing-masing untuk 4 PKL), 2 PKL dibiayai oleh Mozilla dan masing-masing 1 PKL oleh Collabora dan Red Hat.
Sejatinya, bimbingan dari tim proyek telah dimulai sejak pendaftaran para calon peserta. Peserta telah menerima pengarahan langsung tangan pertama dari proyek tentang langkah-langkah dan teknologi yang harus disiapkan masing-masing peserta. Kecuali itu, peserta juga dijelaskan betapa indahnya bagai seseorang yang bisa memberikan sebuah kontribusi pada proyek software bebas. Dan nantinya bila saatnya magang dimulai, peserta telah berbekal dengan pengetahuan dan semangat yang dibutuhkan untuk menyokong proyek Gnome.
Para pembimbing atau penasehat (mentor) yang akan mendampingi para ibu atau gadis pemrogram tahun ini menulis sangat terkesan akan kinerja yang ditunjukkan para peserta. Peserta Nohemi Fernandez misalnya telah mengimplementasikan papan ketik layar berfungsi penuh untuk Gnome Shell, yang juga dapat digunakan pada tablet. Raluca Elena Podiuc membuat program yang memungkinkan membuat Avatar di Empathy menggunakan Webcam. Sementara Srishti Sethi menciptakan aktifitas yang dapat membantu anak-anak belajar tulisan Braille melalui software pendidikan GCompris.
Sejajar dengan penyertaan perempuan di GGSoC, terdapat delapan peserta perempuan lainnya di proyek Gnome yang magang atau Praktek Kerja Lapangan (PKL) dalam rangka "Gnome Outreach Program for Women". Lima diantaranya akan menggeluti bidang dokumentasi dan membangun helpdesk berorientasi tema untuk basis desktop, dan aplikasi-aplikasi Accerciser, Vinagre, Brasero, Cheese seperti juga pada Gnome System Monitor. Disamping untuk dokumentasi Accerciser, Aline Duarte Bessa mengambil alih pekerjaaan lain yaitu daftar kesalahan untuk mendapatkan umpan balik pada semua kesalahan untuk kemudian diperbaiki. Disamping itu, ia juga membantu pembuatan dokumentasi pada proyek pengembangan Assistive Technology Service Provider Interface (AT-SPI).
Meg Ford bekerja dalam melengkapi "High Contrast und High Contrast Inverse Themes" untuk Gnome, dengan membuat 81 Ikon baru dan memperbaiki 241 eksisting. Sementara itu, Yu Liansu menciptakan Gnome Visual Identity Portfolio yang komprehensif dengan karya seni orisinil, Poster, Brosurn, Presentasi dan konsep untuk Web.
Para peserta magang perempuan kali ini datang dari berbagai belahan bumi termasuk Amerika Utara dan Selatan, Eropa, Afrika dan Australia untuk memulai aktifitasnya pada tanggal 12 Dezember 2011 sampai dengan 12 Maret 2012 di bidang teknologi Gnome, Dokumentasi, Marketing dan Lokalisasi. Semuanya akan bekerja ditempatnya masing-masing dan merekam hasil kerjanya melalui Blog di Planet Gnome. Berkat sponsor dari Collabora, Google, Mozilla, Red Hat dan Gnome Foundation, diharapkan proyek Gnome dapat menampung 12 PKL perempuan pada program yang sama jadwal berikutnya.
Program "Gnome Outreach Program for Women" diorganisasi oleh dewan direksi Gnome termasuk Marina Zhurakhinskaya, Karen Sandler, dan Rosanna Yuen. Sementara kebanyakan pekerjaan diselesaikan oleh para mentor, peserta magang dapat memahami proses kerja sebuah proyek. Peserta diberikan tunjangan untuk 3 bulan magang masing-masing sebesar 5.000 Dolar Amerika yang kali ini dibiayai oleh Gnome Foundation dan Google ( masing-masing untuk 4 PKL), 2 PKL dibiayai oleh Mozilla dan masing-masing 1 PKL oleh Collabora dan Red Hat.
