Digitalisasi pencetakan pakaian kini semakin dekat menjadi sebuah kenyataan. OpenKnit adalah mesin pencetak open-source dengan biaya rendah yang bisa merajut "sweater" langsung dari file digital yang mengandung data disain pakaian yang akan dirajut.
Dalam waktu sekitar satu jam, mesin tenun digital yang di-ilhami oleh proyek RepRap (kelompok pencipta 3D-Printer Open Source) ini dapat merajut bahan baku mulai dari benang menjadi produk akhir berupa sehelai sweater. Peluang merancang dan memproduksi pakaian digital siap pakai yang dapat dilakukan di tempat yang sama kini dimungkinkan, dan memberi keuntungan bagi pengguna terutama para perancang pakaian untuk mencetak contoh disain langsung dari file (.STL), baik rancangan sendiri atau pun diunduh dari internet. Dalam hal ini, jarum perajut menggantikan peran dari extruder pada pencetak 3D.
Pada tahap pengembangan saat ini, OpenKnit masih belum sepenuhnya otonom. Sebagaimana ditunjukkan video yang diposting sang pencipta Gerard Rubio, masih terlihat perlunya bantuan manual selama berlangsungnya proses merajut. Target terakhir adalah sebuah mesin yang dapat mengambil file .STL dan langsung merajutnya sampai jadi.
Kecuali itu OpenKnit dapat juga mengolah berkas dari mesin rajut lain bernama Knitic, yang juga bekerja mirip dengan OpenKnit namun tidak menggunakan jenis File .STL.
OpenKnit adalah hasil proyek open-source, yang berarti bebas berbagi desain dan kode sumber software dengan publik, dan mendorong agar siapa saja melakukan memodifikasi dan meningkatkannya. Rancangan perangkat OpenKnit disimpan dan dapat dari situs lumbung proyek Github. Rubio juga menyebutkan biaya pembuatan mesin yang memberdayakan kontroler mikro Arduino ini, yaitu kurang dari 550 Euro atau sekitar $ 750 USD.
Menurut Rubio, OpenKnit ini dirancang untuk memberikan alternatif model produksi industri terhadap sebagian besar pakaian komersial dimasa mendatang, disamping memberikan pengguna hak kendali yang lebih fleksibel terhadap pakaian yang mereka kenakan.
Tampilkan postingan dengan label OSHW. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OSHW. Tampilkan semua postingan
Minggu, 02 Maret 2014
Kamis, 14 November 2013
Kit Touch Board dan Arduino, Jantung Sensor Sentuh dan Cat Konduktif
Penginderaan kapasitif dapat digunakan tidak hanya pada smartphone Anda. Untuk memicu semua jenis sirkuit, juga dapat menggunakan permukaan konduktif apa saja, bahkan dapat menggunakan kontak melalui kulit manusia. Touch Board, sebuah proyek OSS (Open Source Software) dan OSHW (Open Source Hardware) dari Bare Conductive, ingin mendukung semangat DIY Anda dengan menyediakan kemampuan untuk mengubah hampir semua permukaan menjadi sensor penginderaan.
Intinya adalah berupa sebuah mikrokontroler yang kompatibel atau langsung disatukan dengan papan SBC Arduino tipe Leonardo, berikut beberapa tambahan yang ditanamkan di dalamnya, termasuk sensor sentuh menggunakan komponen Freescale yang terhubung ke 12 elektroda dan prosesor audio untuk memicu suara MIDI atau file MP3.
Untuk menjalankannya, Anda dapat memicu elektroda dengan menyentuh mereka atau menghubungkan mereka ke berbagai bahan konduktif, seperti kawat dan lainnya, termasuk pena cat elektrik, yang semuanya membuka segala kemungkinan untuk digunakan sebagai input. Cat seperti marker ini sering digunakan untuk grafiti skala kecil, mengeluarkan tinta hitam konduktif yang dapat mengubah dinding, selembar kertas atau hampir permukaan benda apa pun menjadi sensor pemicu. MicroSD yang dipasang, misalnya dapat diisi dengan serangkaian sampel suara yang masing-masing dapat dipicu melalui kontroler Touch Board.
