Sabtu, 22 November 2014

“Tiny Titan”: KomputerSuper Gunakan Raspberry-Pi

Untuk memberikan gambaran dan menginspirasi siswa bagaimana cara kerjanya sebuah KomputerSuper, pembuat dan perancang Titan menerbitkan panduan tentang cara membangun sebuah KomputerSuper pribadi dengan menggabungkan sejumlah komputer kecil "Raspberry Pi".


tiny-titan-raspi-tinysph_880.jpg


Meskipun berkedip dan berkilau bak mobil Odong-odong, namun menurut pencipta Tiny Titan di Oak Ridge National Laboratory dimana KomputerSuper Titan sesungguhnya berada, mengklaim bahwa Titan unyil ini adalah versi miniatur yang berfungsi penuh seperti layaknya KomputerSuper Titan yang mereka operasikan. Kesamaan yang dimaksudkan terutama berkaitan dengan program dan perpustakaan perangkat lunak, termasuk konsep komunikasi yang digunakan. Semua komponen software yang berbasis sumber terbuka, berikut panduan membangun KomputerSuper pribadi tersebut, dapat dunduh dari Github, tempat penginangan proyek-proyek open source lainnya.


Untuk membangun sebuah Tiny Titan, diperlukan paling tidak dua perangkat Raspberry Pi, dimana salah satunya bertindak sebagai pusat komando agar pengguna dapat menjalankan dan memonitor proses input dan output. Raspberry-Pi lainnya, yang jumlahnya tak dibatasi, bertanggung jawab atas proses komputasi sesungguhnya. Jaringan antara komputer (Raspberry-Pi) berlangsung melalui saluran Ethernet. Untuk itu diperlukan switch seperti pada jaringan LAN pada umumnya.




Komponen penting lainnya adalah catudaya yang pada Raspberry-Pi dapat disalurkan melalui port USB atau USB-Hub aktif dengan suplai tenaga yang cukup. Dalam contoh disini digunakan power supply 15 watt (5V, hingga 3 amp) untuk setiap USB-Hub yang masing-masing mensuplai tiga Raspberry-Pi.


Sebagai sistem operasi dasar, pembuatnya tidak perlu membuat khusus, melainkan mengandalkan sistem operasi Linux yang sudah ada dari NOOBS. Agar Raspberry-Pi satu dengan lainnya dapat bekerja sama dan bergotong-royong bekerja sebagai sebuah KomputerSuper, masing-masing Raspberry-Pi harus menjalankan minimal dua script yang disediakan untuk menginstal dan mengkonfigurasi semua paket software yang diperlukan.

Pada saat ini, tersedia dua contoh program untuk mendemontrasikan konsep KomputerSuper, yaitu TinySPH dan Pibrot. TinySPH mensimulasikan perilaku cairan dan dapat dikontrol dengan pengontrol Xbox. Sementara PiBbrot menghasilkan fraktal Mandelbrot. [Artikel PDF 800kB]

Sabtu, 15 November 2014

SuperKomputer: Amerika Ingin Lampaui Tiongkok Gunakan GPU Nvidia

Kredit Gambar Wikimedia.org: KomputerSuper Titan

Department of Energy (DOE) Amerika Serikat berencana untuk membangun dua superkomputer baru, yang nantinya jauh lebih cepat daripada komputer tercepat dunia saat ini Tianhe-2 milik Tiongkok. Menurut rencana, SuperKomputer yang akan ditenagai menggunakan GPU besutan Nvidia dijadwalkan akan tersedia pada tahun 2017. Mesin SuperKomputer baru yang direncanakan bekerja memberdayakan menggabungkan prosesor IBM Power dan Nvidia GPU dengan kinerja super, yang menurut NVidia akan melampaui jawara-jawara yang terdaftar di daftar Top 500, termasuk Tianhe-2 dari Tiongkok yang mampu dipacu dengan kecepatan 33,8 Petaflops (Rmax). Berdasarkan Benchmark Linpack, mesin Tianhe-2 yang digerakkan menggunakan sistem operasi Ubuntu (Kylin) ini, telah berjaya selama lebih dari setahun sebagai mesin tercepat di jagat raya.

Salah satu SuperKomputer yang baru "Sierra" yang juga mengandung komponen Nvidia terpasang di Lawrence Livermore National Laboratory diklaim memiliki kecepatan mencapai 100 Petaflops, yaitu hampir dua kali lebih cepat dari mesin buatan Tiongkok. Sementara angka yang diumumkan Nvidia untuk dua sistem baru yang sedang dirancang itu menunjukkan nilai Rpeak sebagai gambaran untuk daya komputasi maksimum teoritis, namun nilai Rpeak yang tinggi belum dapat digunakan sebagai pembanding terhadap nilai Rmax. Oleh karena itu, perbandingan berikut harus merujuk pada Rmax, dimana pada Tianhe-2 telah menunjukkan pencapaian sebesar 54,9 Petaflops.



DOE tampaknya mendambakan agar kedua SuperKomputer baru tersebut nantinya secara permanen menempati puncak teratas di daftar Top 500. Mesin super yang nantinya juga akan dioperasikan oleh DOE itu, dicanangkan untuk menyokong aplikasi ilmiah umum, dan akan dibangun di Oak Ridge National Laboratory dengan kemampuan ngacir dengan kecepatan antara 150 dan 300 Petaflops. Angka ang disebutkan tanpa penjelasan apakah data itu merujuk pada Rmax atau barangkali Rpeak. Andaikan angka itu merujuk pada satuan yang sama, maka komputer buatan negara paman Sam itu nantinya 4,5 kali lebih cepat ketimbang Tianhe-2. Namun, sampai harapan tersebut menjadi kenyataan di tahun 2017, masih tersisa cukup waktu berbenah untuk yang lainnya, melakukan peningkatan pada mesin-mesin super yang mereka miliki.



Update Top500 2014-11-18: Tianhe-2 Tetap Jawara KomputerSuper Dunia. Untuk keempat kalinya secara berturut-turut sejak Juni 2013 Tianhe-2 dari Tiongkok tercatat sebagai komputer tercepat di dunia.

Kamis, 22 Mei 2014

Video: Arduino Verkstad Gelar Workshop Lentera LED Masal di Senayan Jakarta


Gambar flickr: dcuartielles

Video menunjukkan instalasi pencahayaan yang dilakukan dalam rangka Arduino Verkstad di Jakarta, akhir 2013 lalu (20/11-01/12). Sebanyak 15200 LED yang dikelompokkan menjadi 3800 grup dalam sekitar 1900 lentera, digelar di komplek Stadion Gelora BK Senayan, Jakarta. Sebagai prosesor pengontrol digunakan 40 papan sirkuit Arduino Mega, dengan shield (papan I/O) yang khusus desain untuk menangani komunikasi dengan bohlam LED. Untuk merealisasikan proyek tersebut dibutuhkan banyak pekerjaan manual yang dikerjakan secara gotong royong oleh komunitas Arduino internasional.



