Tampilkan postingan dengan label Foss. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Foss. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 November 2013

Kit Touch Board dan Arduino, Jantung Sensor Sentuh dan Cat Konduktif

Penginderaan kapasitif dapat digunakan tidak hanya pada smartphone Anda. Untuk memicu semua jenis sirkuit, juga dapat menggunakan permukaan konduktif apa saja, bahkan dapat menggunakan kontak melalui kulit manusia. Touch Board, sebuah proyek OSS (Open Source Software) dan OSHW (Open Source Hardware) dari Bare Conductive, ingin mendukung semangat DIY Anda dengan menyediakan kemampuan untuk mengubah hampir semua permukaan menjadi sensor penginderaan.



Intinya adalah berupa sebuah mikrokontroler yang kompatibel atau langsung disatukan dengan papan SBC Arduino tipe Leonardo, berikut beberapa tambahan yang ditanamkan di dalamnya, termasuk sensor sentuh menggunakan komponen Freescale yang terhubung ke 12 elektroda dan prosesor audio untuk memicu suara MIDI atau file MP3.

Untuk menjalankannya, Anda dapat memicu elektroda dengan menyentuh mereka atau menghubungkan mereka ke berbagai bahan konduktif, seperti kawat dan lainnya, termasuk pena cat elektrik, yang semuanya membuka segala kemungkinan untuk digunakan sebagai input. Cat seperti marker ini sering digunakan untuk grafiti skala kecil, mengeluarkan tinta hitam konduktif yang dapat mengubah dinding, selembar kertas atau hampir permukaan benda apa pun menjadi sensor pemicu. MicroSD yang dipasang, misalnya dapat diisi dengan serangkaian sampel suara yang masing-masing dapat dipicu melalui kontroler Touch Board.

Proyek Startup ini dipamerkan di situs pendanaan publik via Kickstarter dan saat ini, melampaui separuh waktu sebelum tenggang waktu pendanaan berakhir, sudah berhasil mengumpulkan lebih dari empat kali lipat target pendanaan minimal yang diharapkan agar bisa diproduksi untuk memenuhi permintaan masyarakat luas, terutama yang ingin memilikinya.

Sabtu, 07 Juli 2012

IOSA 2012: 7 Kategori Penghargaan FOSS

Rangkaian kegiatan Indonesia Open Source Award (IOSA) 2012 telah berakhir, ditandai dengan penyerahan anugrah kepada 21 finalis oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika di Hotel Bidakara Jakarta (4/7).

IOSA 2012 merupakan ajang tahunan yang memberikan penghargaan kepada instansi pemerintah, baik di tingkat pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota yang telah memulai pelaksanaan proses migrasi dan implementasi open source software (OSS) di instansinya masing-masing.

“OSS merupakan solusi bagi kita untuk menurunkan angka pembajakan dan penggunaan software ilegal,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring.

Dewan juri IOSA 2012 terdiri atas beberapa juri dari komunitas dan pemerintah yang telah dikenal masyarakat, diantaranya Onno W. Purbo, Kalamullah Ramli, I Wayan Simri Wicaksana, Rusmanto Maryanto, dan lain-lain.
Pemenang kategori kompetisi pemerintah pusat, diraih Badan Pengelola Minyak Bumi dan Gas (BP MIGAS) sebagai juara pertama, Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) juara kedua, dan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) sebagai juara ketiga.

Kemudian kategori pemerintah provinsi, kabupaten, dan kabupaten, dimenangkan Pemerintah Kota Pekalongan Jawa Tengah sebagai juara pertama, Pemerintah Kabupaten Banyuasin Provinsi Kalimantan Selatan  juara kedua, dan Pemerintah Kabupaten Batang Jawa Tengah sebagai juara tiga.

Pada kategori sekolah tingkat atas, SMA IT Ummul Quro Bogor memenangkan juara pertama, diikuti SMA Muhammadiyah 1 Weleri Jawa Tengah, dan SMKIT Smart Informatika Surakarta Jawa Tengah sebagai juara tiga.

Sementara untuk kategori mahasiswa, Adityo Baharnoko dari Universitas Negeri Semarang merebut juara pertama, Fauzan Helmi dengan karya Kamus Nusantara juara kedua, dan Andre Pratama dengan karya alat prediksi banjir berbasis mikrokontroler dan website menempati juara tiga.