Proyek Startup ini dipamerkan di situs pendanaan publik via Kickstarter dan saat ini, melampaui separuh waktu sebelum tenggang waktu pendanaan berakhir, sudah berhasil mengumpulkan lebih dari empat kali lipat target pendanaan minimal yang diharapkan agar bisa diproduksi untuk memenuhi permintaan masyarakat luas, terutama yang ingin memilikinya.
Intinya adalah berupa sebuah mikrokontroler yang kompatibel atau langsung disatukan dengan papan SBC Arduino tipe Leonardo, berikut beberapa tambahan yang ditanamkan di dalamnya, termasuk sensor sentuh menggunakan komponen Freescale yang terhubung ke 12 elektroda dan prosesor audio untuk memicu suara MIDI atau file MP3.
Untuk menjalankannya, Anda dapat memicu elektroda dengan menyentuh mereka atau menghubungkan mereka ke berbagai bahan konduktif, seperti kawat dan lainnya, termasuk pena cat elektrik, yang semuanya membuka segala kemungkinan untuk digunakan sebagai input. Cat seperti marker ini sering digunakan untuk grafiti skala kecil, mengeluarkan tinta hitam konduktif yang dapat mengubah dinding, selembar kertas atau hampir permukaan benda apa pun menjadi sensor pemicu. MicroSD yang dipasang, misalnya dapat diisi dengan serangkaian sampel suara yang masing-masing dapat dipicu melalui kontroler Touch Board.
Proyek Startup ini dipamerkan di situs pendanaan publik via Kickstarter dan saat ini, melampaui separuh waktu sebelum tenggang waktu pendanaan berakhir, sudah berhasil mengumpulkan lebih dari empat kali lipat target pendanaan minimal yang diharapkan agar bisa diproduksi untuk memenuhi permintaan masyarakat luas, terutama yang ingin memilikinya.
Kamis, 31 Oktober 2013
Lampu Senter Tenaga Air
"Tiada Rotan Akar-pun Berguna" atau tidak ada batere airpun juga jadi, dapat dikiaskan untuk proyek anak sekolahan asal Filipina ini. Proyek DIY "Water Powered Flashlight" yang sederhana tapi bermanfaat dan ramah lingkungan ini dapat menggantikan batere menggunakan air sebagai bahan untuk menghasilkan tenaga listrik sebuah lampu senter.
Kendati telah berfungsi, lampu senter tenaga air ini masih dalam tahap eksperimental, namun menurut penemunya Angelo Casimiro (15 tahun) akan membantu dalam merancang prototipe dengan prospek yang cerah. Seperti serangkaian disain ciptaan Angelo lainnya, cara pembuatannya dirinci panduan berupa panduan bebas sebagaimana layaknya sebuah proyek Open Source Hardware.
Contoh senter buatan Angelo dengan konstruksi satu sel, dapat menyalakan lampu LED secara terus menerus selama 30 menit menggunakan air keran atau air selokan, dan bisa tahan 2 jam bila menggunakan air asin. Anak ABG yang sudah ngoprek sejak balita (umur 4) menambahkan, bahwa kekuatan atau durasi pencahayaan dari lampu senternya bisa menjadi tiga kali lipat kalau ditambahkan sel kedua. Angelo adalah juga anggota "Instructable" sejak lebih dari empat tahun, tempat dimana ia menginangkan sejumlah proyek ciptaannya.
Menyimak cara kerjanya, perangkat eco-friendly ini, sejatinya bukan barang ajaib. Prinsip kerjanya tidak berbeda dengan sebuah batere, yang menghasilkan setrum menggunakan 2 keping elektrolit dari cairan, yang dalam hal ini adalah air. Karena tegangan yang dihasilkan tidak cukup untuk membuat LED bersinar, Angelo menyiasatinya dengan trik "Joule Thief Circuit" atau "Sirkuit pencuri Joule" yang memungkinkan LED menyala pada tegangan rendah.
Dari serangkaian percobaan yang dilakukan Angelo, menggunakan air keran senternya sudah menyala, namun menambahkannya dengan garam, maka lampu LED menjadi lebih bersinar dan yang terbaik adalah bila ditambahkan cuka, dan dengan rasa nano-nano membuat LED bersinar paling terang.