Selasa, 08 November 2011
Linux Mint 12 Ingin Salib Ubuntu
Menjelang terbitnya versi 12 yang dikemas dengan edisi khusus Gnome 3.2, Linux Mint berupaya menjadi desktop Linux nomor satu melampaui popularitas Ubuntu. Pengembangan Linux Mint tidal lagi sebagi ebuah hobi, dan untuk kesinambungan pembiayaan pengembangannya akan diperoleh dari lalu-lintas penggunaan Internet para pemakainya.
Dalam waktu dekat, Linux Mint ingin menyalib Ubuntu dengan perolehan jumlah pengguna lebih banyak dari pada jumlah pengguna Ubuntu saat ini. Taget itu, bila diukur dari catatan jumlah pengunjung yang mencari informasi atau tertarik pada Linux Mint di situs Distrowatch, saat ini ternyata telah terjadi. Linux Mint sejak beberapa hari lalu bertachta sebagai distribusi Linux nomor satu melampaui dominasi Ubuntu yang selama beberapa tahun terakhir senantiasa ngetop.
Sejatinya Linux Mint adalah sebuah Ubuntu, memanfaatkan repositori yang sama, namun telah ditambahkan dengan perkakas khusus dari Mint disamping berpenampilan beda yang lebih dekat dengan selera penggunanya, terutama lebih menunjang kebiasaan pengguna komputer yang baru beralih ke Linux dari OS utama lainnya.
Menurut dugaan penulis Distrowatch, naik daunnya Linux Mint tidak terlepas dari ketidakpuasan banyak pengguna terhadap Unity yang digunakan oleh Ubuntu pada dua rilis terakhir (Natty & Oneiric) termasuk masih banyaknya kekliruan pada Ubuntu yang belum dituntaskan. Hal itu juga diduga merupakan penyebab utama mengapa banyak mantan pengguna Ubuntu berpaling ke Linux Mint.
Pengembang Linux Mint melihat trend tersebut sebagai peluang untuk meningkatkan popularitas Linux Mint. Sebagaimana diumumkan di Blog Mint, dimasa mendatang Linux Mint akan berpegang pada desktop Gnome 3. Walaupun pengmbangnya menyadari bahwa masih banyak pengguna yang lebih menyukai Gnome 2 karena Gnome 3 dirasakan sangat berbeda dalam tata cara penggunaanya. Dengan berakhirnya dukungan untuk Gnome 2, maka tidak lagi tersedia alternatif yang memadai, dan untuk itu Linux Mint 12 nantinya akan memperkenalkan "busana baru" MGSE (Mint Gnome Shell Extensions) yang bisa menampilkan Gnome 3 dengan gaya klasik. Upaya serupa juga dilakukan pengembang distro anak bangsa IGOS Nusantara guna menyiasati transisi dari Gnome 2 ke Gnome 3.
Penerbitan Linux Mint 12 dengan desktop Gnome 3.2 telah dijadwalkan pada tanggal 20 November 2011 mendatang. Seperti pada versi-versi sebelumnya, varian yang mengemas desktop KDE atau desktop-desktop lainnya akan menyusul tidak lama kemudian.
Dalam waktu dekat, Linux Mint ingin menyalib Ubuntu dengan perolehan jumlah pengguna lebih banyak dari pada jumlah pengguna Ubuntu saat ini. Taget itu, bila diukur dari catatan jumlah pengunjung yang mencari informasi atau tertarik pada Linux Mint di situs Distrowatch, saat ini ternyata telah terjadi. Linux Mint sejak beberapa hari lalu bertachta sebagai distribusi Linux nomor satu melampaui dominasi Ubuntu yang selama beberapa tahun terakhir senantiasa ngetop.