Berbeda dengan IOSA 2010 dan 2011 yang hanya memberikan penghargaan kepada institusi pemerintahan dan pendidikan menengah atas, IOSA 2012 menambah penghargaan untuk kategori baru kepada tokoh, komunitas dan wartawan, sehingga ada tujuh jenis penghargaan.

Menurut Ketua panitia IOSA 2012, I Made Wiryana, kategori baru ini merupakan pihak yang sangat penting di dalam perkembangan OSS. IOSA 2012 sendiri tidak hanya terfokus pada pencapaian teknis, tapi yang lebih penting adalah bagaimana cara mencapainya. “Apakah secara legal atau ilegal, secara cerdik atau tidak cerdik, dan apakah mandiri atau bergantung,” paparnya.

Di sela penganugerahan IOSA 2012 juga digelar talkshow bertema Synergy and Opportunity yang terbagi dalam dua sesi.  Sesi pertama membahas peran Free Open Source Software (FOSS) dalam membuka peluang usaha bagi enerpreneur Indonesia dengan narasumber Betti Alisjahbana,  (Ketua Umum Asosiasi Open Source Indonesia) dan Anton Raharja (Pendiri dan Pengembang VoIP Rakyat). Sedangkan talkshow kedua membahas peran FOSS dalam pengembangan industri kreatif, dengan narasumber Hizkia Subiyantoro (Founder Blender Indonesia ORG) dan Harry Sufehmi  (Konsultan TI bidang OSS, Virtualisasi, HA+HP (high availability + high performance systems)).

IOSA 2012 didukung oleh BISKOM sebagai media partner. Sumber: Biskom.web.id

Kamis, 10 November 2011

OSHW: Edisi Perdana Open Hardware Journal

Open Source Hardware (OSHW) adalah Hardware sumber terbuka yang terdiri dari artefak fisik dari teknologi yang dirancang dan ditawarkan dengan cara yang sama seperti sebuah perangkat lunak bebas dan open source (FOSS). OSHW adalah bagian dari gerakan budaya masyarakat open source dalam menerapkan konsep sumber terbuka ke berbagai komponen yang dalam hal ini adalah perangkat keras.

Seperti pada FOSS, hal ini dapat diartikan bahwa informasi tentang hardware yang dirilis dibawah kesepakatan OSHW haruslah mudah diakses siapa saja. Desain sebuah hardware, yaitu gambar mekanik, skema, daftar material, data layout PCB, kode HDL (hardware description language) dan data tata letak sirkuit terpadu, seperti juga perangkat lunak yang digunakan untuk menjalankan perangkat keras tersebut, semuanya dirilis dengan pendekatan FOSS.

Organisasi gerakan Open Hardware pada awal November 2011 lalu telah merilis majalah pertamanya. Jurnal pertama yang bebas diunduh ini, meliput sejumlah proyek perangkat keras yang disainnya mengadopsi Open Hardware Definition 1.1 dan memenuhi persyaratan Open Source Definition termasuk empat butir kebebasan yang di formulasi Free Software Foundation (FSF). Empat kebebasan FSF antara lain bahwa pengguna dapat memanfaatkan perangkat mereka untuk apa saja (Kebebasan 0), ia diperbolehkan membongkar, mempelajari dan melakukan perubahan (Kebebasan 1), seperti juga tanpa dan dengan perubahan meneruskannya ke pihak lain (Kebebasan 2 dan 3). Salah satu contoh kebebasan 1 adalah mengubah fungsi sebuah Wajan (perangkat penggorengan) menjadi sebuah Wajanbolic (antena parabola yang diciptakan oleh Onno W. Purbo).

Edisi perdana dari Open Hardware Journal terdiri dari 30 halaman dalam bahasa Inggris. Relawan dapat menterjemahkannya ke bahasa lain untuk disebarluaskan dan disalurkan dari situs utama. Dokument dalam format PDF-Format tesebut, kali ini meliput beberapa proyek harware terbuka, seperti antena Gray-Hoverman untuk menangkap siaran TV jarak jauh menggunakan bahan murah seperti pralon dan kawat pagar, dan alat penguat DNA openPCR untuk memungkinkan melakukan penelitian Gen di rumah.

Secara rinci, jurnal pertama ini membahas tentang cara membuat lensa menggunakan printer 3D. Artikel lainnya membahas kendaraan bawah laut Sea Perch yang prototipenya juga dibangun menggunakan pipa pralon. Sea Perch adalah sebuah roboter murah yang dikembangkan bersama oleh MIT Sea Grant College Program dan Angkatan Laut AS, Office of Naval Research. Pelajar maupun mahasiswa dapat memanfaatkan disain dengan bahan baku murah ini untuk dicoba atau dikembangkan lebih lanjut atau digunakan untuk melakukan penelitian kelautan.