Video versi penuh dapat disimak disini (YouTube)

Rabu, 30 April 2014

Internet of Things: Sistem Pemantau Banjir Dari dan Untuk Warga Oxford

Oxford Flood Network adalah proyek sain swadaya warga dengan tujuan untuk membangun sistem pemantau banjir di wilayah perairan setempat. Hal ini merupakan sebuah contoh aktivitas bagaimana masyarakat menjadi lebih terhubung dengan lingkungannya melalui Internet of Things (IoT), setelah banjir merundung Inggris sejak akhir tahun 2013.



Otak di balik proyek tersebut adalah Ben Ward, pendiri usaha startup Love Hz di Inggris. Perusahannya mengkhususkan diri dalam bidang jaringan sensor nirkabel, perangkat keras dan lunak open-source yang murah untuk digunakan memonitor tingkat air di wilayah banjir di Oxford, Inggris.

Ward merancang sensor yang murah, sekaligus mudah untuk dibangun dan di-instal oleh warga, sementara data yang dihasilkan dapat di publikasikan secara terbuka, sehingga siapapun dapat menggunakannya untuk membantu meningkatkan kepekaan dalam penyampaikan peringatan darurat, disamping untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik terhadap lingkungan dan ekosistem.

Setiap sensor dirancang untuk berfungsi di bawah jembatan atau emperan di atas air. Perangkat sensor dibangun berupa sebuah pengintai ultrasonik yang mengirimkan "ping" seperti halnya gelombang echo yang dipancarkan oleh kelelawar untuk menentukan (jarak) tingkat air dengan interval sekali setiap lima menit.

Jaringan yang memungkinkan sensor ini untuk berkomunikasi adalah dengan memanfaatkan celah yang masih kosong diantara dua saluran TV. Celah yang lazim disebut sebagai "TV White Spaces" atau TVWS ini, merupakan standar teknologi nirkabel terbuka "Weightless" yang sedang diusulkan untuk pertukaran data antara base station dan ribuan mesin IoT yang ada disekitarnya di sekitarnya.

Menurut Ward, Oxford Flood Network telah menciptakan sebuah cetak biru bagi masyarakat dalam membangun jaringan sensor mereka sendiri dan secara gotong royong menanggapi masalah-masalah yang terjadi disekitar mereka sendiri.

Rancangan perangkat open source dapat dipelajari lebih lanjut di OxFloodNet.co.uk, termasuk di lumbung penginangan proyek sumber terbuka Github.


Kamis, 24 April 2014

E-Volo: Biarpun Macet dan Banjir, Multicopter Tetap Berlalu

Perusahan Startup E-Volo asal Karlsruhe Jerman barangkali yang pertama kali berhasil merealisasikan taksi udara menggunakan Multicopter berawak. Helicopter tenaga listrik atau Multicopter berbaling-baling 18 buah ini, dikemudikan tidak sesulit dan harganya pun juga tidak semahal sebuah helikopter biasa. Volocopter dapat dikendalikan jauh lebih mudah dan dengan biaya operasi jauh lebih murah.



Multicopter berawak besutan E-Volo asal Karlsruhe telah menjadikan impian atas keberadaan armada taksi udara sebuah kenyataan dalam waktu tidak lama lagi. Volocopter tipe VC-200 yang saat ini dikembangkan E-Volo, dirancang dengan kapasitas dua-seater untuk penerbangan jarak pendek di dalam kota.

Keuntungan besar dari Volocopters kecuali jauh lebih mudah untuk diterbangkan dibandingkan sebuah helikopter termasuk, pengemudi hanya perlu SIM pilot sport saja dengan pendidikan pilot yang lebih pendek dan lebih murah. Dengan motto "Biarkan Anjing Menggonggong, Kafilah Tetap Berlalu" misalnya, pemilik Volocopter mudah menyiasati masalah kemacetan maupun banjir di Jakarta.

Volocopter berikut awaknya berbobot sekitar 450 kg. Batere dengan berat 90 kg yang ditanamkan didalamnya, pada saat ini hanya cukup untuk penerbangan selama 20 menit. Pengembangnya Stephan Wolf dan Alexander Zosel menargetkan peningkatan dengan optimasi, dan nantinya menjadi sampai dengan satu jam. Agar pesawat tetap ringan, seluruhnya dibuat dari serat karbon dan pesawat VC-200 ini telah berhasil melakukan penerbangan perdananya dengan sukses akhir tahun lalu. VC-200 ditenagai dengan 18 rotor berbaling-baling. Seperti pada Multicopter mainan, sebuah baling-baling ekor yang biasanya ditemukan pada helicopter tidak diperlukan untuk sebuah Volocopter, karena untuk memutar pesawat hanya perlu mengatur kecepatan baling-baling secara berbeda sesuai dengan arah yang diinginkan. Pengendalian dilakukan hanya dengan joystick. Jika tongkat kendali (joystick) tidak disentuh, secara otomatis Volocopter bertahan pada ketinggian yang sama. Komputer juga mampu secara otomatis mengatur kestabilannya bila salah satu dari baling-baling tidak berfungsi. Volocopter dapat diterbangkan dengan ketinggian maksimum 2000 meter dan kecepatan tempuh sampai dengan 100 km/jam.

VC 200 mulai dibangun setelah dana sebesar lebih dari dua juta euro digelontorkan oleh Kementerian Ekonomi dan Teknologi Federal Jerman (BMWi)  pada pertengahan tahun 2012.

Volocopter VC-200 First Flight

Volocopter: 18 Propeller Electric Helicopter Takes Flight

Sabtu, 12 April 2014

Raspberry Pi Compute Module: Modul Baru Raspberry-Pi Untuk Aplikasi Industri

Yayasan Raspberry Pi Foundation mengungkapkan versi baru dari keluarga platform Raspberry Pi yang utamanya ditujukan untuk digunakan sebagai perangkat aplikasi industri. Disebutkan sebagai "Raspberry Pi Compute Module," produk baru ini pada prinsipnya menempatkan semua fungsi inti Pi ke sebuah papan rangkaian dengan format ukuran sebuah modul memori laptop, dan dapat dipasang di papan khusus seperti papan IO (Input/Output-Board) yang juga telah diungkapkan, untuk menampung modul tersebut.

Gambar-1: Modul Komputasi (kiri) dan Motherboard IO (kanan)

Modul Raspberry Pi dengan ukuran tidak lebih dari 6.76 x 3 sentimeter itu, rencananya akan dikirim pada bulan Juni. Raspi kecil memberdayakan prosesor SoC tipe Broadcom BCM2835 yang dilengkapi bersama memori 512 MB RAM. Yang baru disini adalah memori flash sebesar 4 GB, yang juga diintegrasikan pada modul yang sama.

Sesunguhnya Raspberry Pi modul ini sendiri hanya memiliki satu konektor SODIMM DDR2 seperti yang juga digunakan pada modul RAM untuk notebook. Menggunakan motherboard berupa papan IO (dokumen PDF), yang memperperluas jangkauan ke dunia luar, set modul ini menyediakan sejumlah antarmuka yang beragam: Port antarmuka dari set Raspberry Pi adalah termasuk output HDMI, tiga port USB (1x USB 2.0 host tipe A, 1 x Micro USB 2.0 dan konektor micro-USB lain untuk power supply) dan dua lajur pins konektor GPIO dengan total 200 pin. Kecuali itu, motherboard ini memiliki dua display port DSI dan dua koneksi kamera-CSI. Jack audio RCA 3,5 mm, sementara koneksi video komposit seperti pada Raspberry Pi sebelumnya, kini tidak ada lagi.