Sejatinya Linux Mint adalah sebuah Ubuntu, memanfaatkan repositori yang sama, namun telah ditambahkan dengan perkakas khusus dari Mint disamping berpenampilan beda yang lebih dekat dengan selera penggunanya, terutama lebih menunjang kebiasaan pengguna komputer yang baru beralih ke Linux dari OS utama lainnya.
Menurut dugaan penulis Distrowatch, naik daunnya Linux Mint tidak terlepas dari ketidakpuasan banyak pengguna terhadap Unity yang digunakan oleh Ubuntu pada dua rilis terakhir (Natty & Oneiric) termasuk masih banyaknya kekliruan pada Ubuntu yang belum dituntaskan. Hal itu juga diduga merupakan penyebab utama mengapa banyak mantan pengguna Ubuntu berpaling ke Linux Mint.
Pengembang Linux Mint melihat trend tersebut sebagai peluang untuk meningkatkan popularitas Linux Mint. Sebagaimana diumumkan di Blog Mint, dimasa mendatang Linux Mint akan berpegang pada desktop Gnome 3. Walaupun pengmbangnya menyadari bahwa masih banyak pengguna yang lebih menyukai Gnome 2 karena Gnome 3 dirasakan sangat berbeda dalam tata cara penggunaanya. Dengan berakhirnya dukungan untuk Gnome 2, maka tidak lagi tersedia alternatif yang memadai, dan untuk itu Linux Mint 12 nantinya akan memperkenalkan "busana baru" MGSE (Mint Gnome Shell Extensions) yang bisa menampilkan Gnome 3 dengan gaya klasik. Upaya serupa juga dilakukan pengembang distro anak bangsa IGOS Nusantara guna menyiasati transisi dari Gnome 2 ke Gnome 3.
Penerbitan Linux Mint 12 dengan desktop Gnome 3.2 telah dijadwalkan pada tanggal 20 November 2011 mendatang. Seperti pada versi-versi sebelumnya, varian yang mengemas desktop KDE atau desktop-desktop lainnya akan menyusul tidak lama kemudian.
Rabu, 05 Oktober 2011
GNOME Galang Partisipasi Perempuan
Program Outreach GNOME untuk Perempuan (GNOME Outreach Program for Women) membuka peluang bagi perempuan yang ingin berpartisipasi atau magang dalam sebuah proyek perangkat lunak bebas (FOSS). Pendaftaran dapat dilakukan segera sampai dengan akhir Oktober 2011. Outreach Program yang digalang dan didanai oleh Yayasan Gnome, berkolaborasi bersama Google dan Mozilla dengan tujuan untuk membantu dalam upaya melibatkan lebih banyak perempuan di proyek-proyek perangkat lunak bebas.
Magang di proyek Gnome ini berlangsung selama tiga bulan mulai 12 Desember 2011 sampai 12 Maret 2012. Para peserta bekerja dari rumah masing-masing dan dibimbing oleh seorang mentor yang berkolaborasi dengan tim proyek dan mendapatkan dukungan dari seluruh komunitas Gnome. Peserta magang misalnya dapat mengembangkan perangkat lunak inti desktop Gnome, manajemen berkas, pesan (messaging), program-program popular, aplikasi pendidikan atau pustaka platform. Kecuali itu, peserta juga dapat berpartisipasi dalam proyek-proyek bukan pemrograman seperti misalnya desain grafis, dokumentasi atau bidang pemasaran.
Terkait dengan aplikasi yang akan diajukan, peminat diharapkan telah menyimak beberapa proyek Gnome sebelum memutuskan keterlibatannya di sebuah proyek yang diinginkan. Selama magang peserta akan menerima imbalan berupa beasiswa sebesar 5.000 US Dollar. Pada putaran terakhir dari program ini diperbolehkan delapan peserta perempuan untuk mengenal pekerjaan di proyek Gnome lebih jauh. Mentor yang selama magang telah memberikan bimbingannya, juga bisa dipertahankan untuk membantu selanjutnya, apabila peserta ingin terus terlibat dalam proyek perangkat lunak. Website Gnome merinci informasi lebih lanjut tentang Outreach Program berikut cara aplikasinya.