Senin, 01 Agustus 2011

Puglia Undang-undangkan Penggunaan Open Source

Dewan pertimbangan wilayah Puglia di Italia mengesahkan undang-undang yang mengharuskan penggunaan perangkat lunak bebas dan standar terbuka untuk administrasi publik. Undang-undang yang telah diberlakukan tersebut, diusulkan diperdebatkan tahun 2010 lalu.

Dengan penggunaan lebih banyak perangkat lunak bebas di sektor pemerintahan, dewan berharap bisa melakukan penghematan sebesar satu juta euro setiap tahunnya, disamping akan membuka peluang bisnis untuk usaha kecil dan menengah. Menggunakan undang-undang tersebut, dewan juga akan menyediakan dana untuk membiayai proyek perangkat lunak open-source untuk akademisi dan komersial selama tiga tahun ke depan.

Undang-undang tersebut diusulkan tahun lalu oleh Nichi Vendola, ketua wilayah sekaligus ketua Partai Kebebasan Ekologi (Sinistra Ecologia Libertà), dan salah satu anggota dewan Nicola Fratoianni. Keduanya adalah pemrakarsa undang-undang dan pada sebuah konferensi pers bulan Juli lalu mengungkapkan: "Perangkat lunak bebas merupakan peluang penting bagi pemerintah dan warganya untuk mewujudkan hak-hak mereka dalam berkomunikasi dan mendapatkan informasi, disamping untuk mencegah hak-hak tersebut dibajak oleh perusahaan besar, yang memaksa kita untuk membayar akses ke komunikasi dan informasi...".

Pimpinan Red Hat untuk Italia: Gianni Anguilletti, berdasarkan pemberitaan yang dikutip dari Computerworld Italy benar-benar merasa senang atas undang-undang baru tersebut: "Perangkat lunak jenis ini tidak hanya membantu untuk mengurangi biaya, namun juga memberikan kesempatan untuk kualitas layanan yang lebih baik dan lebih efisien.."

Selasa, 21 Juni 2011

Shuttleworth: Distribusi Kekuasaan Di Ekosistem FLOSS

Pendiri distribusi Linux Ubuntu, Mark Shuttleworth menulis pandangannya tentang distribusi kekuasaan di lingkungan FLOSS. Tulisan Blog yang cukup rinci dan mengundang diskusi kontroversial diantara pakar terutama dalam upaya menemukan model bisnis yang ideal untuk FLOSS. Menurut Mark, diperlukan kekuatan tertentu untuk menghasilkan produk Open Source yang sukses, dan untuk itu timbul pertanyaan, apa saja yang sebaiknya dilakukan agar Open Source bisa memiliki sebuah organisasi yang kuat.

Berdasarkan pantauannya di dunia nyata, telah terjadi persaingan banyak organisasi yang memperjuangkan kekuasaan. Menurut Shuttleworth, bila tidak melakukan sesuatu, maka akan terjadi konsentrasi kekuasaan sampai menjurus kepada sebuah monopoli. Karena itu, berbagai organisasi sebaiknya mengupayakan agar senantiasa saling mengimbanginya.

Semua harus didorong agar terjadi inovasi. Kekuasaan yang absolut, menurut Shuttleworth tidak baik, karena tidak lagi ada upaya untuk sebuah inovasi. Sebaliknya, terlalu banyak persaingan dan fragmentasi juga tidak mendukung inovasi. Sebagai contoh, Shuttleworth mengacu pada pasar PC Windows. Semua pembuat hardware PC pada prinsipnya dengan marjin laba yang tipis, mau tidak mau harus tunduk terhadap kompatibilitas Windows dan keadaan seperti itu dengan sendirinya membatasi ruang untuk inovasi.

Di ekosistem Open Source (dan FLOSS), kekuasaan terurai di proyek-proyek distribusi dan pengembangan paket software aplikasi (Upstreams). Dilihat dari omzet yang dihasilkan dua kelompok itu, maka tidak diragukan bahwa proyek Distro telah memperoleh posisi yang lebih menguntungkan ketimbang proyek-proyek program aplikasi. Khususnya dalam kasus distro Red Hat, diperkirakan Red Hat telah menguasai sekitar 80% omzet dari gabungan semua distribusi Linux yang ada termasuk Novell (SUSE Linux Enterprise) dan lainnya. Melihat hal itu, menurut Shuttleworth penting untuk melakukan sesuatu agar Red Hat nantinya tidak menjadi terlalu berkuasa.