Semua komponen yang diperlukan untuk membangun senter tenaga air ini relativ mudah didapatkan, terdiri dari pipa pralon (3/4 inci), dan sok sambungan pralon, batang tembaga dan zinc dari toko hardware, dan dari toko komponen elektronik berupa transitor tipe NPN, lampu LED, dan beberapa komponan daur ulang misalnya berasal dari bohlam hemat listrik CFL. Keterangan lebih rinci dapat disimak di Instructable.
Kendati telah berfungsi, lampu senter tenaga air ini masih dalam tahap eksperimental, namun menurut penemunya Angelo Casimiro (15 tahun) akan membantu dalam merancang prototipe dengan prospek yang cerah. Seperti serangkaian disain ciptaan Angelo lainnya, cara pembuatannya dirinci panduan berupa panduan bebas sebagaimana layaknya sebuah proyek Open Source Hardware.
Contoh senter buatan Angelo dengan konstruksi satu sel, dapat menyalakan lampu LED secara terus menerus selama 30 menit menggunakan air keran atau air selokan, dan bisa tahan 2 jam bila menggunakan air asin. Anak ABG yang sudah ngoprek sejak balita (umur 4) menambahkan, bahwa kekuatan atau durasi pencahayaan dari lampu senternya bisa menjadi tiga kali lipat kalau ditambahkan sel kedua. Angelo adalah juga anggota "Instructable" sejak lebih dari empat tahun, tempat dimana ia menginangkan sejumlah proyek ciptaannya.
Menyimak cara kerjanya, perangkat eco-friendly ini, sejatinya bukan barang ajaib. Prinsip kerjanya tidak berbeda dengan sebuah batere, yang menghasilkan setrum menggunakan 2 keping elektrolit dari cairan, yang dalam hal ini adalah air. Karena tegangan yang dihasilkan tidak cukup untuk membuat LED bersinar, Angelo menyiasatinya dengan trik "Joule Thief Circuit" atau "Sirkuit pencuri Joule" yang memungkinkan LED menyala pada tegangan rendah.
Dari serangkaian percobaan yang dilakukan Angelo, menggunakan air keran senternya sudah menyala, namun menambahkannya dengan garam, maka lampu LED menjadi lebih bersinar dan yang terbaik adalah bila ditambahkan cuka, dan dengan rasa nano-nano membuat LED bersinar paling terang.
Semua komponen yang diperlukan untuk membangun senter tenaga air ini relativ mudah didapatkan, terdiri dari pipa pralon (3/4 inci), dan sok sambungan pralon, batang tembaga dan zinc dari toko hardware, dan dari toko komponen elektronik berupa transitor tipe NPN, lampu LED, dan beberapa komponan daur ulang misalnya berasal dari bohlam hemat listrik CFL. Keterangan lebih rinci dapat disimak di Instructable.
Jumat, 04 Oktober 2013
Galileo: Intel Quark Gabung Keluarga Besar Arduino
Awal September lalu, di ajang forum pengembang IDF (San Francisco) Intel telah mengungkapkan sebuah platform baru untuk "Wearable Computing", dan memperkenalkan keluarga Quark X1000, yaitu prosesor x86 kecil yang di targetkan untuk pasar embedded. Dimensi Quark hanya seperlima dari ukuran prosesor Atom dengan konsumsi energi hanya sepersepuluhnya. Quark merupakan SoC yang sepenuhnya dapat disintesis (synthesizable), memiliki arsitektur yang terbuka dan mendukung software standar industri. Intel rupanya tidak mau ketinggalan di pasar Mikrokontroler yang saat ini dikuasai arsitektur ARM sebagi mesin pemroses pada SmartPhone, SmartWatch dan gadget sejenisnya, juga pada platform Open Source Hardware untuk edukasi Raspberry Pi dan Arduino.
Di ajang Maker Faire di Roma yang saat ini sedang berlangsung, CEO Intel Brian Krzanich kali ini mengumumkan kerjasama dengan Arduino, mempersembahkan papan pengembangan dengan Quark inside. Diatas sebuah papan SBC bernama Galileo tersebut, ditanamkan prosesor SoC Intel Quark X1000 yang rencananya akan dikapalkan mulai bulan November 2013.