Magang di proyek Gnome ini berlangsung selama tiga bulan mulai 12 Desember 2011 sampai 12 Maret 2012. Para peserta bekerja dari rumah masing-masing dan dibimbing oleh seorang mentor yang berkolaborasi dengan tim proyek dan mendapatkan dukungan dari seluruh komunitas Gnome. Peserta magang misalnya dapat mengembangkan perangkat lunak inti desktop Gnome, manajemen berkas, pesan (messaging), program-program popular, aplikasi pendidikan atau pustaka platform. Kecuali itu, peserta juga dapat berpartisipasi dalam proyek-proyek bukan pemrograman seperti misalnya desain grafis, dokumentasi atau bidang pemasaran.
Terkait dengan aplikasi yang akan diajukan, peminat diharapkan telah menyimak beberapa proyek Gnome sebelum memutuskan keterlibatannya di sebuah proyek yang diinginkan. Selama magang peserta akan menerima imbalan berupa beasiswa sebesar 5.000 US Dollar. Pada putaran terakhir dari program ini diperbolehkan delapan peserta perempuan untuk mengenal pekerjaan di proyek Gnome lebih jauh. Mentor yang selama magang telah memberikan bimbingannya, juga bisa dipertahankan untuk membantu selanjutnya, apabila peserta ingin terus terlibat dalam proyek perangkat lunak. Website Gnome merinci informasi lebih lanjut tentang Outreach Program berikut cara aplikasinya.
Minggu, 02 Oktober 2011
GNOME 3.2 Kelola Layanan Cloud Lebih Baik
Proyek GNOME adalah sebuah proyek utama yang mengembangkan desktop untuk digunakan di berbagai distribusi Linux dan distribusi lain keluarga Unix. Beberapa hari lalu proyek ini telah merilis versi 3.2 yang menyertakan pembaruan dan banyak perbaikan detil. Diantaranya adalah Tool Gnome Online Accounts untuk mengelola akses ke layanan daring (Online) seperti juga pada pengelolaan alamat kontak.
Bersama GNOME 3.2 tersedia update besar pertama dari generasi GNOME 3 yang untuk kali pertama diperkenalkan pada bulan April lalu dan saat ini telah digunakan oleh serangkaian distro seperti pada Fedora 15 dan distro nasional IGOS-2011. Perbaikan yang ditawarkan versi 3.2 terutama untuk mengatisipasi semua kritik yang telah dilontarkan pada versi 3.0 lalu, disamping melakukan penambahan sejumlah fitur baru dan penyempurnaan fitur yang terkait dengan layanan di awan (Cloud Services).
Melalui fitur "Gnome Online Accounts" dimungkinkan pengelolaan terpadu untuk mengakses berbagai akun daring yang dimiliki pengguna. Misalnya akun terdaftar seperti Google, dapat digunakan untuk mengakses aplikasi daring lainnya seperti misalnya aplikasi chat Empathy atau untuk PIM Evolution. Entri di Google-Calender juga dapat disinkronisasikan dengan kalender atau menampilkan e-mail dari Google Mail.
Manjemen Kontak merupakan sebuah fitur baru di GNOME 3.2 untuk mengelola alamat chat dan IRC yang memiliki fungsi pelacakan dari Gnome Shell. Menu status ditambahkan tombol "Do Not Disturb" untuk meminimalisasikan gangguan pemberitahuan, namun bisa ditampilkan bila perlu dari pinggiran bawah layar.