Sangat menarik bagi Shuttleworth adalah tentang rasio terhadap proyek-proyek Upstream. Bila dibandingkan distribusi lainnya , Ubuntu ditargetkan tidak semata untuk pekerja TI saja, melainkan adalah terutama untuk pengguna akhir non-TI. Hal itu menurut Shuttleworth dapat diartikan, bahwa Ubuntu lebih mementingkan agar software-software aplikasi memiliki kualitas lebih sempurna. Banyak sekali software aplikasi yang dilihat dari kacamata pengguna sepertinya belum jadi. Saat ini, pengembang masing-masing distro yang melakukan penyempurnaan terhadap software upstream. Jadi, diperlukan sokongan lebih banyak untuk proyek-proyek Upstream agar bisa melakukan peningkatan dan menyempurnakannya. Dengan kata lain, dibutuhkan lebih banyak proyek-proyek yang menerima dana cukup agar mampu membayar pengembang secara fulltime, seperti pada proyek-proyek Mozilla, MySQL, Qt atau OpenStacks. Dan yang lebih penting lagi dari pada urusan pendanaan, menurut Shuttleworth adalah dalam hal organisasi yang setelah terbentuk lebih banyak mengurusi soal birokrasi saja.

Sejauh ini Shuttleworth memaparkan situasi, harapan dan melemparkan sejumlah pertanyaan. Untuk pertanyaan, apa saja yang dapat dilakukan oleh Canonical untuk memperkuat proyek-proyek tersebut, secara spontan telah menerima banyak opini dari sejumlah pakar di lingkungan FLOSS, beberapa diantaranya telah mempertanyakan pandangan Shuttleworth tersebut. Bradley Kuhn dari FSF, misalnya mengkritik anggapan bahwa kegagalan sebuah organisasi di lingkungan FLOSS terletak pada urusan birokrasi.

Contoh yang diambil dalam diskusi adalah proyek seperti GIMP atau Ardour, yang jelas-jelas difokuskan untuk pengguna akhir dan masih "berdarah-darah" dalam menerapkan model bisnis FLOSS. Proyek dengan model bisnis yang umum digunakan di lingkungan FLOSS terjebak pada kendala ketidakmampuan menjual, baik sebagai distribusi maupun layanan atau support dengan imbalan yang memadai, sementara penerapan lisensi dual juga sulit atau tidak mungkin, sedangkan penerimaan dari sumbangan (donation) pada umumnya sangat minimal. Cukup membuka wawasan adalah pendapat dari Dave Neary yang menyebutkan bahwa banyak pengguna software bebas yang telah memanfaatkannya untuk pekerjaan profesional bersedia mendukung software seperti itu.

(Catatan Red.: Proyek LibreOffice dapat dijadikan contoh betapa cepatnya menggalang dukungan /dana yang melampaui target setelah pengguna yang bergantung dengan OpenOffice.org merasa terancam oleh prilaku Oracle. Karena tidak berhasil dikomersialisasikan, proyek OpenOffice.org yang saat ini masih jalan ditempat, kemudian OpenOffice.org dihibahkan kepada yayasan ASF, dan LibreOffice yang tumbuh lebih cepat telah meninggalkan OpenOffice.org)

Mark Shuttleworth berjanji akan merangkum hasil diskusi di posting mendatang.

Rabu, 01 Juni 2011

AOSI Ajak Komunitas Perkuat Dukungan Software Open Source

Software Open Source bukan merupakan produk baru dan tidak diragukan lagi telah melampaui masa maturasinya. FOSS (Free and Open Source Software) telah diadopsi disegala bidang profesional dan menjadi bagian dari sistem maupun produk TI digunakan di berbagai sektor, termasuk bidang ekonomi (industri dan swasta), pendidikan, dan pemerintahan. Untuk menyediakan dukungan profesional bagi pengguna produk FOSS, AOSI mengajak komunitas membangun HelpDesk skala nasional.