Mendukung open source, Raspberry Pi Foundation telah merilis skema, baik untuk Modul Compute dan papan IO, dan menjanjikan dokumentasi tambahan dalam beberapa minggu mendatang. Pengembang Raspberry-Pi menanggapi sejumlah kritik dimasa lampau yang menyebutkan bahwa Pi adalah tidak open source seperti halnya pada sejumlah papan perangkat keras sejenisnya (Arduino misalnya), dan pada hari jadi tanggal 28 Februari lalu, yayasan Raspberry Pi mengumumkan bahwa Broadcom akhirnya telah merelakan dokumentasi lengkap untuk GPU VideoCore IV besutan mereka, disamping merilis kode sumber selengkapnya untuk stak grafis dan membebaskannya dibawah lisensi BSD klausul-3. Selanjutnya pendiri yayayasan dan penggagas Pi, Bapak Eben Upton pada kesempatan ultah Raspi tersebut menegaskan: "The success of the Pi has allowed us to make substantial financial contributions to a range of open-source projects, including XBMC, libav, PyPy, Pixman, Wayland/Weston, Squeak, Scratch, and WebKit."

Gambar-2: Perbandingam ukuran Modul (ukuran SODIMM) dan Raspi (ukuran Kartu Nama)

Rangkuman spesifikasi, ibaratnya buah mangga yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, set papan ini juga memiliki spesifikasi yang serupa dengan papan Raspberry-Pi yang telah beredar sebanyak 2.5 juta buah:

  • SoC - ARM 11 prosesor Broadcom BCM2835 @ 700 MHz dengan VideoCore IV GPU 
  • Memori Sistem - 512MB RAM 
  • Storage - 4GB eMMC flash 
  • SoM Connector - DDR2 200-pin SODIMM 
  • Dimensi-papan utama 67.6x30mm yang kompatibel dengan konektor SODIMM DDR2 standar (memori pada sistem laptop).


Bagi mereka yang memiliki ide untuk membangun perangkat untuk dibuat secara masal atau untuk memenuhi proyek tertentu dalam jumlah yang cukup banyak dan dalam waktu yang relatif singkat. Modul ini merupakan salah satu produk yang tepat (selama kinerja Pi tersebut memenuhi spesifikasi yang diminta), karena aplikasi dapat dikembangkan di platform Raspberry-Pi yang sudah tersedia dimana-mana, dan memanfaatkan segala perkakas yang dimiliki ekosistem Linux. Kecuali itu ekosistem Pi yang menganut pemahaman sumber terbuka, seyogyanya turut memberikan kemudahan untuk mendapatkan bantuan dari anggota komunitas Raspi lainnya, yang sangat aktif di seluruh permukaan bumi. "Saatnya untuk beralih dari negara konsumen untuk menjadi negara produsen."

Kamis, 10 April 2014

Proyek Coco Cloud Satukan dan Amankan Komputasi Awan di Langit Uni Eropa

Untuk memastikan agar pengguna Cloud aman dalam berbagi data, Komisi Uni Eropa (European Commission, EC) telah meluncurkan proyek Coco Cloud. Proyek Coco Cloud didanai oleh Komisi Eropa dan bertujuan untuk menciptakan kerangka kerja yang efisien dan fleksibel untuk transaksi "rahasia dan komplian" (confidential and compliant atau Coco) di awan.



Konsorsium yang bekerja untuk proyek Coco, sementara ini dipimpin oleh anak perusahan HP Italia dan didukung antara lain oleh partisipasi dari SAP, Universitas Oslo dan Atos. Tujuan utamanya adalah untuk menciptakan praktek terbaik (best practice) dalam berbagi dan pengolahan data di awan, terutama dalam kaitannya dengan perjanjian (kontrak) antara penyedia layanan cloud (awan) dan konsumen, dimana dipastikan adanya pendekatan pada "kepatuhan secara desain" (compliance by design) pada praktek menggunakan platform berbasis cloud.

Konsorsium juga diharapkan dapat memberikan solusi end-to-end yang menjembatani antara lumbung data (repository) dan perangkat milik pengguna, baik yang bergerak (mobile) maupun tetap (fixed). Baik dalam penyimpanan, berbagi maupun dalam mengakses data  dengan aturan yang ditetapkan oleh masing-masing pengguna, dan dilakukan dengan cara yang aman.

Program ini berhasil mendapatkan perhatian yang serius, hanya beberapa minggu setelah Parlemen Uni Eropa menentukan draft akhir untuk mengadopsi kebijakan pada reformasi perlindungan data, yang telah diluncurkan Komisi Eropa berupa peraturan tunggal perlindungan data yang berlaku di semua negara anggota Uni Eropa.

Untuk mempermudah penyampaian layanan dengan risiko operasional yang rendah, disamping mengoptimalkan beban kerja lintas semua penyedia layanan komputasi awan, dikutip dari siaran pers yang disebarluaskan pihak HP akhir Maret 2014 lalu, kerangka Coco Cloud akan mengadopsi HP CloudOS yang berlandasan pada teknologi sumber terbuka OpenStack® dan diklaim dapat diselenggarakan secara fleksibel, terbuka dan aman.


Gambar: Member Konsorsium Coco Cloud

Jumat, 28 Maret 2014

Intel Terbitkan Buku Membahas Android Pada Platform X86

Intel dan Apress bekerja sama terbitkan buku setebal 380 halaman tentang "Android on x86: Pengantar Untuk Mengoptimalkan Pada Arsitektur Intel" baik berupa edisi cetak (berbayar) maupun ebook yang dapat diunduh bebas biaya alias gratis. Buku ini ditargetkan sebagai referensi dan panduan dalam satu atap untuk meberikan pencerahan dalam pemrograman aplikasi Android menggunakan platform x86.



Berdasarkan keterangan yang disampaikan Intel, ada beberapa soal teknis yang berbeda dalam mengembangkan aplikasi Android pada prosesor x86 seperti Atom, namun sekali Anda mengerti dan menguasai "nuansa" lingkungan ini, maka semuanya menjadi lebih mudah dari pada yang Anda bayangkan sebelumnya.

Buku yang dalam bahasa Inggris berjudul "Android on x86: an Introduction to Optimizing for Intel Architecture" ditulis oleh Iggy Krajci, seorang insinyur perangkat lunak dari Cummings Engineering, dan Darren Cummings, pendiri dan CEO perusahan tersebut. Pemaparan dimulai dengan membuat kasus bisnis menggunakan x86 pada perangkat Android. kemudian dilanjutkan dengan menuntun pembaca melalui proses menginstal SDK Android untuk Arsitektur Intel, seraya mengeksplorasi perbedaan antara arsitektur prosesor x86 dan ARM.

Pada saat ini, port Android pada x86 sudah dianggap cukup matang, kendati disana-sini masih diperlukan beberapa optimasi untuk membuat aplikasi yang Anda buat menjadi cemerlang. Tips untuk mengoptimasi juga disediakan bersama kode asli-nya (native), termasuk untuk akselerasi hardware, dan penyempurnaan pada aplikasi multimedia.