Gnome 3.2 memiliki keyboard layar untuk meningkatkan aksesibilitas dan sekaligus mengoptimalkan Gnome 3 ini untuk penggunaan pada layar sentuh. Bersama fitur colord berikut gnome-settings-daemon terkait, Gnome 3.2 berhasil menyediakan pengaturan warna yang lengkap. Pengguna dapat menyimpan profil warna untuk masing-masing perangkat termasuk penyesuaian dan kalibrasi perangkat eksternal seperti printer dan scanner.
Gnome Shell kini mengambilalih pengelolaan media penyimpanan eksternal dengan menyediakan aplikasi untuk pengelolaan berkas dan gambar. Fitur baru "Quick File Previewer" dapat digunakan untuk menampilkan gambar pratilik secara instan dan mendukung format berkas foto, dokumen PDF, teks, dan beberapa format lainnya.
Browser Gnome Epiphany bisa digunakan untuk menyulap sebuah situs favorit menjadi sebuah aplikasi Web Apps. Aplikasi yang dihasilkan ditampilkan di daftar aplikasi dan bisa langsung dijalankan sebagaimana layaknya sebuah aplikasi. Fitur ini memberikan kenyamanan pengguna situs-situs tertentu seperti Facebook, Google+ atau Twitter. Web Apps dijalankan Epiphany secara terpisah sehingga tidak rentan bila terjadi crash pada browser.
Rincian perbaikan dan pembaruan Gnome 3.2 lainnya dipublikasikan di Release Notes.
Bersama GNOME 3.2 tersedia update besar pertama dari generasi GNOME 3 yang untuk kali pertama diperkenalkan pada bulan April lalu dan saat ini telah digunakan oleh serangkaian distro seperti pada Fedora 15 dan distro nasional IGOS-2011. Perbaikan yang ditawarkan versi 3.2 terutama untuk mengatisipasi semua kritik yang telah dilontarkan pada versi 3.0 lalu, disamping melakukan penambahan sejumlah fitur baru dan penyempurnaan fitur yang terkait dengan layanan di awan (Cloud Services).
Melalui fitur "Gnome Online Accounts" dimungkinkan pengelolaan terpadu untuk mengakses berbagai akun daring yang dimiliki pengguna. Misalnya akun terdaftar seperti Google, dapat digunakan untuk mengakses aplikasi daring lainnya seperti misalnya aplikasi chat Empathy atau untuk PIM Evolution. Entri di Google-Calender juga dapat disinkronisasikan dengan kalender atau menampilkan e-mail dari Google Mail.
Manjemen Kontak merupakan sebuah fitur baru di GNOME 3.2 untuk mengelola alamat chat dan IRC yang memiliki fungsi pelacakan dari Gnome Shell. Menu status ditambahkan tombol "Do Not Disturb" untuk meminimalisasikan gangguan pemberitahuan, namun bisa ditampilkan bila perlu dari pinggiran bawah layar.
Gnome 3.2 memiliki keyboard layar untuk meningkatkan aksesibilitas dan sekaligus mengoptimalkan Gnome 3 ini untuk penggunaan pada layar sentuh. Bersama fitur colord berikut gnome-settings-daemon terkait, Gnome 3.2 berhasil menyediakan pengaturan warna yang lengkap. Pengguna dapat menyimpan profil warna untuk masing-masing perangkat termasuk penyesuaian dan kalibrasi perangkat eksternal seperti printer dan scanner.
Gnome Shell kini mengambilalih pengelolaan media penyimpanan eksternal dengan menyediakan aplikasi untuk pengelolaan berkas dan gambar. Fitur baru "Quick File Previewer" dapat digunakan untuk menampilkan gambar pratilik secara instan dan mendukung format berkas foto, dokumen PDF, teks, dan beberapa format lainnya.
Browser Gnome Epiphany bisa digunakan untuk menyulap sebuah situs favorit menjadi sebuah aplikasi Web Apps. Aplikasi yang dihasilkan ditampilkan di daftar aplikasi dan bisa langsung dijalankan sebagaimana layaknya sebuah aplikasi. Fitur ini memberikan kenyamanan pengguna situs-situs tertentu seperti Facebook, Google+ atau Twitter. Web Apps dijalankan Epiphany secara terpisah sehingga tidak rentan bila terjadi crash pada browser.