Sebagai anggota baru keluarga Arduino, Galileo adalah kompatibel dengan saudara-saudara angkatnya, baik hardware maupun software dengan papan-papan Arduino lainnya yang saat ini jenisnya sudah mendekati duapuluh. Dengan demikian berarti bahwa papan Galileo dapat disambungkan dan pas secara mekanik maupun elektronis dengan papan-papan Arduino lainnya, sehingga para pengembang hobi dan profesional dapat dengan mudah menggabungkannya menjadi prototipe untuk menciptakan produk yang diinginkan. Melalui situs khusus Galileo, Intel juga menyediakan dokumentasi (PDF) yang lengkap berkaitan dengan Open Source Harware ini, terutama bagi mereka yang tertarik untuk mengembangkan produk ditenagai menggunakan Quark.
Prosesor Quark adalah sebuah SoC 32-bit dengan set instruksi arsitektur Intel Pentium dan 512KB RAM tertanam. Papan Galileo dilengkapi dengan sambungan 10/100 Ethernet, mendukung penuh kartu PCI Expres Mini, konektor USB 2.0 host dan klien, 10-pin JTAG header untuk debugging, 8MB flash storage untuk firmware atau bootloader, dan 256MB RAM. Untuk penyimpanan ekstra, disediakan card reader untuk kartu SD (microSD).
Dikutip dari berbagai sumber Internet, disebutkan bahwa CEO Intel akan menyumbangkan 50.000 papan Galileo untuk 1.000 universitas di seluruh dunia dalam kurun waktu 18 bulan ke depan. Raksasa chip ini juga akan bekerja sama dengan 17 universitas untuk mengembangkan kurikulum berdasarkan papan Open Hardware Galileo besutan Intel.
Di ajang Maker Faire di Roma yang saat ini sedang berlangsung, CEO Intel Brian Krzanich kali ini mengumumkan kerjasama dengan Arduino, mempersembahkan papan pengembangan dengan Quark inside. Diatas sebuah papan SBC bernama Galileo tersebut, ditanamkan prosesor SoC Intel Quark X1000 yang rencananya akan dikapalkan mulai bulan November 2013.
Sebagai anggota baru keluarga Arduino, Galileo adalah kompatibel dengan saudara-saudara angkatnya, baik hardware maupun software dengan papan-papan Arduino lainnya yang saat ini jenisnya sudah mendekati duapuluh. Dengan demikian berarti bahwa papan Galileo dapat disambungkan dan pas secara mekanik maupun elektronis dengan papan-papan Arduino lainnya, sehingga para pengembang hobi dan profesional dapat dengan mudah menggabungkannya menjadi prototipe untuk menciptakan produk yang diinginkan. Melalui situs khusus Galileo, Intel juga menyediakan dokumentasi (PDF) yang lengkap berkaitan dengan Open Source Harware ini, terutama bagi mereka yang tertarik untuk mengembangkan produk ditenagai menggunakan Quark.
Prosesor Quark adalah sebuah SoC 32-bit dengan set instruksi arsitektur Intel Pentium dan 512KB RAM tertanam. Papan Galileo dilengkapi dengan sambungan 10/100 Ethernet, mendukung penuh kartu PCI Expres Mini, konektor USB 2.0 host dan klien, 10-pin JTAG header untuk debugging, 8MB flash storage untuk firmware atau bootloader, dan 256MB RAM. Untuk penyimpanan ekstra, disediakan card reader untuk kartu SD (microSD).
Dikutip dari berbagai sumber Internet, disebutkan bahwa CEO Intel akan menyumbangkan 50.000 papan Galileo untuk 1.000 universitas di seluruh dunia dalam kurun waktu 18 bulan ke depan. Raksasa chip ini juga akan bekerja sama dengan 17 universitas untuk mengembangkan kurikulum berdasarkan papan Open Hardware Galileo besutan Intel.
Kamis, 01 Agustus 2013
MinnowBoard: Open Source Hardware Berbasis Prosesor Intel Atom
MinnowBoard yang dirilis sebagai OSHW (Open Source Hardware) baru-baru ini, adalah hasil kerjasama CircuitCo Elektronics dan Intels Open Source Technology Center, berupa motherboard yang ditenagai oleh prosesor tipe Atom. Komputer papan tunggal (SBC) Minnowboard dengan disain bebas tersebut ditargetkan untuk para pengembang yang ingin membuat aplikasi atau perangkat divais berbasis arsitektur x86.Pada Minnowboard ditanamkan prosesor Intel tipe Atom E640 dengan kecepatan frekuensi detak sebesar 1,0 GHz, dapat mengakses 1 GB DDR2 RAM (tidak dapat diupgrade) yang juga disolder pada papan sirkuit seluas 10.7cm x 10.7cm yang sama. Papan sirkuit ini, juga menyediakan sejumlah konektor, masing-masing untuk input dan output audio analog, slot untuk kartu microSD dan sebuah port SATA2 yang dapat disambungkan ke hard-disk.