Disamping itu, buku ini juga membahas perangkat lunak yang dibutuhkan, dan langkah-langkah pemrograman, termasuk optimasi pada C++. Pada bagian lebih lanjut ditunjukkan bagaimana caranya membuat dan melakukan port untuk aplikasi Android, melakukan debug pada aplikasi x86, dan bekerja menggunakan Android NDK (Native Development Kit). Buku ini juga sekaligus memperkenalkan hypervisor pada Intel Hardware Accelerated Execution Manager (Intel HAXM).

Daftar Isi
Bab 1: History & Evolution of Android OS
Bab 2: Mobile Device Applications – Uses and Trends
Bab 3: Why x86 on Android?
Bab 4: Android Development – Business Overview and Considerations
Bab 5: Android Devices with Intel Processors
Bab 6: Installing the Android SDK for IntelApplication Development
Bab 7: The Intel Mobile Processor
Bab 8: Creating and Porting NDK-based AndroidApplications
Bab 9: Debugging Android
Bab 10: Performance Optimization for AndroidApplications on x86
Bab 11: x86 NDK and C++ Optimizations
Bab 12: Intel Hardware Accelerated Execution Manager

Untuk mengunduh versi elektronik tanpa biaya baca keterangan disini, atau langsung disini bila juga ingin membeli versi cetaknya.

Rabu, 19 Maret 2014

Android Wear: Google Sediakan SDK Kembangkan Aplikasi Perangkat Wearable

Google ungkapkan proyek baru Google Android Wear, disamping menyediakan SDK untuk memudahkan pengembangan aplikasi pada perangkat Android yang dikenakan (wearable), seperti pada jam tangan pintar smartwaches dan pelacak kebugaran (fitness trackers).



Software aplikasi Android nantinya akan meluas ke semua perangkat dikenakan, namun Google memulainya dari perangkat yang telah umum dikenal seperti jam tangan atau alroji pintar (smartwatches). Untuk itu, pada saat ini paling tidak telah tersedia dua alroji pintar yang akan ditenagai sistem operasi Android untuk dijadikan mitra awal dalam pengembangan aplikasi Android Wear, menggunakan kit SDK Android yang disediakan.

Dua mitra Hardware awal tersebut, adalah Motorola dan LG yang juga telah mengungkapkan niat mereka, segera meluncurkan smartwatches mendukung konsep Android Wear. Moto 360 besutan Motorola memiliki fitur modis dan penampilan seperti jam tangan analog tradisional, dan siap menerima perintah "suara" dari penggunanya. Sebaliknya, jam tangan pintar besutan LG G Watch menawarkan layar persegi yang ramping seperti halnya pada smartwatches dari produsen lain. Kedua jam tangan dijanjikan akan hadir dipasar pada pertengahan 2014.

Seperti Apple Siri, perangkat ini juga memiliki fitur sebagai asisten pribadi cerdas dengan fitur Google Now, yang sudah dikenal pada perangkat mobile, desktop, dan perangkat wearable lainnya. Android Wear dapat mengendalikan smartwatch Anda dengan misalnya mengatakan "Ok Google !", kemudian mengajukan pertanyaan atau meberikan perintah selanjutnya dengan suara. Pengguna juga dapat mengendalikan perangkat lain seperti smartphone atau Chromecast melalui jam yang dibalutkan di pergelangan tangan Anda.

Dengan ketersediaan kit SDK, Pengembang sekarang dapat mulai menjahit atau membangun aplikasi mereka yang khusus di targetkan untuk digunakan di perangkat wearables.


Sabtu, 08 Maret 2014

Lighting-as-a-Service: Philips dan Ericsson Tanamkan BTS pada Lentera

Seiring dengan meningkatnya pengguna perangkat nirkabel, terutama di wilayah perkotaan, tidak jarang beban jaringan berlebihan. BTS yang dipasang langsung dijalanan akan sangat membantu. Untuk hal itu, Philips dan Ericsson rencanakan konsep "sekali tepuk dua lalat".



Berdasarkan rencana yang diungkapkan kedua fabrikan tersebut, mereka ingin memanfaatkan lampu LED jalanan untuk di-integrasikan dengan perangkat BTS mendukung sel-sel kecil. Hal itu diungkapkan oleh bos Ericsson, Hans Vestberg di ajang Mobile World Congress di Barcelona baru-baru ini.

Penyediakan layanan komunikasi mobile biasanya memasang antena nirkabel mereka pada sebuah menara atau diatas gedung atau pada tembok gedung. Terutama di kota-kota besar, dimana jumlah pengguna perangkat mobile meningkat secara drastis dan keterbatasan lahan untuk menempatkan antena menjadi semakin sulit.

Ericsson dan Philips rencananya akan membangun lentera dengan antena tertanam di wilayah Amerika pada tahun ini, mengantisipasi adanya masalah kapasitas untuk operator seluler cukup akut. Lentera yang dibangun nantinya dilengkapi dengan lampu LED yang hemat enerji dan Base Station intern Micro, yang menawarkan LTE atau HSPA. Berkat adanya penghematan enerji, maka investasi untuk konversi diperkirakan sudah balik modal dalam kurun waktu sekitar delapan sampai sepuluh tahun. Produk bersama Ericsson dan Philips ini juga ditawarkan sebagai layanan perkotaan dengan judul Lighting-as-a-Service.

Minggu, 02 Maret 2014

OpenKnit: Rajut Sweater dari Berkas Digital

Digitalisasi pencetakan pakaian kini semakin dekat menjadi sebuah kenyataan. OpenKnit adalah mesin pencetak open-source dengan biaya rendah yang bisa merajut "sweater" langsung dari file digital yang mengandung data disain pakaian yang akan dirajut.



Dalam waktu sekitar satu jam, mesin tenun digital yang di-ilhami oleh proyek RepRap (kelompok pencipta 3D-Printer Open Source) ini dapat merajut bahan baku mulai dari benang menjadi produk akhir berupa sehelai sweater. Peluang merancang dan memproduksi pakaian digital siap pakai yang dapat dilakukan di tempat yang sama kini dimungkinkan, dan memberi keuntungan bagi pengguna terutama para perancang pakaian untuk mencetak contoh disain langsung dari file (.STL), baik rancangan sendiri atau pun diunduh dari internet. Dalam hal ini, jarum perajut menggantikan peran dari extruder pada pencetak 3D.

Pada tahap pengembangan saat ini, OpenKnit masih belum sepenuhnya otonom. Sebagaimana ditunjukkan video yang diposting sang pencipta Gerard Rubio, masih terlihat perlunya bantuan manual selama berlangsungnya proses merajut. Target terakhir adalah sebuah mesin yang dapat mengambil file .STL dan langsung merajutnya sampai jadi.

Kecuali itu OpenKnit dapat juga mengolah berkas dari mesin rajut lain bernama Knitic, yang juga bekerja mirip dengan OpenKnit namun tidak menggunakan jenis File .STL.

OpenKnit adalah hasil proyek open-source, yang berarti bebas berbagi desain dan kode sumber software dengan publik, dan mendorong agar siapa saja melakukan memodifikasi dan meningkatkannya. Rancangan perangkat OpenKnit disimpan dan dapat dari situs lumbung proyek Github. Rubio juga menyebutkan biaya pembuatan mesin yang memberdayakan kontroler mikro Arduino ini, yaitu kurang dari 550 Euro atau sekitar $ 750 USD.