Rincian perbaikan dan pembaruan Gnome 3.2 lainnya dipublikasikan di Release Notes.
Rabu, 25 Mei 2011
Giliran openSUSE Gandrungi Unity
Menurut Nelson Marques yang ditulis di blog-nya, ia telah melakukan penyesuaian (portasi) antarmuka Unity 2D, yaitu sebuah varian dari Desktops Unity tanpa perlu akselerasi 3D.
Proyek Ubuntu telah menggunakan varian ini hanya untuk edisi Netbook prosesor ARM dan dimasa depan disiapkan untuk disatukan dengan keluarga Unity lainnya agar nantinya semua jenis komputer bisa memiliki antar muka yang seragam. Edisi ini sekaligus meniadakan alternatif GNOME 2.x dan juga tidak lagi menyediakan dukungan untuk itu. Dengan demikian dimasa depan hanya disediakan alternatif dengan basis menggunakan GNOME 3 atau Qt.
Unity yang awalnya dikembangkan oleh Ubuntu dan untuk kali pertama dijadikan antar muka default untuk rilis Ubuntu 11.04 (Natty Narwhal), kini juga disesuaikan untuk openSUSE dan paket Unity tersebut dapat ditemukan di lumbung Build Service proyek GNOME:Ayatana-Repository, termasuk aplikasi popular seperti Evolution, Banshee, Empathy, Metacity, dan sejumlah indikator asal Ubuntu. Dalam waktu dekat Unity 2D, atas inisiatif Nelson Marques juga menjadi bagian permanen dari repositori tersebut.
Unity 2D merupakan paket aplikasi pertama yang digunakan Marques untuk merancang fitur indikator Unity termasuk launcher auto-hide, selektor workspace, menu aplikasi & files, dan transparansi secara default. Sejumlah screenshots dapat disimak di blog-nya Marques dan termasu yang dikutip disini.
Proyek Ubuntu telah menggunakan varian ini hanya untuk edisi Netbook prosesor ARM dan dimasa depan disiapkan untuk disatukan dengan keluarga Unity lainnya agar nantinya semua jenis komputer bisa memiliki antar muka yang seragam. Edisi ini sekaligus meniadakan alternatif GNOME 2.x dan juga tidak lagi menyediakan dukungan untuk itu. Dengan demikian dimasa depan hanya disediakan alternatif dengan basis menggunakan GNOME 3 atau Qt.
Unity yang awalnya dikembangkan oleh Ubuntu dan untuk kali pertama dijadikan antar muka default untuk rilis Ubuntu 11.04 (Natty Narwhal), kini juga disesuaikan untuk openSUSE dan paket Unity tersebut dapat ditemukan di lumbung Build Service proyek GNOME:Ayatana-Repository, termasuk aplikasi popular seperti Evolution, Banshee, Empathy, Metacity, dan sejumlah indikator asal Ubuntu. Dalam waktu dekat Unity 2D, atas inisiatif Nelson Marques juga menjadi bagian permanen dari repositori tersebut.
Unity 2D merupakan paket aplikasi pertama yang digunakan Marques untuk merancang fitur indikator Unity termasuk launcher auto-hide, selektor workspace, menu aplikasi & files, dan transparansi secara default. Sejumlah screenshots dapat disimak di blog-nya Marques dan termasu yang dikutip disini.
Rabu, 27 Oktober 2010
Ubuntu Ganti Gnome-Shell Dengan Unity
Pendiri Ubuntu Mark Shuttleworth memutuskan untuk menggunakan antarmuka Unity sebagai Desktop Standar untuk Ubuntu mulai versi 11.04 (Natty Narwhal) mendatang. Pernyataan Shuttleworth yang dilontarkan di ajang acara "Ubuntu Developer Summit" di Florida membahas alasan untuk pilihan Unity yang telah diperkenalkan sebelumnya di acara yang sama di Belgia enam bulan sebelumnya dan saat ini telah diimplementasikan di edisi Netbook 10.10. Pada prinsipnya Unity adalah Gnome yang disesuaikan agar layar dapat digunakan lebih optimal.