Peripheral dapat dihubungkan melalui dua port USB host yang tersedia di MinnowBoard tersebut. Menggunakan MicroUSB port B, MinnowBoard ini bisa dijadikan sebagai sebuah perangkat USB. Lebih dari itu, mini USB-port B yang sama juga dapat dimanfaatkan untuk keperluan debugging.
Untuk menunjang penampilan dan pemrosesan grafis, komputer papan tunggal Minnowboard telah ditanamkan Graphics Media Acelerator (GMA) 600 dengan DVI yang disalurkan melalui HDMI. Tidak dilupakan adalah konektor Gigabit Ethernet yang memungkinkan papan berkomunikasi dan diintegrasikan ke jaringan lokal dan internet. Seperti pada papan SBC lainnya (Arduino atau Raspberry Pi), Minnowboard juga telah dilengkapi dengan port ekspansi, yaitu berupa delapan pin GPIO yang telah di buffer, dua GPIO pengendali LED, empat saklar (switch) GPIO dan sistem Header untuk pemrograman Flash (System Flash Programming Header).Sebagai sistem operasi yang digunakan untuk menjalankan papan berbasis prosesor Atom ini, disediakan sistem kompatibel dengan Angstrom Linux, yang diturunkan dari Proyek Yocto 1.3. Pembuatnya juga menjanjikan distribusi lanjutan. Sejatinya pada saat ini sudah tersedia banyak distribusi Linux lainnya yang mendukung arsitektur Atom x86. Seperti diketahui, keluarga prosesor Intel Atom E640 telah cukup lama berkiprah (sejak tahun 2010) dipasaran.
CircuitCo dan Intel berharap agar Open Hardware MinnowBoard yang dibandrol sekitar 2 juta rupiah (199 USD) tersebut akan digandrungi oleh komunitas pengembang dan banyak digunakan untuk segala jenis proyek pengembangan perangkat. Silakan mengunduh detil spesifikasi (PDF 1.24MB) untuk keterangan lebih rinci. Website MinnowBoard juga menyediakan sumber yang lengkap termasuk skematik, disain papan sirkuit (PCB), berkas disain ORCAD, berkas generik CAD, Berkas manufacturing (data Gerber dll) dan daftar BOM (Bill of Materials).
Kamis, 10 November 2011
OSHW: Edisi Perdana Open Hardware Journal
Open Source Hardware
(OSHW) adalah Hardware sumber terbuka yang terdiri dari artefak fisik
dari teknologi yang dirancang dan ditawarkan dengan cara yang sama
seperti sebuah perangkat lunak bebas dan open source (FOSS). OSHW
adalah bagian dari gerakan budaya masyarakat open source dalam
menerapkan konsep sumber terbuka ke berbagai komponen yang dalam hal ini
adalah perangkat keras.
Seperti pada FOSS, hal ini dapat diartikan bahwa informasi tentang hardware yang dirilis dibawah kesepakatan OSHW haruslah mudah diakses siapa saja. Desain sebuah hardware, yaitu gambar mekanik, skema, daftar material, data layout PCB, kode HDL (hardware description language) dan data tata letak sirkuit terpadu, seperti juga perangkat lunak yang digunakan untuk menjalankan perangkat keras tersebut, semuanya dirilis dengan pendekatan FOSS.
Organisasi gerakan Open Hardware pada awal November 2011 lalu telah merilis majalah pertamanya. Jurnal pertama yang bebas diunduh ini, meliput sejumlah proyek perangkat keras yang disainnya mengadopsi Open Hardware Definition 1.1 dan memenuhi persyaratan Open Source Definition termasuk empat butir kebebasan yang di formulasi Free Software Foundation (FSF). Empat kebebasan FSF antara lain bahwa pengguna dapat memanfaatkan perangkat mereka untuk apa saja (Kebebasan 0), ia diperbolehkan membongkar, mempelajari dan melakukan perubahan (Kebebasan 1), seperti juga tanpa dan dengan perubahan meneruskannya ke pihak lain (Kebebasan 2 dan 3). Salah satu contoh kebebasan 1 adalah mengubah fungsi sebuah Wajan (perangkat penggorengan) menjadi sebuah Wajanbolic (antena parabola yang diciptakan oleh Onno W. Purbo).