Menurut Rubio, OpenKnit ini dirancang untuk memberikan alternatif model produksi industri terhadap sebagian besar pakaian komersial dimasa mendatang, disamping memberikan pengguna hak kendali yang lebih fleksibel terhadap pakaian yang mereka kenakan.

Minggu, 02 Februari 2014

Printer 3D: Cetak Rumah Dua Lantai Dalam Satu Hari

Banyak yang yakin bahwa disamping IoT yang tersambung didalam jaringan komunikasi M2M dan pencetakan 3D, perlahan akan mempengaruhi kehidupan manusia dimasa mendatang, atau dalam beberapa hal telah terjadi dan mungkin terjadi dalam waktu dekat. Peran pemikiran Open Source yang berkembang dengan bantuan Internet, telah menjabarkan demokrasi terhadap penyampaian Ilmu Pengetahuan ke masyarakat skala global. Hal ini merupakan salah satu faktor yang menjadi penyebab derasnya alih teknologi, ide, dalam mencipatakan produk-produk baru yang lebih efisien, lebih ramah lingkungan, dan dalam waktu yang lebih singkat. Salah satunya, adalah upaya para ilmuwan yang saat ini bekerja berdasarkan ide pencetakan (printer) 3D.



Rumah yang layak merupakan kebutuhan vital umat manusia, yang pada saat ini tidak terjangkau untuk semuamya. Dibandingkan dengan produk industri manufaktur, termasuk otomotif yang jauh lebih rumit, perumahan masih harus dibangun secara manual dan membutuhkan sumber daya dan waktu yang lama. Salah satu solusinya adalah pencetakan 3D.

Dalam penelitian yang saat ini sedang berlangsung, sebuah rumah dua lantai dapat dicetak dalam kurun waktu 24 jam, menggunakan sebuah printer 3D raksasa. Cara yang sama mungkin nantinya diterapkan dalam membangun perumahan di Mars, saat pada umat manusia bermigrasi ke planet tersebut.

Seiiring dengan kemajuan teknologi, konsep printer 3D senantiasa ditularkan ke wilayah-wilayah baru. Teknologi ini digunakan untuk membuat segala benda tiga dimensi, mulai dari makanan, sepatu, komponen industri, suku cadang dan apa saja yang dimungkinkan, selaras dengan kemajuan teknologi. NASA juga sedang menyiapkan printer 3D yang recananya dikirim tahun ini ke stasiun angkasa luar untuk digunakan mencetak suku cadang yang sesuai dengan kebutuhan di angkasa luar. Bahkan rumah-rumah yang seluruhnya dicetak akan segera muncul, dibuat menggunakan teknologi cetak 3D. Hal terakhir sudah lama merupakan visi Behrokh Khoshnevis, seorang profesor di University of Southern California.



Selama bertahun-tahun Khoshnevis bekerja pada metode pencetakan yang disebut "Contour Crafting", yang telah memenangkan penghargaan "Hall of Fame" sebagai penemu dan juga penghargaan dari badan antariksa NASA. Menggunakan metode yang diciptakan sang profesor, di masa depan dimungkinkan untuk mencetak dengan "tinta" atau bahan baku beton untuk membangun sebuah rumah, lapis demi lapis.

"Saat ini banyak hal yang dibuat secara mekanis dan otomatis, jadi mengapa tidak juga untuk seluruh bangunan ?", kata Khoshnevis dalam kesempatan berbicara di platform Rt.com. Metodologi dan proses pencetakan tidak jauh berbeda dari printer 3D biasa, namun dimensinya yang menjadi jauh lebih besar. Untuk memulai pencetakan rumah, diperlukan area yang diratakan dan luasnya memungkinkan untuk memasang printer 3D raksasa tersebut. Setelah langkah ini dilakukan, pencetakan struktur rumah dapat diselesaikan hanya dalam 24 jam.

Walaupun sekarang masih sebuah mimpi, tapi Khoshnevis memiliki rencana jauh kedepan: "Metode saya juga bisa digunakan di ruang angkasa, misalnya untuk membangun perumahan bagi koloni manusia di Mars atau di Bulan," kata sang profesor.



Di Eropa, tepatnya di negara kincir angin Holland, juga telah memiliki niat serupa. Perusahaan arsitektur asal Belanda DUS menggunakan teknologi cetak 3D untuk membangun rumah tradisional Grachtenhaus pada sebuah kanal di Amsterdam. Untuk itu diberdayakan versi besar dari printer open source Ultimaker. Sebagai bahan baku disini digunakan bukannya beton, melainkan plastik daur ulang yang keras. Namun, tercermin dari karakter orang Belanda yang lebih santai, rumah yang terdiri dari 12 kamar tersebut mulai dicetak sejak bulan April tahun lalu, dan rencananya baru akan rampung dalam tahun ini.

Dalam rencana, arsitek Janjaap Ruijssenaars asal Amsterdam, Belanda juga mengungkapkan niatnya untuk membangun rumah yang "tidak ada ujung dan pangkalnya" seluas 12.000 kaki persegi, menggunakan mesin cetak 3D raksasa.

Selasa, 07 Januari 2014

Edison: Komputer Kecil Sebesar Kartu-SD Dari Intel

Setelah peluncuran Quark SoC di IDF empat bulan lalu, Intel kini hadirkan Edison di ajang CES 2014. CEO Intel Brian Krzanich memperkenal Edison dalam sambutannya pada malam CES di Las Vegas. Prosesor dual-core yang anyar ini diproduksi dengan proses teknologi 22nm dan menurut Krzanich adalah termasuk prosesor kelas Pentium. Dalam ukuran kartu SD, komputer ini telah mengandung fitur WLAN dan Bluetooth 4.0. Edison ditenagai sistem operasi Linux dan rencananya memiliki App Store. Bekerja sama dengan Wolfram, nantinya dapat menggunakan bahasa pemrograman Wolfram dan Mathematica.



Saat ini Edison ditargetkan untuk pengembang, dan untuk itu Krzanich berharap agar digunakan pengembang untuk membangun divais terhubung dan perangkat wearable generasi mendatang. Meski semikian, Intel saat ini telah menunjukkan contoh aplikasi "Nursery 2.0", berupa produk yang menggunakan SoC Edison tertanam dalam mainan untuk bayi yang melaporkan parameter vital bayi melalui jaringan nirkabel, dan dapat memicu pemanas susu ketika bayi menangis. Sensor yang dikenakan di pakaian bayi dapat mengukur panas, termasuk kondisi pernapasan dan detak jantung bayi tersebut.

Intel menyadari bahwa pengembang membutuhkan lebih dari sebuah contoh yang baik untuk memotivasi mereka. Untuk itu, perusahaan telah mengumumkan kompetisi "Make it Wearable", yang menawarkan hadiah hingga 1,3 juta dollar untuk pengembang yang memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan produk wearable.


Senin, 09 Desember 2013

Raspberry Pi Jawara Produk Open Source Terbaik 2013

Para pembaca majalah AS Linux Journal telah menobatkan Raspberry Pi sebagai jawara: "Produk Open Source Terbaik Tahun 2013". Sementara menyikapi proyek Gnome 3 sebagai ide open-source terburuk yang dicetuskan tahun-tahun lalu.

