Tampilkan postingan dengan label IoT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IoT. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 April 2014

Internet of Things: Sistem Pemantau Banjir Dari dan Untuk Warga Oxford

Oxford Flood Network adalah proyek sain swadaya warga dengan tujuan untuk membangun sistem pemantau banjir di wilayah perairan setempat. Hal ini merupakan sebuah contoh aktivitas bagaimana masyarakat menjadi lebih terhubung dengan lingkungannya melalui Internet of Things (IoT), setelah banjir merundung Inggris sejak akhir tahun 2013.



Otak di balik proyek tersebut adalah Ben Ward, pendiri usaha startup Love Hz di Inggris. Perusahannya mengkhususkan diri dalam bidang jaringan sensor nirkabel, perangkat keras dan lunak open-source yang murah untuk digunakan memonitor tingkat air di wilayah banjir di Oxford, Inggris.

Ward merancang sensor yang murah, sekaligus mudah untuk dibangun dan di-instal oleh warga, sementara data yang dihasilkan dapat di publikasikan secara terbuka, sehingga siapapun dapat menggunakannya untuk membantu meningkatkan kepekaan dalam penyampaikan peringatan darurat, disamping untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik terhadap lingkungan dan ekosistem.

Setiap sensor dirancang untuk berfungsi di bawah jembatan atau emperan di atas air. Perangkat sensor dibangun berupa sebuah pengintai ultrasonik yang mengirimkan "ping" seperti halnya gelombang echo yang dipancarkan oleh kelelawar untuk menentukan (jarak) tingkat air dengan interval sekali setiap lima menit.

Jaringan yang memungkinkan sensor ini untuk berkomunikasi adalah dengan memanfaatkan celah yang masih kosong diantara dua saluran TV. Celah yang lazim disebut sebagai "TV White Spaces" atau TVWS ini, merupakan standar teknologi nirkabel terbuka "Weightless" yang sedang diusulkan untuk pertukaran data antara base station dan ribuan mesin IoT yang ada disekitarnya di sekitarnya.

Menurut Ward, Oxford Flood Network telah menciptakan sebuah cetak biru bagi masyarakat dalam membangun jaringan sensor mereka sendiri dan secara gotong royong menanggapi masalah-masalah yang terjadi disekitar mereka sendiri.

Rancangan perangkat open source dapat dipelajari lebih lanjut di OxFloodNet.co.uk, termasuk di lumbung penginangan proyek sumber terbuka Github.


Rabu, 19 Maret 2014

Android Wear: Google Sediakan SDK Kembangkan Aplikasi Perangkat Wearable

Google ungkapkan proyek baru Google Android Wear, disamping menyediakan SDK untuk memudahkan pengembangan aplikasi pada perangkat Android yang dikenakan (wearable), seperti pada jam tangan pintar smartwaches dan pelacak kebugaran (fitness trackers).



Software aplikasi Android nantinya akan meluas ke semua perangkat dikenakan, namun Google memulainya dari perangkat yang telah umum dikenal seperti jam tangan atau alroji pintar (smartwatches). Untuk itu, pada saat ini paling tidak telah tersedia dua alroji pintar yang akan ditenagai sistem operasi Android untuk dijadikan mitra awal dalam pengembangan aplikasi Android Wear, menggunakan kit SDK Android yang disediakan.

Dua mitra Hardware awal tersebut, adalah Motorola dan LG yang juga telah mengungkapkan niat mereka, segera meluncurkan smartwatches mendukung konsep Android Wear. Moto 360 besutan Motorola memiliki fitur modis dan penampilan seperti jam tangan analog tradisional, dan siap menerima perintah "suara" dari penggunanya. Sebaliknya, jam tangan pintar besutan LG G Watch menawarkan layar persegi yang ramping seperti halnya pada smartwatches dari produsen lain. Kedua jam tangan dijanjikan akan hadir dipasar pada pertengahan 2014.