Edisi perdana dari Open Hardware Journal terdiri dari 30 halaman dalam bahasa Inggris. Relawan dapat menterjemahkannya ke bahasa lain untuk disebarluaskan dan disalurkan dari situs utama. Dokument dalam format PDF-Format tesebut, kali ini meliput beberapa proyek harware terbuka, seperti antena Gray-Hoverman untuk menangkap siaran TV jarak jauh menggunakan bahan murah seperti pralon dan kawat pagar, dan alat penguat DNA openPCR untuk memungkinkan melakukan penelitian Gen di rumah.
Secara rinci, jurnal pertama ini membahas tentang cara membuat lensa menggunakan printer 3D. Artikel lainnya membahas kendaraan bawah laut Sea Perch yang prototipenya juga dibangun menggunakan pipa pralon. Sea Perch adalah sebuah roboter murah yang dikembangkan bersama oleh MIT Sea Grant College Program dan Angkatan Laut AS, Office of Naval Research. Pelajar maupun mahasiswa dapat memanfaatkan disain dengan bahan baku murah ini untuk dicoba atau dikembangkan lebih lanjut atau digunakan untuk melakukan penelitian kelautan.
Seperti pada FOSS, hal ini dapat diartikan bahwa informasi tentang hardware yang dirilis dibawah kesepakatan OSHW haruslah mudah diakses siapa saja. Desain sebuah hardware, yaitu gambar mekanik, skema, daftar material, data layout PCB, kode HDL (hardware description language) dan data tata letak sirkuit terpadu, seperti juga perangkat lunak yang digunakan untuk menjalankan perangkat keras tersebut, semuanya dirilis dengan pendekatan FOSS.
Organisasi gerakan Open Hardware pada awal November 2011 lalu telah merilis majalah pertamanya. Jurnal pertama yang bebas diunduh ini, meliput sejumlah proyek perangkat keras yang disainnya mengadopsi Open Hardware Definition 1.1 dan memenuhi persyaratan Open Source Definition termasuk empat butir kebebasan yang di formulasi Free Software Foundation (FSF). Empat kebebasan FSF antara lain bahwa pengguna dapat memanfaatkan perangkat mereka untuk apa saja (Kebebasan 0), ia diperbolehkan membongkar, mempelajari dan melakukan perubahan (Kebebasan 1), seperti juga tanpa dan dengan perubahan meneruskannya ke pihak lain (Kebebasan 2 dan 3). Salah satu contoh kebebasan 1 adalah mengubah fungsi sebuah Wajan (perangkat penggorengan) menjadi sebuah Wajanbolic (antena parabola yang diciptakan oleh Onno W. Purbo).
Edisi perdana dari Open Hardware Journal terdiri dari 30 halaman dalam bahasa Inggris. Relawan dapat menterjemahkannya ke bahasa lain untuk disebarluaskan dan disalurkan dari situs utama. Dokument dalam format PDF-Format tesebut, kali ini meliput beberapa proyek harware terbuka, seperti antena Gray-Hoverman untuk menangkap siaran TV jarak jauh menggunakan bahan murah seperti pralon dan kawat pagar, dan alat penguat DNA openPCR untuk memungkinkan melakukan penelitian Gen di rumah.
Secara rinci, jurnal pertama ini membahas tentang cara membuat lensa menggunakan printer 3D. Artikel lainnya membahas kendaraan bawah laut Sea Perch yang prototipenya juga dibangun menggunakan pipa pralon. Sea Perch adalah sebuah roboter murah yang dikembangkan bersama oleh MIT Sea Grant College Program dan Angkatan Laut AS, Office of Naval Research. Pelajar maupun mahasiswa dapat memanfaatkan disain dengan bahan baku murah ini untuk dicoba atau dikembangkan lebih lanjut atau digunakan untuk melakukan penelitian kelautan.
Langganan:
Postingan (Atom)