Disamping itu, komputer kecil Raspberry Pi juga memenangkan dua kategori lainnya. Penolakan pembaca terhadap Gnome 3 sangat jelas merupakan desktop terburuk pada tahun 2013. Kecuali itu, peringkat berikutnya yang dinobatkan sebagai sebuah ide buruk adalah pembuatan sebuah distro baru. Untuk hal itu, komunitas pembaca Linux Journal akan lebih menyukai apabila sumber daya digunakan untuk membuat aplikasi baru dari pada membuat distro baru. Walaupun Ubuntu tetap memiliki popularitas yang tinggi disamping Debian, namun bagaimanapun juga, keberadaan Unity yang digunakan sebagai desktop default, tidak luput dari banyak kritikan.

Walaupun survei ini tidak representatif apabila digunakan sebagai acuan yang serius, terutama karena tidak menyebutkan angka yang pasti untuk jumlah peserta jajak pendapat, namun hasil yang diumumkan, paling tidak dapat mencerminkan hal yang sama, seperti yang banyak dilontarkan oleh komunitas open-source akhir-akhir ini. Dalam proses pemilihan, para pembaca Linux Journal diberikan pilihan sebanyak total 57 kategori yang dapat dicontreng sebagai favorit masing-masing, dari sebuah daftar dengan serangkaian perangkat keras dan perangkat lunak.

Raspberry Pi (Raspi) telah mengantongi 3 kali posisi Top dan terpilih tidak hanya sebagai produk open source terbaik, tetapi juga sebagai proyek baru terbaik dan juga sebagai gadget terbaik. Dalam kategori "Gadget Terbaik" Raspi mendapatkan porsi sekitar dua-pertiga suara, yang disusul tempat kedua oleh Chrome Cast besutan Google, diikuti oleh Amazon e-book reader Kindle DX, kemudian oleh papan pengembang prototipe BeagleBoard. Sementara itu, dalam kategori "Produk Terbaik" yang setuju untuk membeking Raspi adalah sekitar sepertiga peserta, diikuti oleh Jolla Sailfish OS yang berhasil mengantongi sekitar 20 persen suara. Sementara sistem operasi mobile Firefox OS, dan desain smartphone Ubuntu Edge dari Canonical berjejer menempati posisi ketiga dan keempat.


Sabtu, 30 November 2013

86Duino Zero: OSHW Kompatibel Arduino Jalankan Linux

Open Source Hardware (OSHW): 86Duino Zero didasarkan komputer papan tunggal Vortex86EX system-on-chip (SoC) ditawarkan dalam format yang kompatibel dengan keluarga sistem prototyping Arduino. Ditenagai oleh prosesor dengan arsitektur x86 memungkinkan dengan cepat menjalankan platform dari dunia PC, seperti Linux, DOS dan Windows, serta sejumlah sistem operasi real-time 32-bit lainnya. Agar secara mekanis dan elektris dapat diselaraskan dengan format Arduino, papan CPU tipe Vortex86EX SOM-128-EX ditunggangkan diatas papan penyelaras yang mengandung beberapa sirkuit di sekitarnya, agar keseluruhannya memenuhi signaling dan dimensi mekanik yang di syaratkan Arduino.



Prosesor 32-bit yang ditanamkan di 86Duino Zero tersebut dipacu dengan clock 300 MHz dan memiliki akses ke 128 MB memori RAM tipe DDR3. Spasi untuk sistem operasidisimpan di 8 MB flash memory on board, yang dapat ditanamkan, selain Linux juga DOS, Windows Compact 7.0, QNX dan VxWorkx.

Dimensi komputer kecil ini, seperti saudaranya Arduino Uno atau Leonardo (6.86 cm x 5,3 cm) dan menyediakan colokan antarmuka Ethernet, port USB 2.0, slot untuk kartu MicroSD dan bus PCIe. Seperti pada Arduino Uno, saudara barunya 86Duino Zero ini menyediakan sambungan analog enam pin dengan resolusi 11 bit, lebih akurat dari pada Arduino yang hanya mendukung 10 bit. 86Duino Zero juga menyediakan 14 pin digital, yang digunakan antara lain untuk tujuh modulasi pulsa lebar atau 'puls wide modulation' (PWM) dengan resolusi 32 bit, sementara saudaranya Uno hanya enam pin digital dengan resolusi 8 bit.

Aplikasi yang dibidik pembuatnya DM&P disebutkan untuk proyek robotika. Dalam bentuk lain akan dijanjikan dalam waktu dekat varian dari produk ini berupa kartu 86Duino One dan juga sebuah MiniPC diberi nama 86Duino Educake. 86Duino One disebutkan memiliki 45 digital (11 dengan dukungan PWM) dan tujuh pin analog yang mirip dengan Arduino mega atau Due.

Sementara itu, Educake menyediakan dua port USB, port COM, satu slot SD card, input mikrofon dan output audio, di samping 45 digital dan tujuh pin analog. DM&P mengemas produk ini dalam satu kotak munggil yang mengintegrasikan papan bread-board untuk memungkinkan pengguna, pelajar atua mahasiswa melakukan eksperimen elektronik, tanpa perlu memanaskan besi solder.



Tentang 86Duino:
86Duino adalah platform open-source embedded yang didasarkan pada Vortex86EX SoC, hardware yang mudah digunakan dengan software yang terintegrasi. Papan yang kompatibel dengan Arduino ini, mendukung banyak sistem operasi dari arsitektur x86, maupun sistem yang berjalan di basis aslinya Arduino.

Kamis, 14 November 2013

Kit Touch Board dan Arduino, Jantung Sensor Sentuh dan Cat Konduktif

Penginderaan kapasitif dapat digunakan tidak hanya pada smartphone Anda. Untuk memicu semua jenis sirkuit, juga dapat menggunakan permukaan konduktif apa saja, bahkan dapat menggunakan kontak melalui kulit manusia. Touch Board, sebuah proyek OSS (Open Source Software) dan OSHW (Open Source Hardware) dari Bare Conductive, ingin mendukung semangat DIY Anda dengan menyediakan kemampuan untuk mengubah hampir semua permukaan menjadi sensor penginderaan.



Intinya adalah berupa sebuah mikrokontroler yang kompatibel atau langsung disatukan dengan papan SBC Arduino tipe Leonardo, berikut beberapa tambahan yang ditanamkan di dalamnya, termasuk sensor sentuh menggunakan komponen Freescale yang terhubung ke 12 elektroda dan prosesor audio untuk memicu suara MIDI atau file MP3.

Untuk menjalankannya, Anda dapat memicu elektroda dengan menyentuh mereka atau menghubungkan mereka ke berbagai bahan konduktif, seperti kawat dan lainnya, termasuk pena cat elektrik, yang semuanya membuka segala kemungkinan untuk digunakan sebagai input. Cat seperti marker ini sering digunakan untuk grafiti skala kecil, mengeluarkan tinta hitam konduktif yang dapat mengubah dinding, selembar kertas atau hampir permukaan benda apa pun menjadi sensor pemicu. MicroSD yang dipasang, misalnya dapat diisi dengan serangkaian sampel suara yang masing-masing dapat dipicu melalui kontroler Touch Board.

