Tampilkan postingan dengan label Smartphone. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Smartphone. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 November 2013

Proyek ARA: Open Smartphone Modular Dari Motorola

Di bawah nama Proyek Ara, saat ini Motorola sedang bekerja dalam pengembangan smartphone modular secara terbuka. Menurut Motorola, tujuannya adalah "membuat perangkat keras untuk mencapai seperti apa yang telah dicapai oleh Android dalam perangkat lunak." Dengan demikian, pada dasarnya Google melalui anak perusahannya ingin menciptakan smartphone yang komposisinya dapat disesuaikan seperti yang diinginkan oleh masing-masing pelanggan. Untuk itu, diduga hak paten Modu yang dibeli oleh Google juga turut memainkan perannya. Berbeda dengan Modu, proyek ini merencanakan seluruh ekosistem, termasuk untuk mengembangkan komponen perangkat keras dari pihak ketiga.



Konsep itu akan memberikan kesempatan kepada pembeli untuk memilih, misalnya  touchscreen dan prosesor apa yang akan dipasang untuk smartphone mereka dengan kapasitas baterai yang disesuaikan. Kecuali itu, juga tipe kamera yang digunakan, ukuran memori internal atau jenis keyboard bisa ditentukan oleh pembeli. Masing-masing komponen tersebut tidak harus hanya datang dari Motorola, tetapi juga bisa berasal dari penyedia lainnya.

Konsep ini sangat mirip dengan ide yang dicetuskan Phonebloks, oleh desainer Dave Hakkens asal negeri Belanda yang diungkapkan pada bulan September 2013. Menurut Motorola, proyek Ara telah berjalan selama satu tahun, kemudian bekerja sama dengan Phonebloks dengan tujuan menggabungkan kedua gagasan proyek mereka.

Dengan demikian, diharapkan tidak terjadi dua konsep smartphone modular berbeda secara paralel. Sebaliknya, Motorola ingin menyatukan kapasitas dari pengembang lainnya, untuk memungkinkan smartphone modular menjadi sebuah kenyataan.

Dasar konsep proyek Ara adalah "endoskeleton (endo) dan modules", yang oleh Motorola disebut Endo dan pada prinsipnya merupakan dasar atau basis dari smartphone. Diatas Endo kemudian dapat dipasang atau di cantolin modul-modul untuk membangun sebuah smartphone yang lengkap. Menurut Motorola, modul tersebut pada dasarnya adalah berbagai komponen dengan fungsi apa saja, sehingga memungkinkan dengan mudah semua kategori produk baru dapat dibuat, tanpa batasan. Semuanya hanya tergantung pada ide-ide apa yang diberikan oleh pengembang modul perangkat keras yang dapat diadopsi untuk konsep tersebut.

Layaknya sebuah proyek Open Source Hardware, para relawan dapat mendaftar di www.dscout.com/ara untuk mendukung proyek tersebut. Mereka dapat terlibat dan memberikan gagasan untuk merealisasikan ide-ide implementasinya. Dalam beberapa bulan mendatang para pengembang akan diundang untuk berpartisipasi dalam proyek tersebut. Sementara pada saat ini, Motorola ingin melanjutkan penghimpunan ide-ide.

Pada musim dingin mendatang, direncanakan penerbitan versi alpha pertama sebuah Kit Modul untuk Developer (MDK). Dengan perkakas tersebut, diharapkan para pengembang perangkat keras, akan mampu mengembangkan modul-modul yang kompatibel untuk Ara.

Sejatinya, lima tahun yang lalu sudah ada konsep ponsel modular. Dan dua tahun lalu, Google telah membeli paten Modu yang diduga telah digunakan menjadi basis pendukung Proyek Ara. Gagasan Modu yang dikembangkan oleh perusahan Israel tersebut sejak awal tahun 2011 tidak dapat meneruskannya karena kekurangan dana.