Dalam sebuah siaran pers yang disebarluaskan hari ini, AOSI mengajak berbagai komunitas Linux dan FOSS di Indonesia menyediakan dukungan teknis dan non teknis bagi pengguna FOSS, a.l.:
  • pemerintah, dalam rangka mencapai target akhir 2011 pakai FOSS,
  • swasta, yang akan/sudah menggunakan FOSS,
  • lembaga pendidikan, yang sudah/akan menggunakan FOSS,
  • dan siapa saja, yang akan/sudah menggunakan FOSS.
Sebagai langkah awal, sekretariat AOSI di Jakarta akan menjadi pusat informasi FOSS dalam bentuk Helpdesk melalui web, email, sms, dll. Helpdesk diharapkan didukung anggota atau mitra AOSI di Jakarta dan di tiap provinsi sehingga akan ada minimal 33 kantor perwakilan AOSI.

Sekretariat AOSI sebagai kantor pusat Helpdesk FOSS Nasional akan mengelola dan meneruskan informasi kebutuhan jasa terkait FOSS ke para anggota atau mitra AOSI yang memiliki kemampuan menyediakan jasa/produk yang sesuai kebtuhan untuk mendukung penggunaan FOSS oleh pemerintah pusat, pemda prov/kab/kota, swasta, pendidikan, dll.

AOSI menawarkan kerja sama ini dalam bentuk keanggotaan atau kemitraan sebagai semacam perwakilan AOSI di berbagai wilayah dalam menyediakan helpdesk secara terbatas di masing-masing provinsi. Beda keanggotaan dan kemitraan:
  • keanggotaan: Institusi Anggota AOSI yang terikat dengan AD/ART AOSI.
  • kemitraan: Bukan Anggota AOSI yang bekerja sama dengan AOSI, yang diadakan karena belum/tidak ada anggota AOSI yang bersedia di suatu provinsi.
Jika ada bisnis atau proses pengadaan terkait helpdesk ini tidak akan dikerjakan oleh AOSI sebagai organisasi non profit, tapi oleh institusi anggota atau mitra AOSI sesuai dengan kompetensi dan jenis usaha masing-masing anggota/mitra. Perjanjian, kontrak kerja, SLA (Service Level Agreement) atau yang sejenis juga menjadi tanggung jawab pihak-pihak terkait yang melakukan perjanjian/kontrak.

Sekretariat AOSI sebagai pusat informasi atau penyedia layanan tidak terikat perjanjian atau kontrak kerja dengan siapapun, kecuali ikatan sebagai organisasi asosiasi dengan anggota dan mitranya.

Helpdesk FOSS Nasional ini ditargetkan beroperasi mulai pertengahan Juni 2011, atau paling lambat 1 Juli 2011. AOSI akan merekrut minimal 1 orang tenaga penuh waktu untuk mengelola kantor pusat Helpdesk FOSS di sekretariat AOSI. Institusi yang berminat menjadi anggota atau mitra AOSI sebagai helpdesk di daerah dimohon mengirim email ke helpdesk@aosi.or.id CC: rusmanto@aosi.or.id.

Program HelpDesk yang diluncurkan, adalah tindak lanjut dari hasil pertemuan pengurus dan anggota yang diadakan awal tahun 2011.

Tentang AOSI:
AOSI adalah asosiasi berbadan hukum menghimpun organisasi-organisasi pencinta, penggiat, pengembang, pemakai, pendidik, pelaku bisnis dan semua pendukung Open Source skala nasional yang bekerja sama, bahu membahu membangun sinergi guna mencapai sukses bersama. Diresmikan dan berdiri sejak 30 juni 2008, AOSI merupakan asosiasi yang sah dan memiliki sejumlah program terencana untuk mendorong pengembangan teknis dan bisnis Open Source di Indonesia. AOSI melibatkan pihak pemerintah membahas program dan regulasi guna meningkatkan akselerasi berkembanganya pemanfaatan Open Soure di semua lapisan masyarakat NKRI.

Selasa, 23 November 2010

Libre Graphics Magazine Terbitkan Edisi Perdana

Edisi perdana Libre Graphics Magazine #1 telah terbit, sebuah majalah grafik yang tersedia baik dalam bentuk edisi daring maupun edisi cetak dimaksudkan untuk mendemonstrasikan kemampuan software bebas (FOSS) dalam menyokong disain grafik profesional.

Pengguna software grafik bebas, baik ia seorang profesional maupun seniman hobi, menurut penerbitnya masih kurang mendapat perhatian publik, walaupun sebenarnya tanpa diragukan lagi bahwa tidak sedikit tersedia software bebas yang berkualitas berikut pengguna profesional, termasuk penerbit majalah ini.