Proyek Startup ini dipamerkan di situs pendanaan publik via Kickstarter dan saat ini, melampaui separuh waktu sebelum tenggang waktu pendanaan berakhir, sudah berhasil mengumpulkan lebih dari empat kali lipat target pendanaan minimal yang diharapkan agar bisa diproduksi untuk memenuhi permintaan masyarakat luas, terutama yang ingin memilikinya.

Senin, 04 November 2013

Proyek ARA: Open Smartphone Modular Dari Motorola

Di bawah nama Proyek Ara, saat ini Motorola sedang bekerja dalam pengembangan smartphone modular secara terbuka. Menurut Motorola, tujuannya adalah "membuat perangkat keras untuk mencapai seperti apa yang telah dicapai oleh Android dalam perangkat lunak." Dengan demikian, pada dasarnya Google melalui anak perusahannya ingin menciptakan smartphone yang komposisinya dapat disesuaikan seperti yang diinginkan oleh masing-masing pelanggan. Untuk itu, diduga hak paten Modu yang dibeli oleh Google juga turut memainkan perannya. Berbeda dengan Modu, proyek ini merencanakan seluruh ekosistem, termasuk untuk mengembangkan komponen perangkat keras dari pihak ketiga.



Konsep itu akan memberikan kesempatan kepada pembeli untuk memilih, misalnya  touchscreen dan prosesor apa yang akan dipasang untuk smartphone mereka dengan kapasitas baterai yang disesuaikan. Kecuali itu, juga tipe kamera yang digunakan, ukuran memori internal atau jenis keyboard bisa ditentukan oleh pembeli. Masing-masing komponen tersebut tidak harus hanya datang dari Motorola, tetapi juga bisa berasal dari penyedia lainnya.

Konsep ini sangat mirip dengan ide yang dicetuskan Phonebloks, oleh desainer Dave Hakkens asal negeri Belanda yang diungkapkan pada bulan September 2013. Menurut Motorola, proyek Ara telah berjalan selama satu tahun, kemudian bekerja sama dengan Phonebloks dengan tujuan menggabungkan kedua gagasan proyek mereka.

Dengan demikian, diharapkan tidak terjadi dua konsep smartphone modular berbeda secara paralel. Sebaliknya, Motorola ingin menyatukan kapasitas dari pengembang lainnya, untuk memungkinkan smartphone modular menjadi sebuah kenyataan.

Dasar konsep proyek Ara adalah "endoskeleton (endo) dan modules", yang oleh Motorola disebut Endo dan pada prinsipnya merupakan dasar atau basis dari smartphone. Diatas Endo kemudian dapat dipasang atau di cantolin modul-modul untuk membangun sebuah smartphone yang lengkap. Menurut Motorola, modul tersebut pada dasarnya adalah berbagai komponen dengan fungsi apa saja, sehingga memungkinkan dengan mudah semua kategori produk baru dapat dibuat, tanpa batasan. Semuanya hanya tergantung pada ide-ide apa yang diberikan oleh pengembang modul perangkat keras yang dapat diadopsi untuk konsep tersebut.

Layaknya sebuah proyek Open Source Hardware, para relawan dapat mendaftar di www.dscout.com/ara untuk mendukung proyek tersebut. Mereka dapat terlibat dan memberikan gagasan untuk merealisasikan ide-ide implementasinya. Dalam beberapa bulan mendatang para pengembang akan diundang untuk berpartisipasi dalam proyek tersebut. Sementara pada saat ini, Motorola ingin melanjutkan penghimpunan ide-ide.

Pada musim dingin mendatang, direncanakan penerbitan versi alpha pertama sebuah Kit Modul untuk Developer (MDK). Dengan perkakas tersebut, diharapkan para pengembang perangkat keras, akan mampu mengembangkan modul-modul yang kompatibel untuk Ara.

Sejatinya, lima tahun yang lalu sudah ada konsep ponsel modular. Dan dua tahun lalu, Google telah membeli paten Modu yang diduga telah digunakan menjadi basis pendukung Proyek Ara. Gagasan Modu yang dikembangkan oleh perusahan Israel tersebut sejak awal tahun 2011 tidak dapat meneruskannya karena kekurangan dana.



Kamis, 31 Oktober 2013

Lampu Senter Tenaga Air

"Tiada Rotan Akar-pun Berguna" atau tidak ada batere airpun juga jadi, dapat dikiaskan untuk proyek anak sekolahan asal Filipina ini. Proyek DIY "Water Powered Flashlight" yang sederhana tapi bermanfaat dan ramah lingkungan ini dapat menggantikan batere menggunakan air sebagai bahan untuk menghasilkan tenaga listrik sebuah lampu senter.



Kendati telah berfungsi, lampu senter tenaga air ini masih dalam tahap eksperimental, namun menurut penemunya Angelo Casimiro (15 tahun) akan membantu dalam merancang prototipe dengan prospek yang cerah. Seperti serangkaian disain ciptaan Angelo lainnya, cara pembuatannya dirinci panduan berupa panduan bebas sebagaimana layaknya sebuah proyek Open Source Hardware.

Contoh senter buatan Angelo dengan konstruksi satu sel, dapat menyalakan lampu LED secara terus menerus selama 30 menit menggunakan air keran atau air selokan, dan bisa tahan 2 jam bila menggunakan air asin. Anak ABG yang sudah ngoprek sejak balita (umur 4) menambahkan, bahwa kekuatan atau durasi pencahayaan dari lampu senternya bisa menjadi tiga kali lipat kalau ditambahkan sel kedua. Angelo adalah juga anggota "Instructable" sejak lebih dari empat tahun, tempat dimana ia menginangkan sejumlah proyek ciptaannya.

Menyimak cara kerjanya, perangkat eco-friendly ini, sejatinya bukan barang ajaib. Prinsip kerjanya tidak berbeda dengan sebuah batere, yang menghasilkan setrum menggunakan 2 keping elektrolit dari cairan, yang dalam hal ini adalah air. Karena tegangan yang dihasilkan tidak cukup untuk membuat LED bersinar, Angelo menyiasatinya dengan trik "Joule Thief Circuit" atau "Sirkuit pencuri Joule" yang memungkinkan LED menyala pada tegangan rendah.

Dari serangkaian percobaan yang dilakukan Angelo, menggunakan air keran senternya sudah menyala, namun menambahkannya dengan garam, maka lampu LED menjadi lebih bersinar dan yang terbaik adalah bila ditambahkan cuka, dan dengan rasa nano-nano membuat LED bersinar paling terang.

Semua komponen yang diperlukan untuk membangun senter tenaga air ini relativ mudah didapatkan, terdiri dari pipa pralon (3/4 inci), dan sok sambungan pralon, batang tembaga dan zinc dari toko hardware, dan dari toko komponen elektronik berupa transitor tipe NPN, lampu LED, dan beberapa komponan daur ulang misalnya berasal dari bohlam hemat listrik CFL. Keterangan lebih rinci dapat disimak di Instructable.

Sabtu, 12 Oktober 2013

S4A: Sambil Bermain Memrogram Arduino Dengan Scratch

Scratch For Arduino atau S4A memungkinkan pemrograman Arduino lebih mudah lagi secara visual.