Selasa, 26 Oktober 2010

Microsoft Bebankan Biaya Lisensi Atas Android?

Menurut liputan Digitimes yang menggali dari sumber kalangan produsen hardware di Taiwan, disebutkan bahwa Microsoft ingin membebankan biaya lisensi terhadap produk smartphone Android buatan Acer dan Asus. Android adalah sistem operasi bebas dan pengembangnya Google tidak memungut biaya apapun dari pengguna, namun  belum ada yang memastikan apakah semua komponennya telah bebas dari klaim hak paten.

Microsoft mengklaim adanya beberapa pelanggaran dari Android berkaitan dengan paten terutama untuk komponen Email dan Multimedia. Dilihat dari kacamata Microsoft, setiap pembuat smartphone dengan sistem operasi Android: "maju kena, mau mundurpun kena." Dan dari apa yang telah terjadi, mudah diduga bahwa Microsoft menginginkan imbalan seperti halnya dengan kesepakatan bersama HTC yang juga memproduksi smartphone Android, atau membawa pembangkang Pungli (Pungutan Lisensi) ke meja hijau seperti contoh soal terhadap Motorola baru-baru ini.

Seiring dengan popularitas sistem operasi bebas Android belakangan ini, tidak semua pihak merasa nyaman bila konsumen menggandrungi Android kemudian banyak yang mempersalahkan keberadaannya (Android). Baik ditilik dari kasus tuntutan Apple terhadap HTC dan Oracle terhadap Google, maupun saling tuntut antara Apple dan Nokia, para pengamat hampir sepakat bahwa semua target bermuara di Android yang mulai naik daun.

Rabu, 04 Agustus 2010

OS Smartphone: Android Salib iPhone?

Berdasarkan laporan peneliti pasar Nielsen, Android pada kwartal kedua 2010 telah digunakan oleh 27 persen smartphones terjual sebagai sistem operasi mobile, sementara Apple iPhone OS memperoleh porsi 23%. Pergeseran penggunaan Smartphones diantara pengguna telepon genggam menurut laporan The Nielsen Company meningkat sekitar 2 sampai 3 persen per quartal dan saat ini mencapai 25% dari jumlah pengguna mobile di USA. Tren ini akan terus meningkat dan diprediksi bahwa jumlah pengguna smartphone akan lebih banyak dari telepon genggam biasa menjelang akhir tahun 2011.

Diantara pemain Smartphones saat ini, perangkat dengan BlackBerry OS menguasai sekitar 35% pangsa pasar, sementara Apples iPhone OS mendapat 28%. Windows Mobile melorot dan saat ini memperoleh 15%, dilain pihak Android meningkat terus sejak kwartal ke 4 tahun 2009 dan kini telah menguasai rata-rata 13%. Sistem Linux lainnya, Symbian OS dan Palm OS sisanya total 2%.

Bila diteliti hanya posisi kwartal 2 tahun 2010 maka Android menguasai 27% sebagai nomor 2 setelah BlackBerry OS (33%) dan masih diatas iPhone OS (23%). Di kwartal ini Windows Mobile memperoleh 11%.

Menguji kesetiaan para pengguna smartphone yang sedang berfikir untuk beralih model, maka iPhone merupakan favorit utama, diamana 89% dari pemilik iPhone menurut Nielsen ingin tetap memilih merek yang sama, sementara hanya 6% ingin beralih ke Android. Pengguna Android yang ingin tetap memilih OS yang sama sebanyak 71% dan 21% mendambakan iPhone sebagai smartphone idamannya. Tingkat kesetiaan paling rendah menurut laporan Nielsen adalah para pengguna BlackBerry OS yang hanya 42% masih merencanakan tetap bersama BB pada kesempatan ganti Smartphone berikutnya.

Peneliti pasar lain Canalys yang juga mengamati pasar smartphone dengan data berdasarkan pasar global mencatat peningkatan sebesar 880%.