Salah satu penyebabnya diakui bahwa banyak karya profesional dengan kualitas tinggi yang dibuat menggunakan FOSS kurang ditampilkan atau kurang diekspos. Penerbitan majalah ini merupakan salah satu upaya untuk melakukan perubahan.

Majalah Libre Graphics Magazine diterbitkan oleh Studio XX, yaitu sebuah pusat seni feministis di Montreal. Tim redaksi majalah yang dikelola secara gotong royong, terdiri dari Ana Carvalho, Ginger Coons dan Ricardo Lafuente. Libre Graphics Magazine dibuat seratus persen menggunakan perangkat lunak FOSS termasuk font yang berlisensi bebas.

Jadwal penerbitan Libre Graphics Magazine  ditetapkan empat kali dalam satu tahun, tersedia dalam versi daring baik dengan resolusi tinggi untuk dicetak maupun resolusi rendah untuk disimak di layar komputer. Kecuali itu dapat diorder versi cetak namun ditarik biaya sebesar 12 dollar Kanada.

Kamis, 21 Oktober 2010

AOSI Umumkan Penerima Donasi 500 PC dan 125 Notebook

Sebagai tindak lanjut dari program donasi yang digelar bertepatan dengan HUT RI ke 65 bulan Agustus lalu dan dalam rangka menjawab tantangan kesenjangan digital dan mendorong penggunaan perangkat lunak Open Source, Chevron dan Asosiasi Open Source Indonesia telah mengumumkan daftar penerima donasi sebanyak 500 set PC dan 125 Notebook layak pakai kepada 125 sekolah-sekolah di kota-kota Jakarta, Tanggerang, Banten, Bekasi, Depok, Bogor, Cianjur, Bandung dan Garut.

Setelah melalui proses pendaftaran dan verifikasi, dengan gembira AOSI menginformasikan bahwa 125 Sekolah yang tertera di situs AOSI (atau PDF 8 hal 88KB), masing-masing akan mendapatkan donasi komputer sbb :
  • 4 unit Komputer HP Compac DC Minitower PC, Ergonomic Keyboard dan LCD
  • 1 unit IBM/Lenovo ThinkPad T60
  • PC dan Laptop diatas dilengkapi dengan Operating System Open Source Ubuntu 10.04 dan training bagi operator/pengajar

Jadwal pengiriman dan training akan diberitahukan kepada masing-masing sekolah dalam waktu dekat.

Senin, 04 Oktober 2010

25 Tahun Perjuangan Free Software Foundation

Idea yang memberikan kebebasan kepada pengguna komputer agar bisa melakukan apa saja terhadap komputer miliknya dan dilindungi lisensi adalah berkat keberadaan Free Software Foundation. Sejak dua puluh lima tahun perjuangan FSF, yayasan nirlaba ini tumbuh mengayomi gerakan software bebas dan tidak hanya menuai teman semata.

Richard Stallman mendirikan Free Software Foundation pada tanggal  4 Oktober 1985 untuk mendukung pembiayaan, - pada saat itu, - proyek sumber terbuka GNU (GNUs not Unix). Dalam perjalanan FSF, organisasi ini telah membidani tiga lisensi utama untuk memberikan perlindungan terhadap software bebas, yaitu GPL yang sejak bulan Juni 2007 lalu telah tersedia dalam versi 3. Disamping itu ada lisensi LGPL (GNU Lesser General Public License) dan AGPL (GNU Affero General Public License) yang berasal dari FSF.

Untuk melindungi dokumentasi, FSF menerbitkan GNU Free Documentation License (GFDL). Semua lisensi besutan FSF acapkali dikenal dengan julukan Copyleft yang menjamin pemanfaatan dan penyebarluasan tanpa batas, terutama untuk memberi jaminan terhadap hak melakukan perubahan dan perbaikan. Copyleft dilindungi oleh Copyright agar hak kendali tidak diambil-alih oleh pihak ketiga.

Baca selebihnya ...

Rabu, 18 Agustus 2010

Hati-hati Jebakan Java dan .NET

Presiden dari Software Freedom Conservancy sekaligus Anggota Dewan Direksi dari Free Software Foundation (FSF) Bradley M. Kuhn menjelaskan bahwa tuntutan hak paten Oracle terhadap Google baru-baru ini merupakan sebuah pembelajaran bahwa teknologi Java dan .NET bisa menjadi ancaman yang laten terhadap software bebas.