Arduino adalah sebuah platform open source untuk prototyping elektronik terdiri dari perangkat keras (Open Source Hardware) dan perangkat lunak (OSS) yang fleksibel, dan cukup mudah digunakan. Sebagai perangkat keras Arduino dikategorikan sebagai sebuah SBC (single-board computer). Arduino dapat digunakan untuk bereksperimen dan pembelajaran untuk menguasai dasar-dasar teknik elektronika, riset dan prototipe untuk pengembangan produk, termasuk untu otomatisasi dan robotik. Pemrograman Arduino yang tersedia bebas di proyek Arduino diakui cukup mudah, namun lebih gampang lagi bila dapat dilakukan secara secara visual menggunakan Scratch.

Scratch adalah sebuah bahasa pemrograman visual berorientasi pendidikan yang memungkinkan pemula untuk mendapatkan hasil, tanpa perlu terlebih dahulu belajar menulis sintaksis yang benar. Anak-anak yang berkreasi menggunakan Scratch dapat bereksperimen dan belajar untuk berpikir kreatif, berkolaborasi dan mengetahui alasannya secara sistematis. Dengan demikian diharapkan, pendatang baru, - khususnya anak-anak dan ABG, - menjadi akrab dengan konsep dasar pemrograman komputer. Software Scratch dikembangkan di MIT Media Lab yang juga mengelola TK "Lifelong Kindergarten group", dapat dijalankan baik di Windows, Mac maupun Linux. Scrath juga dibundel bersama Raspbian Linux sebagai salah satu aplikasi utama untuk dijalankan di platform Raspberry Pi.

S4A, adalah turunan dan bekerja seperti Scratch, namun telah dibekali pustaka pemrograman Arduino untuk menghasilkan kode yang langsung dapat digunakan mejalankan aplikasi pada perangkat Arduino. Ide dibalik SaA adalah menyediakan bahasa visual untuk pemrograman Arduino, sehingga pengguna dapat memahami cara kerja lebih baik pada prototipe yang dikembangkannya. Bagi yang sebelumnya telah berpengalaman dengan pemrograman Arduino, dapat dijadi alat bantu yang menyenangkan sambil bereksperimen, sementara untuk pendatang baru akan memberikan kemudahan dalam upaya memulai belajar pemrograman dan mengetahui lebih baik tentang bagaimana cara Arduino bekerja. S4A dapat diunduh disini.

Jumat, 11 Oktober 2013

arkOS: Gunakan Raspberry Pi Untuk Membangun Cloud Pribadi Anda

Di lingkungan perusahan, dimana layanan Awan semacam "Cloud Computing" saat ini lagi ngetrend untuk dipertimbangkan, tetapi masih banyak yang belum yakin sepenuhnya atau siap untuk memindahkan infrastruktur TI mereka ke awan. Pakar penasihat perusahan seperti Gartner, disatu sisi merumuskan "Embrace Cloud Or Die", namun disisi lain telah menemukan, bahwa "no public cloud is good enough for business". Sudah barang tentu, bagi yang dagangan Awan akan meyakinkan perusahan dengan caranya masing-masing menggunakan teknik marketing dan menawarkan solusi teknologi mereka. Perlu diingat, bahwa "lock-in" yang bisa membuat ketergantungan (ala narkoba) disamping keamanan, adalah faktor-faktor yang paling ditakuti pengguna layanan awan, sehingga solusi Open Source, berupa Awan Pribadi atau Awan Hibrida, barangkali pendekatan yang bisa menjadi salah satu pilihan dalam membangun Awan di lingkungan perusahan.



Tanpa disadari pengguna perangkat TI pribadi-pun, baik berupa PC maupun Smartphone saat ini telah memanfaatkan banyak layanan awan (Cloud services) seperti Gmail, Facebook, Google Drive, DropBox, SkyDrive, dan lainnya untuk menyimpan data pribadi mereka yang sensitif, namun nyaris tidak memiliki hak kendali (kontrol) terhadap proses penyimpanan data atau file pribadi yang mereka telah pasrahkan di awan.

Banyak pengguna perorangan yang merasa memiliki data yang cukup sensitif, dan ingin mendapatkan hak kendali seratus persen atas data mereka, akan mencari solusi yang terjangkau termasuk biaya opersional yang rendah, sementara tetap dapat menikmati kenyamanan seperti pada layanan Cloud publik yang tersedia. Komponen untuk menciptakan hal-hal seperti itu, sejatinya telah tersedia berupa perangkat "Internet of Things" yang dapat meningkatkan gaya hidup, untuk disambungkan menjadi sebuah "Things-as-a-service" atau bahkan "Everything-as-a-service".

Sebuah proyek dari tim yang menamakan dirinya CitizenWeb, saat ini sedang mengembangkan sistem operasi open source arkOS yang dirancang untuk kemudahan membangun host layanan awan pribadi diatas Raspberry Pi, yaitu sebuah komputer berukuran kartu kredit yang mengkonsumsi daya rendah, cukup dari sebuah charger Hape saja. ArkOS adalah sistem operasi berbasis Linux yang dikembangkan Jacob Cook bersama Citizenweb memfasilitasi desentralisasi awan membantu Anda merebut kembali hak kendali dan hak privasi, seraya tetap menjaga kebebasan dan kenyamanan yang dibutuhkan.

Sederhananya, arkOS menggunakan Raspberry Pi (RasPi) akan menjadi sebuah platform untuk hosting pribadi mengakomodasikan konten online Anda sambil memberikan keamanan dan kenyamanan dirumah. Pendayagunaan RasPi dan ArkOS diklaim memecahkan dua hambatan terbesar bagi pengguna pribadi desentralisasi web, yaitu pengetahuan teknis dan biaya operasional. Diakui, bahwa pada prinsipnya Anda dapat menjalankan komputer PC biasa sebagai server berikut sistem operasi Linux yang powerful. Tetapi bagi kebanyakan pengguna, hal tersebut kurang menarik karena untuk itu, mereka harus mempelajari bidang administrasi sistem (sysadmin) agar dapat melakukan konfigurasi dan pengamanan yang pada umumnya harus diketik di terminal berupa perintah baris (command line). Menggunakan PC sebagai Server untuk kebutuhan ini, disamping lebih mahal dan memerlukan banyak waktu untuk mengkonfigurasi dan pemeliharaannya, juga bising dan rakus terhadap token PLN (konsumsi listrik).

Layanan yang direncanakan arkOS adalah fokus pada kemudahan instalasi, konfigurasi dan pemeliharaan agar Anda dapat menjadi tuan rumah dari layanan yang digunakan. Layanan yang dijanjikan pengembang arkOS adalah, termasuk website hosting sederhana, layanan awan pribadi, perangkat lunak jejaring sosial, chatting server atau kedepannya mungkin teknologi web yang lebih canggih. Tiga komponen utama yang nantinya akan menjadi tulang punggung proyek ini adalah: ArkOS, Installer dan sebuah Node Manager. ArkOS dibangun memanfaatkan seratus persen FOSS (Free and Open Source Software) seperti: Web Hosting (nginx, PHP, MySQL, WordPress/Drupal), Email (Postfix, Dovecot), Chat (XMPP), Cloud Services (ownCloud) dan untuk Social Networking (Tent, Diaspora).