Penerapan Unity sebagai standar untuk Ubuntu merupakan sebuah langkah besar dan menurut Shuttleworth adalah tindakan yang riskan yang masih memerlukan banyak kerja keras. Dengan bertambahnya jarak mengiringi perubahan yang dilakukan Ubuntu terhadap Gnome edisi standar, adalah salah satu upaya Ubuntu untuk tampil beda dari distro-distro lainnya yang menggunakan Gnome sebagai basis. Menurut Shuttleworth, persaingan berbagai jenis antarmuka diantara distro berbasis Gnome akan mendorong inovasi secara keseluruhan. Walaupun demikian, pendapat yang berkembang di komunitas Gnome tentang langkah Ubuntu ini pada umumnya berbeda dan kebanyakan menolaknya, sementara beberapa pengamat bahkan menganggapnya sebagai sebuah "fork".
Upaya terhadap Gnome serupa sebenarnya pernah ada, dimana Nokia menciptakan antarmuka Hildon untuk tablet internetnya dan Intel meracik Shell menggunakan Clutter untuk membangun MeeGo. Keputusan Canonical yang dilontarkan oleh Shuttleworth dianggap komunitas sebagai langkah mundur untuk Gnome Shell yang kini sedang mempersiapkan peluncurannya di bulan Maret 2011 bersama versi akbar Gnome 3.0.
Shuttleworth menyadari hal itu dan justru ingin menangkal kemungkinan fragmentasi dari Gnome dengan melakukan standarisasi melalui FreeDesktop.org untuk semua mekanisme integrasi desktop. Sebagai contoh adalah spesifikasi "Media Player Remote Interfacing" yang menyambungkan pemutar musik dengan indikator audio di Ubuntu. Baca selebihnya ....
Penerapan Unity sebagai standar untuk Ubuntu merupakan sebuah langkah besar dan menurut Shuttleworth adalah tindakan yang riskan yang masih memerlukan banyak kerja keras. Dengan bertambahnya jarak mengiringi perubahan yang dilakukan Ubuntu terhadap Gnome edisi standar, adalah salah satu upaya Ubuntu untuk tampil beda dari distro-distro lainnya yang menggunakan Gnome sebagai basis. Menurut Shuttleworth, persaingan berbagai jenis antarmuka diantara distro berbasis Gnome akan mendorong inovasi secara keseluruhan. Walaupun demikian, pendapat yang berkembang di komunitas Gnome tentang langkah Ubuntu ini pada umumnya berbeda dan kebanyakan menolaknya, sementara beberapa pengamat bahkan menganggapnya sebagai sebuah "fork".
Upaya terhadap Gnome serupa sebenarnya pernah ada, dimana Nokia menciptakan antarmuka Hildon untuk tablet internetnya dan Intel meracik Shell menggunakan Clutter untuk membangun MeeGo. Keputusan Canonical yang dilontarkan oleh Shuttleworth dianggap komunitas sebagai langkah mundur untuk Gnome Shell yang kini sedang mempersiapkan peluncurannya di bulan Maret 2011 bersama versi akbar Gnome 3.0.
Shuttleworth menyadari hal itu dan justru ingin menangkal kemungkinan fragmentasi dari Gnome dengan melakukan standarisasi melalui FreeDesktop.org untuk semua mekanisme integrasi desktop. Sebagai contoh adalah spesifikasi "Media Player Remote Interfacing" yang menyambungkan pemutar musik dengan indikator audio di Ubuntu. Baca selebihnya ....
Langganan:
Postingan (Atom)