Dari tuntutan yang diajukan Oracle kepada Google diduga adanya pelanggaran hak paten Java untuk mesin virtual Dalvik yang kepemilikannya telah berpindah tangan dari Sun ke Oracle sebagai konsekuensi dari akuisisi. Bradley M. Kuhn mengingatkan adanya peluang untuk software bebas lainnya menerima tuntutan paten serupa terutama untuk Java dan .NET. Sebagai catatan kecil Kuhn menulis bahwa tidak tertutup kemungkinan bisa terjadi pada PHP mengingat perusahan Zend yang turut mengembangkan versi PHP terkini dan memiliki hak paten.

Kendati demikian, hal itu bukan berarti bahwa implementasi bebas terhadap software yang rawan tututan tidak diperlukan, namun menurut Kuhn pengembangan software baru sebaiknya memanfaatkan bahasa pemrograman alternatif yang aman seperti C, C++, Python atau Perl.

Sejatinya "Jebakan Java" telah diingatkan oleh pencetus software bebas Richard M. Stallmann sejak dini yaitu 6 tahun lalu dalam artikelnya "Free but Shackled - The Java Trap".

Kuhn kali ini berharap agar semua pengembang menolak bila perusahan tempat ia bekerja meminta agar ideanya dipatenkan, juga bila diancam maupun digoda dengan imbalan materi, karena nantinya hanya akan menguntungkan para manager dan penegakan hukum belaka. Sebagai jalan keluar disarankan untuk mempublikasikannya atau di-open-source-kan agar tidak lagi bisa dipatenkan.

Beberapa negara seperti Selandia Baru telah menyadari bahwa hal itu memiliki dampak negatif terhadap inovasi kemudian menolak software untuk dipatenkan dan tetap menjunjung tinggi HAKI.

Selasa, 17 Agustus 2010

Program Donasi 500 PC and 142 Notebook untuk Sekolah-sekolah Dari Chevron dan AOSI

Menjawab tantangan kesenjangan digital sekaligus mempromosikan penggunaan perangkat lunak Open Source, PT Chevron Pacific Indonesia dan Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI) mendonasikan 500 PC dan 142 Notebook (bekas pakai dalam kondisi baik). Sudah tentu PC dan Thinkpad tersebut dilengkapi dengan Operating System Open Source yaitu Ubuntu 10.04 dan disediakan Training bagi operator/pengajar.

Persyaratan Sekolah Penerima Donasi adalah sbb:
  • Mempunyai komitmen untuk belajar dan menggunakan perangkat lunak Open Source
  • Belum mempunyai fasilitas komputer atau fasilitas komputer yang dimiliki saat ini sangat terbatas.
  • Mempunyai dukungan daya listrik yang memadai untuk mengoperasikan komputer yang akan didonasikan.
  • Bersedia mengirimkan tenaga ahli (operator/pengajar) untuk mengikuti pelatihan
  • Lokasi sekolah di : Garut, Jakarta, Cianjur, Bandung, Depok, Salak, Bekasi, Bogor.
  • Sekolah yang tercakup dalam program ini adalah : SD, SMP, SMA, Madrasah, SMK
  • Sekolah-sekolah di luar lokasi di atas akan di pertimbangkan apabila :
    - Bersedia mengambil komputer di Jakarta, atas biaya sendiri,
    - Bersedia mengikuti pelatihan di Jakarta, atas biaya sendiri
Peminat Donasi dipersilahkan untuk mengisi formulir di situs www.aosi.or.id paling lambat tanggal: 24 Agustus 2010. Apabila ada pertanyaan atau informasi lebih lanjut dapat di sampaikan pada sdr. Ikhwanul Hakim melalui telpon di 021-7972204 atau e-mail : ikhwan@qbheadlines.com.

Program serupa telah digalang AOSI sejak keberadaannya bekerjasama dengan Kementrian Ristek dan Donatur seperti pada proyek untuk sekolah-sekolah di Kepulauan Seribu dan Klungkung, Bali.

Kamis, 12 Agustus 2010

Zenoss Laporkan Open Source Systems Management 2010

Bersamaan dengan ajang acara LinuxCon 2010  di Boston 10-12 Agustus 2010 yang berakhir hari ini, pengembang software sumber terbuka Zenoss menerbitkan laporan hasil survei "Zenoss Open Source Systems Management Survey Report 2010".