Seperti Apple Siri, perangkat ini juga memiliki fitur sebagai asisten pribadi cerdas dengan fitur Google Now, yang sudah dikenal pada perangkat mobile, desktop, dan perangkat wearable lainnya. Android Wear dapat mengendalikan smartwatch Anda dengan misalnya mengatakan "Ok Google !", kemudian mengajukan pertanyaan atau meberikan perintah selanjutnya dengan suara. Pengguna juga dapat mengendalikan perangkat lain seperti smartphone atau Chromecast melalui jam yang dibalutkan di pergelangan tangan Anda.

Dengan ketersediaan kit SDK, Pengembang sekarang dapat mulai menjahit atau membangun aplikasi mereka yang khusus di targetkan untuk digunakan di perangkat wearables.


Sabtu, 05 Oktober 2013

Komputer Papan Tunggal Arduino TRE Mampu Jalankan Linux Penuh

Papan kedua yang diungkapkan proyek Open Source Hardware Arduino hampir bersamaan dengan Galileo (Intel Quark X1000), adalah Arduino TRE yang dibuat berkolaborasi dengan Texas Instruments. TRE menggunakan prosesor baru versi Sitara AM335x dengan arsitektur ARM Cortex-A8, merupakan papan Arduino pertama yang diproduksi di Amerika Serikat.



Berkat kecepatan 1-GHz yang dimiliki prosesor Sitara AM335x, kartu Arduino ini dapat dipacu dengan kinerja hingga 100 kali lebih cepat daripada yang dapat diberikan oleh kartu klasik Arduino Leonardo atau Arduino Uno. Kemampuan ini memberi peluang untuk menjalankan aplikasi desktop Linux yang memerlukan kinerja lebih tinggi, atau menjalankan algoritma yang memerlukan pengolahan-intensif seperti pada printer 3D atau pada sistem telekomunikasi berkecepatan tinggi.

Dalam siaran pers Texas Instruments disebutkan: "Untuk kali pertama, pengguna Arduino dapat menjalankan Linux dengan kemampuan penuh dan memiliki akses ke berbagai pilihan konektivitas baru yang tersedia on-board, untuk mengembangkan berbagai aplikasi yang lebih canggih, sementara dapat mempertahankan kesederhanaan fitur software yang ditawarkan Arduino sebelumnya." Prosesor Sitara sebagai mesin dari Arduino TRE dapat berfungsi sebagai hub untuk jaringan yang terhubung dengan jutaan node Arduino klasik di garis depan dari era Internet-of-Things (IoT).

Konsep disain kartu ini juga meniadakan kebutuhan Arduino akan sebuah PC secara terpisah untuk melakukan pemrograman, memiliki kemampuan penuh untuk menjalankan Linux, disertai aneka pilihan konektivitas, termasuk Ethernet, radio nirkabel XBee, USB dan CAN. Dengan demikian, pengguna dapat menerapkan aplikasi yang lebih maju dengan bantuan LCD display resolusi tinggi, grafis 3D dengan percepatan perangkat keras (hardware-accelerated) dan peningkatan konektivitas. Prosesor AM335x juga memiliki dua on-chip 200 MHz 32-bit mikrokontroler sebagai Programmable Real-time Unit (PRU), yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai aplikasi real-time yang tak terhitung banyaknya, termasuk pengontrol motor dan pulse width modulation.

Sejatinya Arduino TRE ini merupakan dua Arduino dalam satu papan. Pertama adalah sebuah Linux Arduino yang ditenagai prosesor Sitara, kemudian ditambahkan dengan Arduino berbasis AVR (Atmel mikrokontroler) penuh. Integrasi fitur Arduino AVR memungkinkan Arduino TRE untuk memanfaatkan ekosistem shield yang telah tersedia, sehingga inovator dapat memperluas jangkauan Arduino TRE untuk mengembangkan berbagai aplikasi kinerja tinggi seperti pada printer 3D, gateway, otomatisasi bangunan dan pencahayaan, hub telemetri yang mengumpulkan data dari sensor nirkabel di sekitarnya, dan aplikasi terkait lainnya yang memerlukan kontrol host berikut operasi real-time.

Rancangan Arduino TRE dibuat dalam rangka kemitraan dengan salah satu pesaingnya, BeagleBoard.org, sementara pengapalannya dijadwalkan pada musim semi tahun 2014.