Laporan yang dipublikasikan, diklaim penerbitnya merupakan salah satu studi paling rinci tentang penggunaan "Open Source System Management". Laporan megikutsertakan data yang dikumpulkan dari peserta konferensi USENIX LISA dan preferensi pengguna lebih dari 75.000 anggota komunitas Zenoss yang didata mulai November 2006 sampai dengan Desember 2009.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengguaan software open-source sebagai perbandingan terhadap solusi komersil.  Bagian dari studi ini dibuat berdasarkan evaluasi atas 974 daftar isian yang dikumpulkan di ajang acara konferensi "USENIX Large Installation System Administration" yang diisi oleh komunitas Zenoss. Data dari jajak pendapat mencerminkan ragam dan sejauh mana penggunaan software open-source di perusahan besar yang dipakai untuk mengelola sistem TI mereka. Baca selebihnya ...

Senin, 09 Agustus 2010

Panduan Praktis Pemanfaatan FOSS Untuk Sektor Publik

Thierry Aimé dari kementrian keuangan Perancis bersama sembilan kementrian lainnya berhasil menyusun sebuah Panduan Praktis membahas bagaimana sebaiknya sektor publik memanfaatkan software bebas. Dokumen ini dibuat dalam bahasa Perancis dan juga telah tersedia dalam bahasa Inggris di situs Open Source Observatory and Repository [PDF: 20 halaman 400KB].

Aimé bersama autor lainnya mengawali panduan dengan bahasan tentang software dan lisensi serta sangsi terhadap pelanggaran HAKI. Kemudian dijelaskan hal yang perlu diperhatikan dan penting diketahui oleh sektor publik bila ingin memberikan pekerjaan pemrograman kepada pihak ketiga menggunakan software bebas, termasuk bila ingin mengadopsi beberapa komponen software bebas untuk digabungkan dan meningkatkan software yang ada.

Penulis juga mengingatkan bahaya terhadap kemungkinan konflik antar lisensi bebas yang beragam dan tidak kompatibel satu dengan lainnya dalam upaya menggabungkan berbagai komponen software open source menjadi satu produk. Dalam hal ini disarankan agar mengadopsi lisensi yang dikembangkan Uni Eropa yaitu European Union Public Licence (EUPL) yang diklaim kompatibel dengan banyak jenis lisensi bebas.

Sabtu, 17 Juli 2010

Rekomendasi Kaum Hawa Untuk Komunitas FOSS

Menindaklanjuti pertemuan "Women in Free Software" yang diprakarsai oleh Free Software Foundation (FSF) bersama komunitas Gnome di bulan September tahun lalu, FSF dua hari lalu mengumumkan rekomendasi dari Kaum Hawa disamping menyediakan situs khusus untuk mengumpulkan data lebih lanjut.

Hasil dari kegiatan tersebut termasuk menggalang "Best Practices" terhadap proyek yang ada, strategi untuk meningkatkan partisipasi wanita, inisiatif untuk dukungan finansial, seperti juga saran yang fokus terhadap masalah bagaimana memungkinkan para gadis dan ibu sejak dini bisa dikaitkan dengan dunia software bebas. Semua rekomendasi dari FSF itu pada prinsipnya ditargetkan baik kepada grup dari proyek-proyek FOSS, User Groups maupun perusahan agar meningkatkan jumlah partisipasi kaum hawa di lingkungan masing-masing.

Grup "Women's Caucus" atau "Kaukus Wanita" yang dibentuk peserta saat itu adalah yang kali ini menyampaikan hasil daftar investigasi masalah "Wanita dan FOSS" menyebutkan sebagai biang keroknya antara lain tiadanya bentuk untuk peran mereka (wanita) di komunitas, seperti juga strategi bagaimana mensiasati kekurangan itu. Strategi yang dianjurkan FSF antara lain: mendorong menjadi kontributor non-coding, lebih menekankan kerjasama daripada persaingan dan (jika perlu) melaksanakan program mentoring. FSF juga menyadari adanya sindrom di kalangan kaum wanita yang merasa masuk atau berada ditempat yang salah bila duduk diantara penggiat software bebas.

Khusus di komunitas sistem operasi Linux, tema bagaimana membuat kaum hawa tertarik terhadap Linux bukan merupakan hal yang baru. Sejak tahun 2002 tersedia panduan resmi membahas "HOWTO Encourage Women in Linux". Organisasi nasional "KLUWEK" menampung kaum ibu untuk berperan di Linux juga telah terbentuk di Indonesia.